Perkenalan

22 1 0
                                        

Mikayla, kamu dimana ?

——————————————————————————

Saat mentari memancarkan warna keemasan, ada seorang gadis yang tertunduk lesu dipinggir balkon kamarnya. Mikayla Alexia, atau yang biasa dipanggil Kayla. Anak kedua dari dua bersaudara keluarga Alex Aditya.

'Disaat semua sudah baik - baik saja, dia kembali seperti memberi harapan.'
'Sepenggal kalimat menghadirkan kembali sebuah harapan'
'Dia kembali membawa luka yang lama'

——————————————————————————

"Kayla, ada tugas untuk mata kuliah ini!" Teriaknya di depan pintu kelas, semua mata mahasiswa tertuju padaku. Memutar bola mataku dengan malas, "Aku tahu, Demian."
Demian Putrantyo De Melaz. Cowok jawa blasteran belanda, ganteng tapi kelakuan minus banget. Disaat cewek - cewek pada muji dia, aku dengan suka rela menukar tempat dengan penggemarnya.
"Dan kamu jahat engga kasih tau aku"
"Aku kasih tau kamu! Kamu semalam tiba - tiba tidur, aku lagi cerita panjang lebar."
"Alasan. Kenapa engga tadi pagi?"
"Aku lupa" aku meringis. Menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal. Demian mendekat dan mengusap rambutku.
"Kamu manusia paling nyebelin! Rambutku berantakan!" Aku merajuk. Cewek - cewek di kelasku langsung pada melotot. Sudahkah aku bilang kalau Demian salah satu "artis" di kampus ku?
"Nanti pulang tunggu aku. Kita bareng"
Menghela napas. "Aku mau ke PerpusNas"
"Aku ikut"
"Kamu tau aku kan Demian, aku engga suka diganggu saat lagi baca buku"
"Dan kamu tau dengan pasti kan Kayla, aku engga suka penolakan"
"Sekali ini saja, biarkan aku sendirian"
"Aku tau, kamu butuh aku. Kita bareng nanti. Final." Dia tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajahku merenggut. "Bye, Kay."

"Biarkan orang lain mengira kita pacaran. Aku butuh dia untuk sebuah perlindungan." Batinku tersenyum perih.

—————————————————————————-

"Aku tau ini bukan jalan ke PerpusNas. Mau kemana kita, Yan?" Iyan. Alias Demian. Panggilan kesayangku buat dia. Dan tak ada yang tahu itu.
"Taman Menteng" Aku mengerutkan keningku. "Aku tau kamu butuh ketenangan."
"Aku selalu berdoa agar kamu di balas dengan kebahagiaan yang berlipat ganda." Ucapku penuh harap.
"Kamu sahabatku. Sudah sepatutnya kamu cerita disaat kamu punya masalah, Kay." Dia menghela napas panjang.
Mengelus pundaknya pelan. Dia menoleh sebentar. "Kamu tau aku gimana kan, Yan?"
"Kamu butuh sebuah pengalihan."
"Sudah ku lakukan sejak dulu."
"Boleh kah ku bertanya?" Aku mengangguk. "Pernah kah kamu berfikir untuk terus terjerat dalam masa lalu?" Aku menangis. Aku tau dengan pasti jawabannya. "Aku tau kamu gadis pintar. Jangan sia - sia kan semua pengorbanan kamu untuk dia."
"Kalau ternyata sebuah luka hanya dapat disembuhkan oleh orang yang membuat luka itu sendiri, apakah aku salah?"
Demian menoleh sebentar dan tersenyum. Dia memarkirkan mobilnya ke kiri. Tepat disebelah Taman Menteng.
"Bolehkah aku memelukmu?" Aku mengangguk. Dia merentangkan tangannya dan aku menyambut pelukan itu. "Sayang sekali, orang yang kamu sayang tidak menyayangimu kembali. Kamu tau itu, Kayla. Berhenti berharap atau kamu akan kembali pada lubang yang sama." Aku mengeratkan pelukanku. "Kalau ternyata dia kembali bukan untukmu, kamu akan kembali terpuruk, Kayla. Percaya padaku. Jangan selalu bermimpi untuk kembali pada kepingan yang telah rusak." Dia mengelus rambutku dengan sayang.
"Tolong ingatkan padaku kalau kamu cowok bajingan yang selalu berbuat onar di kampus"
Dia tertawa dengan lepas. Bahuku ikut terguncang. Aku tersenyum.
"Kamu selalu bisa merusak suasana, Kay."
"Terima kasih untuk semuanya, Yan."
"Kamu sahabatku, berulang kali aku berucap. Tolong, jangan begitu. Kamu sudah menyelamatkan ku, aku berhutang nyawa padamu."
Aku menggeleng dengan cepat. "Kejadian itu tak pantas diingat lagi."
Dia tersenyum. "Aku engga mungkin melupakannya, Kay. Saat aku melupakan kejadian itu, berarti aku juga melupakanmu."
"Aku ada disini, Yan. Kamu sahabatku tanpa kejadian itu. Tolong jangan ingat kejadian itu lagi."
Dia mengangguk. "Kamu mau ice cream?" Gantian aku yang mengangguk. "Di cup rasa coklat?" Aku mengangguk lagi. "Tunggu disini ya, aku kesana. Kita makan di mobil aja."
"Di taman aja ya? Kan ada bangku yang mengarah ke danau kecil"
"Panas banget loh, Kay."
Aku tersenyum. "Engga, kamu bawa sweater kan? Aku pakai itu biar menghalau sinar matahari dan debu - debu yang bertebaran"
"Kamu selalu tau gimana caranya biar menang"
"Dan kamu selalu mau ngalah buat aku."
"Yuk, aku beli dulu ya. Kamu langsung kesana aja. Nanti aku ke tempat kamu."
"Okay, thank you. Aku kesana duluan ya."
Saat ingin membuka pintu, tiba - tiba Demian menahanku.
"Pakai sweaterku jangan lupa"
Aku menoleh ke belakang. Mengambil sweaternya di bangku belakang. Dan langsung memakainya.
"Sudah ya, Tuan Demian."
"Ini untuk kebaikanmu, Princess."
Aku tersenyum dan membuka pintu mobil.

AbadiStories to obsess over. Discover now