Hatiku mendayun-dayun seperti musik itu. musik yang kudengar kala kaki ini melangkah di depan rumahmu. Entah musiknya atau pemainnya yang membuatku seperti ini. Aku tahu genre musik apa kesukaanmu, pemusik idolamu. Bahkan aku tahu suasana hatimu dari caramu menceritakan nada. Hari itu, hati yang mendayun ini kembali penuh dengan tanda tanya. Seperti beberapa hari yang lalu. Apa yang salah dengan musikmu? Kenapa nadamu asing terdengar? Aku khawatir.
Pulang kuliah, saat nada itu terdengar lagi, kaki khawatir ini buru-buru melangkah. Tak mau membuang waktu walau sedetik. Tanpa salam, aku tarik gagang pintu itu, namun terkunci. Aku berlari ke jendela, namun tirai coklat muda itu tergerai rapi. Aku pukul bel rumahmu, namun seperti tak berbunyi. Ku kirim pesan, namun tak satupun terbalasi. Ada apa denganmuu Van? Apa kau kembali bertengkar dengan ibumu? Sungguh kau boleh kembali jika kau mau. Kau boleh memanggil ibuku dengan panggilan yang sama denganku. Dengan ribuan bahagia akan kusambut kau seperti yang ku lakukan dulu. Dengan ribuan bahagia akan ku dengarkan hatimu yang bercerita lewat nada.
"Van..? Vania?" diriku masih menolak menyerah. Musik itu berhenti. Ada nada harapan dari gesekan 2 daun pintu itu. seseorang pasti berdiri di belakangnya. Aku menunggu penuh debar di depan daun pintu rumah putih minimalis itu.
"Fatih?" kata wanita itu, sedikit tidak percaya bahwa tamunya adalah aku.
Harapan itu tidak hilang, tapi sedikit berkurang. Memang bukan Vania, namun ibunya, tante Sholihah. Sosoknya terlihat hangat, aku tak terlalu yakin orang seperti beliau akan bertengkar kalau bukan masalah serius.
"Assalamua'alaikum Tante, Vania ada?"
***
Aku sungguh tak mengerti. Mengapa sejak kecil bunda selalu membatasiku bermain dengan kak Fatih. Tak pernah sekalipun aku dibiarkannya tanpa kerudung di depan kak Fatih. Bahkan lelaki yang ku panggil 'kakak' itu sangat menjaga kerudungku.
Pernah suatu ketika. Saat kak Fatih selesai mengantarku lomba bermain biola. Aku mengatakan padanya bahwa aku sangat kegerahan. Aku ingin membuka kerudungku di mobil. Sekedar mengenalkan leherku pada angin yang berhembus bebas. Namun dia benar-benar tidak mengijinkan. Dia justru membawaku ke toilet SPBU. Katanya, aku boleh membuka kerudungku selama aku mau, disana.
Setiap aku tanya alasan kak Fatih dan bunda yang memperlakukan aku seperti ini, mereka hanya menjawab "ini latihan untuk kamu jika sedah dewasa nanti". Jadi, seumur hidupku, tak sedetikpun kak Fatih melihatku kecuali dengan kerudung, meski di rumah sekalipun. Padahal dalam surat an-nur ayat 31, diperbolehkan menampakkan perhiasannya (auratnya), yang (biasa) terlihat, pada saudara laki-laki (salah satunya).
Semakin hari perilaku kak Fatih semakin aneh menurutku. Berbicara saja tak berani bertatap padaku. Seperti bukan adiknya. Kalau aku di rumah, dia lebih suka di kamar atau keluar rumah. Walaupun dia masih bersedia mengajariku bermain biola atau pelajaran sulit bila aku belum faham.
Lambat laun aku faham. Aku mengerti kenapa kak Fatih bersikap seperti itu. hari itu ibu kandungku datang. Keadaan menjelaskan semua. Saat itulah aku sadar, bahwa aku hanyalah anak angkat. Ibu kandungku datang bukan tanpa sebab, beliau ingin mengasuhku kembali setelah 17 tahun merelakanku menjadi anak orang lain.
Sedih pasti mengalir dalam tangisku. Kenyataan bahwa ayah, bunda, dan kakak yang selama ini sayang padaku bukanlah yang sebenarnya cukup membuatku terpukul. Namun di sisi lain aku bahagia. Aku tak lagi merasa bersalah memiliki perasaan lain pada kak Fatih. Perasan yang tak boleh dimiliki 2 saudara kandung. Bertahun-tahun kusalahkan hatiku karna menyimpan cinta yang berbeda padanya. Cinta yang tak pernah kuberikan pada siapapun, termasuk ayah dan bunda. Ya, aku mencintai kakakku sebagai laki-laki, bukan kakak. Dan kenyataan mengijinkanku menyimpan rasa ini lebih lama, walau tak tahu sampai kapan. Untuk pertama kalinya, aku membenci sekaligus mencintai kenyataan.
YOU ARE READING
VANIA
Short StoryNamun aku seorang kakak yang ingin menjadi pangeran baginya, aku tak bisa membujuknya..
