Important

72 17 40
                                        

"Kamu gak punya kerjaan, ya?"

Tew tersenyum kecil mendengar pertanyaan yang dibumbui nada sinis tersebut. Manik kelamnya menatap sosok Dae yang bahkan tidak mau membalas tatapannya.

"Kakak gak ada kelas lagi." Tew memangku dagu dengan tangan kanannya. Sudah 20 menit berlalu semenjak ia menghampiri Dae yang sedang duduk sendirian, dan memutuskan untuk duduk di hadapan adik tingkatnya tersebut sekaligus berusaha untuk memulai percakapan.

Yang tentu saja gagal karena ia selalu diabaikan oleh Dae.

"Kamu gak lapar?"

"Gak."

"Gak capek?"

"Gak."

Tew kembali tersenyum. Setidaknya Dae mulai memberinya sedikit perhatian dengan menjawab pertanyaannya.

"Kakak gak lihat kamu di kantin tadi, kamu udah makan siang?"

"...Kamu stalker atau apa?" Dae mendengus, ia mengalihkan pandangannya dari tugas yang sedang ia kerjakan lantas menatap sosok Tew yang masih setia memasang senyumannya.

"Bukan stalker, Kakak cuma khawatir."

Khawatir ndasmu. Dasar aneh. Sok akrab. Annoying. Pengganggu!

Dae menggerutu dalam hati, ia menghela napasnya sembari membereskan barang-barangnya dan memasukannya ke dalam ransel. Tew yang melihat gerak gerik Dae pun sontak beranjak dari kursinya.

"Udah mau pulang? Ayo bareng."

"Kenapa kamu keras kepala banget, sih? Udah aku bilang kalau aku gak suka diganggu!"

"0058ー"

"AKU PUNYA NAMA!"

Tew menghela napasnya, pasrah saja dibentak seperti itu oleh orang yang jelas-jelas lebih muda darinya.

Dae menggerutu pelan, ia mendelik tidak suka ke arah Tew sebelum pada akhirnya beranjak dan berjalan meninggalkan sosok tersebut dengan langkah cepat.

"Baiklah, maaf, 0058ー maksudku, Dae, tunggu!"

Tew berlari kecil mengejar Dae yang semakin mempercepat langkahnya. Astaga, padahal kaki Dae pendek, kenapa ia bisa berjalan secepat itu, sih?

"Dae, Kakak cuma mau bicara!"

"Aku gak mau bicara sama kamu."

"Kalau gitu kamu cukup dengerin-"

"Aku gak mau dengerin."

Gusti. Apa ini yang dirasakan Kong saat berusaha pedekate sama Kak Arthit dulu?  Atau justru lebih parah? Mengingat Kak Arthit itu galaknya udah di level dewa, senggol dikit langsung bacok. Sedangkan Dae mentok di tahap membentak atau mengucapkan kalimat-kalimat pedas dan tingkat sarkasme yang super tinggi. Tew mendadak merasa iba pada temannya tersebut.

(Padahal dirinya sendiri juga harus dikasihanin. Dasar bucin.)

Tew tetap berjalan di belakang Dae. Ia bisa saja menahan atau menarik tangan Dae seperti biasanya, namun entah kenapa kali ini Tew merasa jika itu bukanlah pilihan yang tepat.

Sedangkan Dae tetap memilih untuk bersikap seolah Tew tidak ada. Ia terlalu malas untuk meladeni senior yang ia anggap gila tersebutーbayangkan saja, Tew sangat ngotot untuk bisa dekat dengannya, selalu mengajaknya berbicara kapanpun mereka bertemu, dan bersikap seolah mereka sudah kenal selama bertahun-tahun padahal hubungan mereka tidak lebih dari sekadar hubungan senior-junior.

Ah, bahkan Dae tidak menganggap Tew sebagai seniornya. Ia sudah terang-terangan mengaku jika ia tidak respect pada Tew, tapi kenapa pria itu tetap saja bersikukuh?!

Dasar masokis.

"Dek."

Dae tetap berjalan, ia menulikan telinganya.

"Kakak minta maaf kalau selama ini Kakak terkesan maksa. Kakak cuma gak mau kamu terus-terusan mengisolasi diri kamu sendiri dari temen-temen kamu."

'Gak usah didengerin, Dae. Anggep aja dia cuma dedemit lewat.'

"Kakak paham kok kalau kamu ngerasa kegiatan sotus ini gak sesuai sama ekspetasi kamu, but well, nothing's perfect," Tew menghela napasnya, ia masih melanjutkan ucapannya karena ia yakin jika Dae sebenarnya mendengarkannya. "Kakak cuma mau kamu menghargai kegiatan ini karena kamiーpara seniorーudah bekerja keras supaya kegiatan ini lancar. Kami cuma mau yang terbaik buat kalian. Kayak apa yang Kakak bilang dulu, tujuan kami adalah supaya kita semua bisa saling mengenal, Dae. Saling membantu."

Dae tetap bungkam, entah kenapa rasa sesak perlahan mulai menguasai dirinya. Bayangan tentang apa yang terjadi di kampusnya yang dulu membuat Dae secara tanpa sadar mengepalkan tangannya, tubuhnya sedikit gemetar.

Saling membantu? Persetan. Dae pernah terbuai oleh kalimat semacam itu sebelumnya, ia sempat merasa jika 'teman-temannya' akan berada di pihaknya saat ia mengaku bersalah dan bertanggung jawab atas keteledorannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah makian, tatapan tidak suka, dan ia berakhir dikucilkan hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk pindah karena tidak kuat dengan perlakuan yang ia dapatkan.

Tidak ada yang membelanya, dan sejak saat itu Dae memutuskan jika ia tidak akan mau terlibat dengan siapapun lagi. Ia tidak masalah jika tidak ada yang mau berteman dengannya. Ia hanya mau hidup tenang.

"Kakakー"

"Kegiatannya masih bisa berjalan lancar tanpa aku, kan?" Dae menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya lantas menatap Tew dengan tatapan datar. "Aku gak sepenting itu, jadi kamu seharusnya gak usah berusaha sekerasー"

"Kata siapa kamu gak penting?!"

Dae tersentak kaget. Baru kali ini Tew membentaknya. Baru kali ini Dae melihat ekspresi Tew yang seperti ini; marah, sedih, dan kecewa. Melihat Tew begini membuat Dae sedikit merasa bersalah, oleh karena itu, ketika Tew mengikis jarak di antara mereka berdua, Dae memilih untuk diam.

"Kamu bagian dari kami, tentu saja kamu penting."

Tew berucap dengan nada tegas, ia menundukkan wajahnya sejenak; helaan napas berat meluncur keluar dari kedua belah bibirnya. Beberapa saat kemudian, ia kembali mengangkat wajahnya. Seulas senyum terpatri, Tew menepuk pelan bahu Dae yang masih terdiam sembari menatapnya.

"Kakak harap kamu bisa ikut kegiatan terakhir nanti. Hati-hati di jalan."

Setelah mengucapkan itu, Tew berlalu begitu saja, meninggalkan Dae yang masih mematung dengan perasaan janggal yang secara perlahan mulai menguasai dirinya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 13, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Matter [TewDae]Stories to obsess over. Discover now