Taking You

23 2 0
                                        

Warn! Too much narasi. Hati-hati bosan.

Hepi reading

***

Aku berdecak kesal melihat kotak bekal yang ada dilokerku. Aku tau siapa pemiliknya. Hampir tiap hari dia mengirimiku kotak bekal berisi makan siang sebelum jam makan siang. Dan aku juga tiap hari membuang kotak bekal tersebut tanpa berminat untuk melihat isinya. Aku kira dia akan bosan dan berhenti ketika tiap hari aku membuang pemberiannya. Aku merupakan orang kaya, aku tidak butuh makanan miskin darinya.

Aku mencari tempat sampah terdekat kemudian membuangnya. Namun, kegiatanku terhenti begitu seseorang menghentikanku. Temanku.

"Kau mau membuangnya?" Aku hanya memberi anggukan kepala sebagai jawaban, "buat aku saja," lanjutnya.

"Tidak bisa! Makanan ini beracun. Sebaiknya dibuang." Aku langsung membuangnya ketempat sampah sebelum temanku merebutnya dariku. Setelahnya, aku pergi meninggalkannya melanjutkan kegiatanku yang lain.

***

Dia tersenyum dan menyapaku begitu kami berpapasan. Aku yang sempat melihatnya pun memalingkan muka berpura-pura tidak melihatnya dan terus berjalan. Bersyukur dia tidak mengejarku berusaha untuk berbicara denganku.  Aku malas dengannya. Maksudku, aku tidak mau berurusan dengannya. Tidak ada kepentingan apapun. Dia sama sekali bukan temanku, sahabatku, teman kelasku atau status apapun. Dia hanya tetanggaku yang setiap hari mengusikku dengan pemberian dan perhatian memuakkannya yang membuatku membencinya. Orang lain menduga bahwa dia menyukaiku dan memang benar. Dia bahkan pernah menyatakannya langsung padaku dan aku tidak menanggapinya sama sekali. Malas rasanya untuk mengeluarkan suaraku untuknya. Jadi tiap aku bertemu dengannya atau pada saat dia menyatakan perasaannya padaku, aku langsung meninggalkannya tanpa satu katapun yang terucap dariku. Aku tau kalau aku mengeluarkan suara aku akan mengeluarkan kalimat-kalimat kasar dan juga bentakan yang pada akhirnya membuatnya menangis. Jangan kira aku malas berbicara karena tidak mau melihatnya menangis. Aku malas berbicara karena hal itu membuatku lelah dan mempercepat umurku. Bayangkan ketika tiap hari aku terus marah-marah dan bersuara keras ketika menghadapinya, itu akan membuatku keriput dan semakin jelek. Bukan hanya itu, bisa saja hal tersebut berimbas pada jantungku atau organ lainnya ketika aku terus terusan berteriak. Jadi aku lebih memilih mendiamkannya.

Ketika aku tiba dirumah, rumahku terlihat sepi. Aku tidak melihat ibuku yang tiap hari menyambutku ketika pulang. Mungkin sibuk, pikirku. Jadi aku mencarinya didapur, dihalaman belakang bahkan kamarnya. Namun aku tidak menemukannya. Oke, aku sendirian dirumah. Aku memutuskan kekamarku untuk mandi dan berganti pakaian. Setelahnya aku menyalakan televisi dan menonton acara pertandingan bola yang tidak sengaja kutemukan begitu mencari siaran yang ingin kutonton. Aku juga sempat memesan pizza sebagai makan malamku. Aku hafal betul kebiasaan ibuku yang tidak meninggalkan makanan ketika pergi.

Tak lama kudengar bel berbunyi. Kupikir pizzaku sudah tiba. Ternyata dia datang dengan membawa rantang makanan dan senyuman yang terpasang diwajahnya. Aku berniat menutup pintu kembali begitu tau bahwa dia yang datang. Namun dia mencegahnya.

"Ini makanan untukmu. Ibumu pergi acara reuni sekolahnya dan berpesan agar aku membawakanmu makan malam," katanya.

"Aku sudah memesan pizza," kataku.

"Tapi setidaknya terima makanan ini. Barangkali kau tidak cukup hanya dengan makan pizza sebagai makan malam."

Aku ingin marah, dia berpikir perutku perut karet yang tidak cukup dengan pizza jumbo yang bisa dihabiskan oleh empat orang. Tapi aku mencoba bersabar. "Tidak!" kataku tegas dan mencoba masuk menutup pintu. Lagi-lagi dia menahannya. Alasan apa lagi yang akan dia buat.

"Aku tidak enak jika ibumu tau kau tidak menerima makanan yang kujanjikan. Kumohon kali ini kau terima. Terserah kau ingin memakannya atau bagaimana."

8 LettersStories to obsess over. Discover now