Bulan masih menampakkan wujudnya dengan kokoh dan indah. Suara jangkrik menghiasi irama dimana kokok-an ayam jantan sebagai alaram subuh hari tidak banyak mempengaruhi diantara banyaknya manusia yang terlelap. Udara yang sejuk juga ikut serta dalam menghiasi waktu itu.
Alam yang berprofesi sebagai pendakwah harus memenuhi undangannya disalah satu mesjid yang terpencil namun para jamaah nya cukup ramai.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatu".salam yang menjadi awal pada pembahasan Alam.
"Wa Alaikum salam warahmatullahi wa barokatu". Jawab para jama'ah.
Tausiyah islami yang diberikan Alam cukup memuaskan para jamaah yang mendengar. Selingan kelucuan yang disambut tertawaan para jama'ah.
"Barang siapa yang sampai saat ini masih belum mendapatkan jodoh dan ia sangat ingin mendapatkannya. Gampang kata Allah SWT tapi ada yang mesti untuk diingat,apa yang mesti diingat?. Ingat kita punya dosa. Barangkali kita pernah menyinggung perasaan orang lain sehingga ia berdoa kepada Allah. "Ya Allah, ni orang kalau bisa jangan dikasih jodoh sampai 7 keturunan". Masya Allah ni doa sangat berbahaya sekaligus bagi yang mendengar pasti akan menyangka bahwa orang yg berdoa barusan bodoh apa gila?. Kalau doanya biar gak dapat jodoh yaudah sampai disitu aja doanya dan jangan ditambah 7 keturunan". Salah satu tausiyah yang mengandung lelucon dan membuat para jama'ah tertawa.
"Nis! Serius amat, biasanya ngomel ini ngomel itu muka cemberutan alasan yang ngasih tausiyah gak pandai". Tanya Fauziah yang mengacaukan fokus Nisa.
"Apa sih? Gangguin aja". Jawab Nisa ketus.
"Jangan jangan kamu naksir sama tuh ustadz". Goda Fauziah yang membuat Nisa tersenyum dan salah tingkah.
"Gimana gak naksir coba?. Ustadz seganteng ini?". Ketus Nisa penuh penekanan.
-:-
Matahari baru menampakkan wujudnya. Kicauan burung burung dan udara yang segar menambah suasana. Alam yang hendak pulang setelah menyampaikan tausiyah nya sempat terhenti oleh seorang wanita yang menggunakan pakaian serta cadar yang hanya menyisakan bola matanya.
"Assalamu'alaikum ustadz". Salam wanita itu
"Wa Alaikum salam". Jawab Alam sekenanya
Wanita itu menatap Alam dan mengucapkan terimakasih dan berlalu pergi meninggalkan Alam.
Dari kejauhan dua pasang bola mata memandang kearah Alam dan wanita tersebut.
"Nis, coba kamu liat tuh ustadz Alam lagi berduaan dengan Aisyah".
"Ya tapi ngapa?. Ketus Nisa.
"Kamu gak ada rasa curiga gitu?."
"Huh, ziah aku yakin mereka gak akan ngapa ngapain. Paling cuma nanyain sesuatu". Ujar Nisa menasehati.
Pandangan keduanya buyar seketika Alam pergi dan menghilang di kejauhan.
"Gantengnya ya Allah". Batin Nisa .
-:-
"Bang, dipanggil ibu tuh!, Di ruang tamu". Panggil Ananta yang berada didepan pintu kamar yang terbuka.
"Ya, Abang akan segera menemui ibu". jawab Alam sekenanya.
Ananta lekas pergi meninggalkan Alam yang sedang bersiap siap. Anak tangga yang berwarna putih sesuai dengan dinding rumah mewahnya.
Alam lekas turun dan menghampiri ibunya.
"Ada apa Bu?". Tanya Alam menghampiri.
"Nak, apakah kamu tidak risau?".
"Risau untuk apa Bu?".
"Teman teman kamu kebanyakan sudah menikah..."ujar sari
"Bu Alam masih ingin bersama keluarga ini dan...". Belum sempat Alam menyelesaikan perkataannya
"Dan atau kamu mau ibu yang mencarikannya untuk mu?". Tanya sari dengan senyuman.
"Bukan begitu Bu". Sela Alam.
Minggu depan kamu akan ibu kenalkan dengan Aisyah dan ia adalah pilihan ibu.
"Apakah dengan ini ibu senang?". Tanya Alam.
Sari hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Baik Bu". Ujar Alam dengan sopan.
YOU ARE READING
Tuhan 9 cm
Non-FictionSeorang manusia yang berubah menjadi pribadi yang merusak akibat berat nya masalah yang dihadapi oleh nya. Namun seorang wanita yang selalu sabar menasehati dan mengurus nya sehingga ia kembali ke dirinya yang dulu
