TIGA TAHUN LALU
***
"AYANG ANGGA!!!!" teriakan menggema di koridor itu membuat kedua cowo yang berjalan ditengah-tengahnya menoleh. Namun tidak dengan yang satunya.
"Ga! Ada ara ga!" ujar Rafa menyenggol lengan cowo yang hanya diam dengan wajah datar.
"Eh anjir itu mantul-mantul!" di sebelah Rafa, Gema ikut berkomentar Ambigu. Sembari melihat kebelakang. Angga menghela nafas sambil terus berjalan dengan cepat, meninggalkan teman-temannya yang tertinggal dibelakang karna jadi berhenti berjalan karna teriakan cewe itu.
"IH ANGGA TUNGGUIN" Ara pun berhenti berlari tepat dimana teman-teman Angga berdiri, mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Udah lah ra! Capek. udah jangan kejar Angga terus! Dia gak bakal ngebales cinta lo. Mending ngejar gua aja, gue pastiin lo bahagia bersama gue" Ara menoleh pada Gema lalu menatapnya ilfel.
"OGAH!" katanya lalu kembali berlari mengejar Angga. Kepergian Ara membuat Rafa tertawa ngakak karna melihat wajah memerah Gema. [Malu]
"Jadi Angga dulu baru dia mau sama lu" katanya sambil tertawa. Gema mendengus lalu berjalan meninggalkan Rafa yang terus saja menertawakannya.
***
"Lo nantangin gue? Baru kelas 7 aja lo belagu banget sih! Berani-beraninya ngomongin gue dibelakang!" Ara mendorong bahu adik kelasnya. di dekat kamar mandi tepat dibelakang kelas 8A. Ara tak sendiri, di sebelahnya ada Jesic dan Kalia ikut membantunya melabrak adik kelas yang mencari masalah dengannya.
"Kalo berani yaaa di depan orangnya langsung dong! Giliran disamperin aja ciut" Adik kelasnya itu menunduk takut, tak berani menatap kedepan. Dimana Ara menatapnya tajam.
"CEPETAN KALO MAU NGOMONGIN KEJELEKAN GUE! NGOMONG DI DEPAN GUE" Ara berteriak "jangan beraninya dibelakang doang!" lanjutnya lagi.
"Ra lo berasa ngomong sama tembok tau gak ra!" jesic yang bersandar ditembok ikut berkomentar.
"Lo gagu ya?" Kalia menunduk untuk bisa melihat wajah adik kelasnya yang dari tadi hanya diam.
"Ma-Maaf ka!" Adik kelasnya itu bergumam pelan meminta maaf, baru saja Ara ingin menyahut tapi seseorang yang tak ia sadari keberadaannya kini bersuara mencibir.
"Gak adil banget! Masa 3 lawan 1" katanya sembari bersandar pada bangku kayu yang ia duduki. Ara melebarkan matanya, yaampun sejak kapan Angga duduk di sana?. Ia lantas menoleh pada Jesic dan Kalia, menatapnya kesal.
"Kata lo gak ada orang. gimana si" bisiknya pada mereka lalu kembali menatap Angga. Melemparkan senyum termanisnya.
"Angga kamu ngapain disitu? Sejak kapan?" tanyanya namun Angga membuang muka.
"Bukan urusan lo" katanya ketus. Lalu kembali berkata yang perkataannya membuat Ara terdiam malu. "Gue heran sama anak SMP jaman sekarang. Baru SMP aja lagaknya kaya pereman. labrak sini labrak situ. Malu umur lu tuh masih pada kecil! Gak ada pantesnya!" setelah berkata seperti itu ia berdiri dan langsung berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ara yang menatap kepergiannya dengan raut sedih.
"Ra" mendengar itu Ara segera menghapus air matanya yang berair.
"Lo ga apa?" Ara menggeleng.
"Eh. Lo ke kelas aja gih! Kali ini gur maafin. Tapi awas aja lo ngomongin gue lagi! Abis lo ditangan gue!" katanya lalu berlalu begitu saja.
*"*
Ara tersenyum cerah ketika ia mendapati Angga sedang memarkirkan motornya tak jauh dari hadapannya, Bisa ketemu Angga sepagi ini adalah momen langka! untuknya menjegat cowo itu. Tanpa buang-buang waktu lagi ia langsung bergerak cepat ke arah cowo itu.
"Angga!" cowo berwajah judes itu menoleh. Ketika melihat siapa yang memanggilnya ia lantas melongos. Ara terkekeh, segitu sebalnya yaaa cowo itu terhadapnya. Tapi hal itu gak sama sekali membuat Ara gentar untuk menyerah, ia malah semakin semangat untuk membuat hati Angga luluh kepadanya.
