Tes... tes... tes...
Hujan rintik-rintik mulai membasahi bumi disertai tangisan tanpa suara milik seorang gadis bernama Arseara Aily. Aily masih berdiri di halte dengan tak nyaman sambil memegang dadanya yang terasa sakit. Nafasnya terasa sesak, terlihat raut wajahnya yang mulai panik. Beberapa kali mencoba menetralkan nafasnya yang terasa berat tapi tak berhasil sedikitpun. Aily benar-benar panik, ditambah rasa pusing dan mualnya, membuat Aily ingin berteriak. Aily segera mengambil posisi duduk pada kursi halte. Berpegangan kuat pada tas ranselnya. Sesekali menengok ke arah jalanan berharap bis angkutannya datang, Aily hanya butuh satu saat ini. Pulang.
Aily menguatkan dirinya untuk berdiri dan mencari keberadaan kendaraan yang dapat mengantarnya pulang. Tapi, saat Aily berdiri keseimbangannya hilang. Pandangannya kabur dan menjadi gelap.
"Aily! " seseorang berlari menolongnya.
***
Aily merasa ada seseorang yang menepuk-nepuk pelan wajahnya. Ia ingin bangun, tapi masih turun hujan. Aily memberanikan diri membuka matanya. Tapi ia semakin takut. Ditambah suara petir berkali-kali menyambar. Dahinya berkerut takut.
"Aily? Lo dah sadar? Yer? Bangun... ini gue, Sanha... Ailya..." Sanha masih menepuk-nepuk pipi Aily. Aily membuka mata dengan raut panik. Ia lantas memeluk tubuh besar yang memangkunya lalu menangis dan mengeratkan pelukannya. Sanha yang tidak tau-menau hanya membiarkan Aily agar merasa lebih tenang. Degup jantung Aily terasa kencang karena Phobianya.
Tadinya, Sanha ingin mengantarkan pulang Aily. Tapi, Sanha tidak tahu dimana rumah Aily. Dan juga Sanha tidak begitu kenal dengan Aily. Sanha pernah satu sekolah di SMP dan sekelas saat tahun terakhir SMP. Jadi walaupun satu sekolah mereka tidak saling kenal. Mengenal hanya sebatas nama dan tahu kalau Aily dekat dengan Gio.
"Udah Yer, jangan takut. Gue disini. Lo ngga bakal kehujanan lo di mobil gue sekarang. Gue ngga tau lo kenapa tapi tenangin diri lo, dan lo bisa cerita ke gue lo kenapa. Kalo lo ngga mau cerita ya ngga papa. Gue ngga maksa" Sanha mengelus punggung Aily yang masih memeluknya.
Aily sadar dan langsung melepas pelukannya pada Sanha dan sedikit menjauh. Aily merasa canggung. Tapi tidak bagi Sanha. Sanha tersenyum.
"Udah nangisnya?" Tanya Sanha yang membuat Aily benar-benar speechless dan kikuk. Sanha tersenyum lagi. Lalu mengusap puncak kepala Aily. "Yaudah, sekarang gue nanya. Rumah lo dimana? Biar gue anterin" tambah Sanha.
"Eumhh... dd...di perumahan Golden blue. Blok B-20" jawab Aily.
"Oke, kalo gitu kita searah" kata Sanha lalu menjalankan mobilnya.
Selama di perjalanan sesekali Sanha mendengar Aily terisak dan masih menangis pelan. Sanha merasa ingin tahu kenapa Aily seperti itu. Tapi Sanha paham tidak semua permasalahan pribadi orang ia tahu. Dan Aily berhak menentukannya sendiri.
"Udah sampe, bener ini rumah lo?" Tanya Sanha kurang yakin setelah menghentikan mobilnya di depan rumah besar dan tingkat.
"Iya" jawab Aily singkat. Sanha segera keluar dari mobilnya dan membantu Aily berjalan. Tubuh Aily masih lemah.
"Kok kelihatannya sepi? Ngga ada orang?" Tanya Sanha lagi setelah sampai di depan pintu rumah.
"Bokap gue di LA bareng nyokap ngurusin kerjaan. Abang gue masih kuliah" jawab Aily sambil memasukan kode rumahnya.
"Ooh... jadi lo punya abang?" Sanha baru mengetahui hal itu.
"iya. Yaudah makasih Ha, udah nganterin gue. Mau mampir?" Tawar Aily.
"Ngga Yer, makasih. Gue Cuma mau nganter lo dulu biar langsung istirahat. Abis itu gue langsung pulang " ujar Sanha. Aily tersenyum dan mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya masih dibantu Sanha.
"Yer gue balik dulu ya" setelah Aily mengangguk, Sanha beranjak meninggalkan rumah Aily dan pulang.
***
Aily demam. Dia belum tidur. Aily juga belum makan malam. Kakaknya belum pulang padahal sudah jam 21:30. Aily membuka kontak chat milik kakaknya. Dan meminta kakaknya untuk pulang.
(Bang Reno)
(ArseAily)
Bang, kapan pulang?
Kalo pulang bawa makanan ya~
(Bang Reno)
Gue nginep tempatnya Daniel malem ini.
Kalo laper bikin telor aja. Itu gue dah beli ada di kulkas
(ArseAily)
Bang Reno...
(Bang Reno)
Ra, jan ganggu gue dulu. Gue lagi bikin tugas ama Daniel
(ArseAily)
Y
***
Aily kesal. Merasa kalau tugas milik Reno itu lebih penting dari pada Aily yang notabenenya adik Reno sendiri. Apalagi sekarang Aily sedang sakit. Karena rasa lapar Aily tak bisa ditahan, Aily mencoba untuk memasak telur yang ditunjukkan oleh Reno. Baru saja beranjak berdiri, kaki Aily merasa lemas dan susah untuk berjalan. Kepalanya terasa sakit lagi karena demam. Aily berjalan perlahan dengan meraba dinding untuk keseimbangan dirinya.
Aily menahan tangisnya yang sebentar lagi akan pecah. Phobia yang Aily miliki sangat berdampak buruk untuk kondisinya kesehatannya. Ya, Aily memiliki Ombrophobia. Yaitu rasa takut pada hujan karena traumanya. Ia trauma saat mengingat kejadian yang menimpanya dan harus kehilangan orang yang sangat ia sayangi. Tak banyak yang tau kalau Aily memiliki Ombrophobia. Hanya orang-orang terdekatnya. Orangtuanya, Reno, Nata, Neta, dan Gio.
Sekarang Aily berpegangan pada pinggiran tangga. Melangkah perlahan satu-persatu anak tangga. Aily sudah melewati setengah anak tangga. Namun, saat melangkah lagi, kakinya justru tidak kuat untuk berjalan menopang tubuhnya. Aily terjatuh dari setengah anak tangga itu.
"Toloong..." Aily merasa kesakitan dan berharap ada seseorang membantunya. Rasa sakitnya itu membuat Aily tidak sadarkan diri dan darah keluar dari pelipis gadis itu.
ToBeContinue ^,^
YOU ARE READING
Almond Boy
Teen FictionJangan tanya kenapa perlakuan gue berubah ke elo. tanyain diri lo sendiri, apa yang udah lo lakuin ke gue sampe gue kaya gini sama lo. -Aily sorry... - Bryan
