Kematian Misterius

62 0 0
                                        

"Malam mencekam itu benar-benar membuatku terganggu. Entah bagaimana aku menjelaskannya. Seseorang mencoba menjebakku. Benarkah? Mereka mencoba membunuhku"

Seseorang datang mengetuk pintu rumahku. Aku terkejut dan langsung bangkit dari ranjang. Ku dengar dari dalam suara angin yang menerjang tanpa ampun. Badai sedang terjadi di luar sana. Suara ketukan pintu malah semakin menjadi-jadi. Tanpa menunggu lagi segera ku bergegas dan menuju ke ruang depan. Dari tirai gorden akuencoba mengintip keluar, memastikan siapa yang mengetuk pintu di tengah malam ini.

Ku lihat seorang pria berjubah hitam, ia tampak kedinginan.

"Apa yang terjadi?" Tanyaku setelah ku bukakan pintu untuknya.

"Juni, ia tergeletak kaku di penginapannya. Sebaiknya kota harus bersegera ke sana." Kata lelaki itu.

Aku menatapnya dalam. Pandangan matanya tidak seperti biasanya. Tentu saja ada sesuatu yang terjadi, kira ku.

"Baiklah."

Segera aku mengenakan jubah dan topiku dan menuju ke penginapan Juni. Walaupun aku sudah berlindung di balik payung besar, tetap saja aku kebasahan. Badai kali ini terlihat lebih garang dari biasanya.

Lima belas menit kemudian kami telah tiba di penginapan Juni. Aku membuka pintu yang tidak terkunci itu dan terlihat Juni tergeletak di lantai.

Segera aku memeriksa kondisinya dan wanita itu sudah tidak bernyawa lagi. Aku melihat ke sekitar ruangan itu untuk memastikan tidak ada orang lain selain kami. Tapi ada keanehan dari jasad Juni. Aku yakin ia mati oleh suatu hal.

"Benny, geledah ruangan ini." Kataku kepada lelaki yang mengetuk pintu rumahku tadi.

Benny mengangguk, sedangkan aku mengambil ponsel dan menghubungi polisi beserta tim medis.

"Apa yang kau dapat?" Tanyaku.

"Ini." Benny menemukan sebuah botol yang di dalamnya berisi tablet. Aku mengambilnya dan mencium botol itu.

"Obat penenang." Kataku.

Tak lama kemudian polisi dan tim medis tiba. Para polisi langsung menggeledah seisi ruangan atas perintah atasan mereka. Sedangkan tim medis memeriksa jasad Juni.

...

Setelah beberapa jam,para polisi dan tim medis akhirnya menghentikan pemeriksaan terhadap Juni. Jenazahnya lalu dibawa ke rumah sakit terdekat. Sedangkan aku dan Benny mengikuti para polisi ke markas mereka.

"Kasus ini sedikit rumit." Kata salah satu polisi berpangkat letnan.

Ia bernama Tiyo, badannya tegap, wajahnya tidak terlalu sangar tapi menunjukkan sikap yang serius. Ia lalu mempersilahkan kami ke ruangannya.

"Apa yang dapat kau simpulkan untuk sementara ini, Jim?" Tanya Letnan Tiyo.

"Seperti yang kau katakan, rumit. Tapi aku yakin dia tidak meninggal dengan sendirinya. Ada sesuatu di balik ini semua." Kata ku.

Letnan menatapku serius. Ia lalu mengambil sebatang rokok dan menikmatinya. Sepertinya ia butuh mendinginkan kepalanya dengan sebatang rokok.

"Tapi setidaknya kita harus menunggu kabar labih lanjut dari tim medis. Baru setelah itu kita mengetahui awal dari kematian Juni." Lanjut ku lagi.

...
Juni adalah seorang tokoh publik figur yang terkenal. Banyak orang yang menyukai sikapnya karena ia adalah wanita yang suka berbicara berdasarkan pemikirannya sendiri.

Apa yang ia sampaikan adalah kebenaran-kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik cahaya hitam.

Ya, kebenaran yang tersembunyi itu seolah menggoyangkan kandang para pejabat korup. Juni berbicara berani tentang segala hal yang tersembunyi.

Hal tersebut membuatnya banyak disanjung oleh orang-orang. Namun tak sedikit pula orang-orang membencinya karena ia berusaha menghancurkan segala niat jahat para pejabat korup.

Atas dasar itu pula Juni beberapa kali mendapatkan ancaman. Beberapa orang dalam bayangan hitam mengancam untuk membunuh wanita itu agar semua tuduhan yang ia alamatkan kepada pejabat-pejabat korup segera menghilang.

Keematian Juni terjadi tepat setelah ia mengeluarkan pernyataan di mana seorang pejabat bernama Yuril, terlibat dalam sebuah kasus korupsi.

Dan tepat tiga hari setelah ia menyatakan pernyataan berbahaya itu, Juni ditemukan tewas di penginapannya.

Saat melihat jasadnya di penginapannya, aku melihat kukunya sedikit membiru. Walaupun pada saat itu belum terlalu jelas warnanya, aku yakin itu adalah tahap awalnya. Dengan kata lain, Juni baru saja tewas dalam lima menit yang lalu.

Dan tanda-tanda dari warna kukunya membuatku yakin jika ia mati karena suatu hal, seperti keracunan.

Namun yang menjadi patokannya adalah, ia tewas tepat tiga hari setelah ia menyatakan pernyataannya itu. Dan seolah membuatku yakin jika ada seseorang di balik tewasnya Juni di penginapannya.

...


Bersambung...

Penantian KebenaranStories to obsess over. Discover now