"Angga! Angga!" panggilnya lagi, membuat cowo itu berdecak.
"Apaan sih!" kesalnya.
"Galak banget sih! Masih pagi tauk! Nanti cepet tua loh" Angga tak menanggapi, cowo itu lalu berjalan menjauh, namun diikuti Ara di sampingnya.
"Angga kenapa sih gak bales chat Ara? Angga marah ya soal kemarin?" cewe itu terus saja berusaha mencari topik pembicaraan supaya ia bisa berbicara dengan cowo itu. Gak apa deh walau sebentar.
"Lu ngapain jadi ngikutin gue sih? Sana jauh-jauh, gue mual kalo deket lo. pake minyak wangi tuh jangan berlebihan napah!" Ucapan sadis itu sama sekali tak mempengaruhi Ara untuk menjauh. Malahan ia semakin merapatkan tubuhnya pada Angga tanpa malu.
"Masa sih, wangi begini" Ara tersenyum ketika Angga menatapnya jengkel.
"Angga, Angga. Kapan sih Angga mau jadi pacar Ara? Nih ya walau ditolak 1001 kali pun sama Angga, Ara mah gak bisa berpaling dari Angga, soalnya Ara udah cinta banget sama Angga!" Ara mulai terus berceloteh tentang cintanya pada Angga, yang justru tak dibalas sepatah katapun oleh cowo itu. Namun Ara tak menyerah. Ara akan melakukan apapun. Demi mendapatkan perhatian Angga.
"Angga Ara beneran serius!! Ara suka sama Angga!! Dari pas waktu Angga nolongin
Ara dari Kakak osis bar-bar dulu! Angga inget gak?" Ara menoleh kebelakang, ia bahkan sudah melewati kelasnya, demi bisa berbicara dengan Angga. Tapi sayang Angga bagaikan tembok berjalan. Sunyum aja enggak, natap Ara? [Boro-boro].
"Apa liatin? Gue colok juga tuh mata!" ujar Ara galak ketika beberapa siswi menatapnya terang-terangan. Di sebelahnya Angga sama sekali tak peduli, ia mengeratkan tasnya, lalu mempercepat langkahnya Agar cewe itu berhenti mengikutinya.
"Angga ihhhhhh! Ara nanya dari tadi tapi Angga gak jawab-jawab!" gemas cewe itu kembali mengejar Angga yang sudah menjauh. Dan Angga mendadak berhenti di lorong koridor dekat kelasnya yang masih sepi.
"Gue Gak inget! Lu jangan terlalu ngarep sama gue bisa gak sih? gak malu? Lu cewe ngejar-ngejar cowo. Gak pantes banget, liat posisi lah!.... Lagian Gue gak suka sama lu. Jadi jangan gangguin gue!" Angga menatap Ara dari atas sampai bawah.
"Jadi cewe ko ganjen banget" itu kata-kata terakhirnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan Ara yang berdiri menatap lurus kedepan.
Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Ara
"Jadi cewe ko ganjen banget"
Dan itu beruntun hingga pada perlakuan dan kata-kata menyakitkan Angga yang kemarin-marin saat ia terus berusaha mendekati cowok itu.
"Cewe gak tau malu!"
"Gue gak suka sama cabe"
"Enyah aja lu dari hadapan gue"
"Bukannya suka gue malah jijik"
"Ibu lu dulu ngidam apa sampe punya anak kaya gini?"
Dan masih banyak lagi perkataan Angga yang membuatnya sedikit merasa sakit tapi tak gentar. Tapi kata terakhir ini sangat menampar kesadaran Ara.
"Jadi cewe ko ganjen banget"
Sepertinya sudah saatnya....
***
Assalamualaikum wr. wb
Wah bagai mana menurut kalian awal cerita ini? Bikin gereget gak?
Kisah cinta SMP. Nih.... Kira kira lanjutannya seperti apa ya??
Aku mau tau dong pendapat kalian tentang part awal ini.
Jawab :) [pokonya mau maksa]
Wajib jawab hehehe:p
[Jangan lupa jadikan al-quran sebagai bacaan utama mu]
YOU ARE READING
ANGGARA
SpiritualDulu Angga pernah menolak dan memperlakukan Ara dengan tidak baik, itu karna dulu Ara terus saja menyatakan cinta padanya tanpa malu. Di depan semua teman-temannya membuat kehebohan. hal itulah yang membuatnya memperlakukan Ara dengan perkataan dan...
