Bel istirahat telah dibunyikan, semua siswa berhamburan keluar kelas, Kantin adalah tujuan utama mereka, untuk memenuhi panggilan alam (lapar) :v
Siang itu, di pojok kanan Kantin sekolah Shefa tengah menikmati hidangan indomie goreng yang biasa ia pesan. Lain dari hari biasanya, dulu Shefa bahkan bisa menghabiskan 2 porsi mie goreng sekaligus, tapi kali ini ia hanya membiarkannya tergeletak. Shefa lebih fokus memperhatikan siswa-siswi yang berlalu-lalang memadati Kantin. Ada banyak kebisingan yang biasa ditemui di Kantin, mulai dari teriakan para siswa yang kelaparan agar secepatnya diantarkan makanan, gerombolan siswi-siswi penggosip yang tertawa terbahak-bahak, hingga berbagai aksi gaduh yang terjadi saat berebut antrian. Shefa sangat merindukan suasana seperti ini bersama "dia"
Libur sekolah telah berakhir, di hari pertamanya, ada kejutan bagi Shefa. Tidak ada lagi sosok "dia" yang akan menemaninya makan di Kantin ini, tidak ada lagi sosok "dia" yang membuat kesal sekaligus penyemangat bagi Shefa. Tidak akan pernah bisa ia lihat lagi tawa bahagia, sosok "dia" yang seharusnya mengisi bangku kosong dihadapannya hari ini. Semua seakan berubah, dan akan tetap begitu selamanya, yang telah dipanggil-Nya pergi, mustahil akan kembali. "Dia" adalah Evant-nya Shefa
"Gue kangen elo Vant..." ucapnya lirih, tiba-tiba ingatan gadis itu kembali pada tiga bulan yang lalu...
Flashback on:
"Vant, lo tau nggak... Itu si.." ucap Shefa yang memulai obrolan
"Enggak! Shefa ngomong apa sih yang jelas dong" Evant sengaja memotong pembicaraan Shefa, ini adalah salah satu sifat jahilnya.
"Elah... Dengerin gue dulu!!😑" Shefa kesal, kalau saja bukan Evant yang dihadapannya ini, sudah pasti ia lansung menyemburkan kuah cabe mie nya ke wajah tampan itu :v
"Hehehe...😅 terusin.."
"Itu si Agness abis putus ama si Gibran, kembaran lo suruh pulang aja gih!! Nyakitin sahabat gue mulu kerjanya" ucap Shefa dengan nada kesal, bagaimana tidak, jika setiap hari ia harus disuguhkan dengan pemandangan Agnes, sahabatnya yang sering kali menangis di pojokan kelas hanya gara-gara perasaannya selalu diacuhkan Gibran, dasar bucin.
" yaelah Shef... Itu urusan mereka ngapain dipikirin, mending mikirin masa depan kita yang lebih akurat dan terencana."
Evant dan Shefa, memang sudah lama dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Evant sudah terang-terangan mengakui perasaannya yang memang ada untuk gadis itu, hanya saja Shefa lah yang selalu mengaggap semua itu lelucon, meski dalam hati kecilnya hanya Evant yang berhasil membuatnya berhenti untuk menyukai lelaki lain. Tapi Shefa tidak pernah ingin mengakuinya.
"Emang gue mau?"
"Rese"
"Shef... Jangan kebanyakan makan mie goreng yah"
Evant membelai rambut Shefa dengan lembut
"Kalau gue udah nggak bisa ketemu lo lagi, itu berarti udah waktunya lo harus ngelewatin semuanya tanpa gue" lanjut Evant
Shefa mulai bingung, ia tidak mengerti mengapa Evant tiba-tiba mengatakan hal itu padanya
"Emang Lo mau kemana?"
"Nggak kemana-mana, tetep disini kok, menyaksikan lo bahagia" :)
"Jangan cengeng, jangan malas-malasan, jangan suka egois, gue nggak selamanya ada buat lo" setetes air mata mulai mengalir di pipi Evant
"Lo kenapasih Vant?!!"
"😊" Evant hanya tersenyum
"Ga jelas lo!" Shefa punya firasat buruk, ia tidak suka Evant berbicara seperti ini
🍁🍁🍁
Evant selalu memperlakukan Shefa dengan baik, hanya Evant yang setia menunggu Shefa, hanya "dia" yang tetap mampu bersikap manis kepada Shefa. Meski terkadang, Shefa malah memperlakukan dengan sebaliknya, meski ia tahu gadis itu selalu judes, jutek & bahkan mengacuhkannya. hanya Evant yang selalu tetap ada dibagaimana pun keadaan Shefa. Tapi kini Evant-nya telah benar-benar pergi 😭
YOU ARE READING
Jika Bosan, Bacalah Aku...
Short StoryMaka setelah membacanya anda akan semakin BOSAN, frustasi, depresi, ambisi, imunisasi, terasi... Di dalamnya ada nasi uduk🍛, Rendang Padang, Mie Aceh dll... Eh nggak deh😅 Sipa mah gitu, suka gajelas :( "Selamat menikmati!" (Flash fiction/Cerita...
