Lehermu mengkilat diterpa cahaya petang. Leher yang sedari 15 menit tadi terus kuciumi, mungkin kamu tak sadar, karena kamu masih sibuk dengan dengkurmu.
***
Pendingin udara mati dari dua pekan lalu. Selalu menyisakan aroma kejantananmu setiap kali kita usai bercinta. Aku suka. Hanya saja panas bukanlah halku, jadi kuputuskan hari ini memanggil tukang untuk melihat kerusakannya.
Aah, aku beringsut ke ketiakmu. Seperti kucing yang bermanja-manja pada tuannya.
"Kamu tidak tidur?", kamu terbangun sedikit terganggu.
"Maaf ya, geli ya?", tak menggubris geliatmu, aku terus membenamkan kepalaku di ketiakmu.
Sedikit lama akhirnya kamu pasrah, dan kembali mendengkur.
Sore seperti ini selalu menjadi bagian paling menyenangkan bersamamu. Setelah hari-hari dimana kita sama-sama bergulat dengan kepenatan manusia, di akhir minggu kita benar-benar menjadi manusia. Menjadi lemah, tanpa daya, berbagi cerita, berbagi nafas, mendeklarasikan cinta berulang-ulang.
Kamu mungkin tak tahu walau sudah terlalu sering ku ulang-ulang. Aku bersyukur bertemu denganmu.
Jakarta selalu menghening di kamar kita. Denyit dipan kita selalu menjadi suara merdu di tengah kemuakanku akan kota ini. Kamu rela menjadi tempat sampahnya walau sudah berkali-kali kamu melemas di berkali-kali aku mengerang.
Jakarta juga selalu rela menjadi tempat kita tersesat, bingung melihat diri kita sendiri, atau memilih menjadi bagian diri kita yang paling sejati. Kamu selalu menjadi yang paling diam saat ini terjadi, tinggal aku yang kebingungan harus bagaimana. Lalu kita bertengkar, namun setelahnya kembali saling memagut. Ah, konyol, tapi indah.
Petang semakin menghitam. Pelan-pelan lampu jalanan seberang apartemen mulai menyala.
Kamu membalikan badanmu. Siluet otot pundakmu membentuk.
Ini sudah maghrib. Aku harus membangunkanmu. Aku beranjak dari kasur, meninggalkanmu dipeluk selimut sendirian.
Sebentar lagi maghrib, kita harus mandi dulu sebelum sholat, batinku.
Aku sedikit berjingkat karena tak ingin membangunkanmu. Menyalakan satu persatu lampu apartemen kita. Mengambil boxer kita yang berserak di samping sofa, lalu memanaskan kembali air dalam ketel untuk membuatkanmu secangkir kopi. Lalu..
Drrrt...drrrt, telepon genggammu bergetar. Sepertinya kamu lupa mematikan mode getarmu, seperti yang biasa kita lakukan di pertemuan akhir pekan kita.
"Ganteng. Kamu masih di Jakarta? Kapan kita ketemu? Kirim foto dong", begitu yang tertulis di layarmu.
Lamat kulihat pesan itu sampai akhirnya hilang dan layarmu kembali menghilang.
Kupejamkan mata kemudian menarik nafas panjang, menghelanya, tak ingin berpikir terlalu jauh. Ah, pasti salah satu fansmu saja.
Drrrrt...drrrt, telepon genggammu kembali bergetar. Pesan baru muncul masih dengan nomor yang sama.
"Aku kangen, kapan kita bisa bercinta lagi? Atau setidaknya kirimkanku fotomu sebagai pelepas rindu. Kabari aku setelah kamu sudah sendiri ya", cukup panjang pesannya.
Sore sudah berada di penghujungnya.
Tiba-tiba kamu memelukku dari belakang. "Kok nggak bangunin aku sih? Tumben ya aku tidur lama. Biasanya aku kan yang bangunin kamu biar kita bisa sholat bareng".
Aku masih terdiam.
"Kok diam, kenapa?", Kamu membalikkan tubuhku, berjinjit lalu mencium bibirku.
"Ngga ada apa-apa", jawabku singkat lalu membalas ciummu tadi di keningmu.
"Love you sayang", tambahku.
"Love you too sayang", pelukmu manja.
***
Sore itu kutahu aku masih memiliki cintamu. Aku juga masih memilikimu. Tapi sore itu aku juga tahu, pasti akan ada yang berubah darimu setelah hari ini.
Sayang, sore seperti ini seharusnya hanya milik kita bukan?,kupeluk kamu erat.
YOU ARE READING
PETANG
Short StoryKisah di dalamnya berisi tentang bagaimana sebuah perasaan manusia bisa dengan begitu rapuhnya tetap terlihat kuat dari luarnya.
