"Aku rindu". Itu pesan yang tertera pada layar benda pipih yang kupegang saat ini. Entah apa yang membuatku begini, aku tak dapat membendung rasa sesak yang menjalar ke setiap bagian ruang dalam hatiku. Aku menangis, dihadapannya. Laki-laki kesukaanku. Manusia yang kupanggil Nata. Ia bereaksi karna melihat aku menangis. Raut wajahnya berubah, khawatir menguasainya saat ini.
"Kenapa?" tanyanya.
Aku hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaannya. Aku tidak ingin ia merasa khawatir tentang apa yang terjadi, atau yang lebih parahnya ia meluapkan amarahnya dihadapanku. Walaupun sepertinya sangat tidak mungkin Nata melakukan hal itu. Hanya karna masa laluku yang pernah kuceritakan padanya, tapi ia membenci hal itu, dan aku pun tau ia juga tak suka melihatku menangis dihadapannya terlebih karna masa laluku.
Ia pergi. Kukira ia meninggalkanku dikedai ice cream favoritku. Nyatanya ia kembali, dan datang dengan semangkuk ice cream chocolate kesukaanku. Ia berulang kali membuatku merasa lebih baik. Selalu begitu. Sesak yang menyelimutiku berangsur pergi, meninggalkan seulas senyum yang diciptakannya.
"Sudah merasa baik?" tanyanya lagi sambil tersenyum.
"Terima kasih." jawabku sambil mengangguk.
"Ada apa, ada yang mengganggu pikiranmu?" sambil memegang telapak tanganku yang mulai dingin.
Aku menunjukkan pesan yang tertera dibalik layar telepon pintar milikku. Ia melihatnya, lalu tersenyum. "Dia lagi?" tanyanya. Aku terdiam sesaat lalu memberikan ponselku padanya "Terserah mau kamu balas apa, tapi kumohon jangan pakai kata-kata kasar ya. Cukup buat dia menyesal saja, okay?" tanganku gemetar saat memberikannya kesempatan untuk membalas pesan dari laki-laki itu. Herannya ia tersenyum sambil mengambil ponsel yang kuberikan, ia mulai mengetik pesannya, seperkian detik berikutnya ia kembali mengembalikan ponselku.
"Sudah ya, jangan dibaca apa yang aku kirim buatnya, hapus saja, sudah tidak penting kan?. Akan aku pastikan setelah membaca pesan dariku tadi, dia tidak akan mengganggumu lagi, jadi jangan dipikirkan lagi, ya?"
Setelah mendengar perkataannya, aku tersenyum. Hatiku yang tadinya sesak seketika berubah seperti udara terbaik yang semesta punya memenuhi setiap rongga didalam hatiku.
Tenang, dan bersyukur. Itu yang aku rasakan setiap Nata ada bersamaku. Raga, suara, serta hatinya selalu bisa menenangkanku disaat-saat seperti ini. Bahkan jika bisa ingin kupeluk Tuhan serta semesta, karna sudah begitu baik mempertemukanku dengan manusia seperti Nata.
- TO BE CONTINUE -
֍STAY TUNED ֍
ESTÁS LEYENDO
Senja Yang Keliru
Novela JuvenilSENJA YANG KELIRU Untuk beberapa orang masa lalu adalah bagian dari hidup yang terkadang susah untuk dilupa. Aku pun begitu. Dulu. Sebelum aku bertemu Ia yang hadir bagai payung yang teduh. Membubarkan setiap hujan yang menghampiriku, menyelamatkan...
