( Bismillahir Rohmanir Rohim )
Author POV
"
Masih pantaskah rindu
Saat kecewa masih menyatu
Membeku di kalbu
Atau adakah syariat
Tentang keutamaan
Meninggalkan rindu
Di ujung yang ku kira ujung,
Dengarlah aku bernarasi
Menyebutkan betapa lemahnya aku
Sayatan yang ada, tak berdarah
Namun cukup memborokkan kekecewaan yang bernanah,
Disana.
"
Semilir angin menerbangkan rindu yang bergejolak. Membuat seorang pemuda meringkuk kedinginan.
Mengenggam secangkir kehangatan lewat seteguk kopi, dia menembus ribuan bintang dengan matanya. Bermodal selembar sarung yang membungkus tubuhnya, dia lebih pantas seperti bapak-bapak yang sedang meronda. Dibanding sebagai seorang pujangga yang pupus cinta.
Dia paham. Bahkan sangat mengerti.
Cintanya kepada si pujaan hati hanya ssbatas fatamorgana. Fatamorgana di padang pasir yng bahkan tidak pernah dia lihat.
Namun, dia juga tahu.
Kalau dia mempunyai kekerasan kepala yang menyerupai tulang besi milik gatotkaca.
Wajahnya tersenyum, menatap sisa cairan hitam tadi lalu meneguknya habis.
" Inilah edisi kopi kali ini, rasa asli dari sang ilahi. Karna aku tak ingin menghancurkan ciri khas kepahitannya yang menyerupai cinta kita."
Kemudian ia beranjak. Meninggalkan sisa kopi beserta putung rokok di meja. Menutup pintu akses antara kamar dan terasnya.
Dilepasnya sarung maron yang mengalung di pundaknya.
Detak detik jam memperlihatkan pukul 2 dini hari.
" Ah.. Mungkin Allah cemburu dengan sikap ku yang terlalu memikirkan mu, Diana."
Maka, dia turun ke lantai dasar menuju kamar mandi. Dan berniat melaksanakan hajat dari Sang pemilik hajat.
Ahmad Salman Abidzar
_._._._
Congratulation
Fatma
Senangnya punya anak didik yang bisa mengharumkan nama bapak guru yang tampan ini..
Tetep semangat!
Jangan puas dengan hasil kamu yang hampir sempurna ini!
Jangan tergiur sama harta dan prestasi yang bisa memabukkan kamu!
Diatas langit masih ada langit.
Ingat ituu!!
Oke deh.
Tetep istiqomah belajar
Dan
Jangan lupa traktiran!!
Fairuz
Sudah berulang kali dia melafalkan kata yang tertera di surat itu. Selembar kertas bekas soal ujian yang sepertinya sudah beberapa tahun lalu dicetak.
Walaupun begitu ukiran tawa gadis terus terlihat. Entah itu dia menertawakan kemiskinan gurunya yang tidak bermodal dalam menulis ocehannya. Atau karna hal lain. Entah??
Namun dia terlihat sangat senang sekali. Seperti taman bunga yang baru diresmikan. Bibirnya selalu bermekaran.
Bagaimana tidak, kemarin ialah hari yang mengesankan baginya. Dimana dia mengetahui hasil perjuangannya dalam seminggu ini. Dia rela mengurangi waktu tidurnya demi mengoreksi hasil coretan miliknya.
Dan hasil memang tidak membohongi usaha.
Dia berhasil menyabet piala terbesar dalam lomba kaligrafi tingkat provinsi yang diadakan langsung oleh dinas.
Euphoria tidak hanya terasa oleh gadis berumur 21 tahun ini. Tetapi teman se kamarnya bahkan satu pondok memberikan ucapan selamat. Tak lupa juga bunyai dan kyainya yang sangat mendukung dirinya. Dan satu lagi.
Sang guru kaligrafi terpedenya pun turut memberi ucapan selamat. Dan satu set kuas yang lumayan mahal.
" Kang fairuz ini emang peka. Padahal waktu itu aku cuma becanda minta dibeliin satu set kuas kalau aku menang. Eh dibeliin beneran. "
" Halah.. Pasti kamu juga ngarepin dikasih hadiah kan sama Kang Fairuz. " sahut teman satu kamarnya yang masih terjaga.
Gadis itu hanya terkekeh sambil membereskan kuas-kuas tadi.
" Aku itu binggung sama sikap perhatiannya Kang Fairuz ke kamu. Apa karna kamu berbakat atau ada hal lain ya??"
Sebuah perkataan yang membisukan gadis itu. Hanya sebuah senyum keterpaksaan yang menjawab kebingungan temannya.
" Nggak tau. Udah ah, aku mau tahajud dulu soalnya aku tadi udah sempet tidur. Kamu tidur sana udah jam dua nih. "
Gadis itu mengubah topik pembicaraan yang tabu.
Akhirnya temannya pun memasuki kamar dan dia menuju kamar mandi pondok.
Fatma Abdullah
_._._._
Alhamdulillah..
Semoga istiqomah ya..
Thanks for reading😁
YOU ARE READING
Baina
SpiritualHakikat cinta sejati hanya milik Allah. Maka cintailah Allah. Dan timbal baliknya, insyaallah cinta mu pada makhluk akan sejati hingga ke surga nanti. Amin.. #Baina
