Bab 1

3 1 0
                                        

Angina sepoi-sepoi menyapa lembut memasuki celah candela café menerpa wajah cantik gadis dengan mata sayunya ditemani dengan secangkir kopi pahit di depannya membawa fikirannya entah kemana, suara alunan nada samar terdengar dari mulut gadis itu. Suara ponselnya menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

"Aluna lo kemana aja lo lupa hari ini ada kuis?" suara cempreng menyapanya membuat ia menjauhkan ponsel dari telinganya

"Apaan sih Nis bisa kali ngomongnya gak pakai ngegas"

"He...he... ya habisnya lo ditelfon dari tadi gak diangkat-angkat udah buruan dateng "

"Iya gue berangkat sekarang" tanpa menunggu jawaban dari penelepon Aluna berdiri dan meninggalkan cafe untuk berangkat ke kampus.

Aluna Kayla Syakira seorang gadis cantik dengan mata hitamnya yang mampu menghipnotis siapa saja yang menatapnya adalah seorang mahasiswi semester empat disalah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Aluna hidup seorang diri orang tuanya meninggal 4 tahun yang lalu karena kecelakaan. Kini Aluna kuliah dan mengelola café peninggalan orang tuanya.

**
Aluna memasuki kelas dan menuju Nisa dan Caca yang mengobrol. Nisa dan Caca merupakan sahabat Aluna, mereka mulai bersahabat saat memasuki SMP yang sama dan memutuskan untuk satu sekolah saat SMA dan ketika kuliah.

"Hai..." Aluna duduk disamping Caca dengan senyuman tanpa dosanya.

"Alhamdulillah Lun lo selamat untung aja Pak Banjar telat kalau gak lo bisa gak ikut kuis" Nisa mengomel melihat sahabatnya yang terlihat santai sedangkan  Caca hanya tersenyum geli.

"Kalaupun gue gak ikut kuis ya udah sih lumayan kan Pak Banjar terangkat bebannya kekurangan satu jawaban buat di koreksi"

"Eh mulut nya Lun, gue gak mau ya lo gak lulus matkul Pak Banjar" Nisa yang mendengar jawaban Aluna yang terkesan santai membuatnya melotot tajam ke arah Aluna.

"Udah Nis kan sekarang Aluna udah datang Pak Banjar juga belum datangkan jadi Aluna masih bisa ikut kuis" Caca menepuk bahu Nisa. Caca memang penyabar diantara Aluna dan Nisa.

"Gue gak mau Aluna ngulang matkul Pak Banjar dan ngebuat kita terpisah" Nisa menatap Aluna dengan mata berkaca-kaca.

"Maaf ya gue janji bakal lebih giat lagi deh" Aluna memeluk Nisa dan Caca. Aluna sadar bahwa sahabatnya sangat menyayanginya terlepas dari kekurangan yang dimiliki Aluna.

**
Suasana perpustakaan yang sepi menjadi tujuan ketiga sahabat ini setelah berperang melawan kuis yang mampu nenguras otak mereka. Berbeda dengan mahasiswa lainnya yang memilih kantin untuk mengembalikan tenaga, Aluna, Nisa, dan Caca memilih perpustakaan yang tenang dan sepi.

"Gila soal Pak Banjar sulit parah, niat banget tu dosen buat kita pusing" Nisa mengomel dengan meletakkan kepalanya pada tangan yang terlipat di meja.

"Tidur aja gih Nis tadi katanya ngantuk" ucap Caca yang melihat Nisa menahan kantuknya dan mulai mebaca buku yang diambilnya tadi.

Aluna terdiam melihat kedua sahabatnya dia mulai mengalunkan lagu dengan bibir terkatup rapat dan mata yang terpejam. Caca yang melihat Aluna mengalunkan lagu tanpa menyanyikannya hanya bisa menatap sedih sahabatnya.

"Lun nyanyi aja gak akan ada yang marah" Caca mengatakanya dengan hati hati.

"Hah.. gak kok siapa juga yang mau nyanyi, em.. gue mau cari novel dulu ya" Aluna meninggalkan Caca.

Aluna tidak mau sahabatnya menatap sedih kepada dirinya atas apa yang terjadi dimasa lalu yang mampu membuatnya kembali terpuruk dengan jatuh lebih dalam ke dalam jurang yang menakutkan.

###
Semoga suka ya sama cerita ini

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 06, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

NadaStories to obsess over. Discover now