Untukmu yang duduk manis di dekat pintu rangkaian nomor lima

167 6 0
                                        

Kali ini, Hari ini dan siang ini. Semesta sedang baik. Mempertemukan kita di dalam satu rangkaian kereta jurusan Jakarta kota. Dalam hati menggebu-gebu untuk bersegera menanyakan nama, namun aku takut kau berburuk sangka. Jadi, aku lebih memilih untuk mengurungkan niat. Sesekali aku mencuri-curi pandangan, namun kau tetap fokus memainkan telefon genggam. Matamu coklat, menjadi bingkisan termanis sepanjang hayat. Sepanjang umurku, baru kali ini aku merasakan kagum yang terlalu begitu.

Sesampainya di Stasiun Pondok Cina, kedua kakimu bergegas untuk melanjutkan langkah. Aku kira, kita akan turun di Stasiun yang sama. Ternyata, kau lebih dulu pergi meninggalkan beragam-macam tanya. Dari caramu melangkah saja, aku tahu ada kebaikan didalamnya. Sepertinya, kau ingin berangkat kuliah.

Aku berharap semesta kembali mempertemukan kita nantinya. Jika waktu kembali mempertemukan, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Aku akan berkata jujur ; kita sudah bertemu dua kali dengan yang ini.

Semoga, bila nantinya menurutmu aku tidak seperti lelaki yang sedang dekat denganmu, mungkin menurutmu aku aneh, atau memiliki kewarasan yang miring. Terserah saja, aku bertekad sekedar ingin tahu namamu, sudah itu saja. Teruntukmu, wanita anggun bermata coklat yang duduk manis di dekat pintu rangkaian nomor lima.

LekasWhere stories live. Discover now