Langkahku terhenti pada kursi yang setiap hari menemaniku, bahkan saat gelap menyelimuti bangunan ini. Arsitektur klasik yang khas dengan aroma cinnamon membuatku betah menghabiskan waktu. Sering kali sekertarisku Lisa, mendapatiku terlelap di atas meja ini. Ku ambil napas panjang ketika melihat tumpukan naskah memenuhi permukaan mejaku, meminta untuk segera melahapnya. Namun, suara langkah kaki Lisa yang memasuki ruanganku dengan secangkir kopi crème dan croissant cukup menjanjikan untuk dihabiskan bersama dengan naskah-naskah ini.
Ku seruput kopi ini dan melihat kertas pertama, Le Script d'Enfant Gâté. Hanya satu kata yang terlintas dalam pikiranku, interesting. Halaman demi halaman ku baca seksama, seperti tak ingin melewati emosi yang tertuang pada setiap kata. Hanya terdapat amarah dan penyesalan, yang kemudian melemparku kembali ke masa-masa kelamku di Jakarta. Ku masih ingat betul setiap keping kenangan yang terjadi 5 tahun yang lalu. Sebuah kepahitan yang tertinggal seperti rasa kopi di langit-langit mulut.
Tertarik dengan keseluruhan emosi dalam ceritanya dan bagaimana itu berakhir, ku putuskan tuk habiskan naskah tersebut.
4 jam berlalu begitu cepat, ku lihat jam tangan pada lengan kiri.
'Sudah jam makan siang rupanya', gumamku.
Ku ambil mantel bergegas menuju cafeteria untuk mengisi kekosongan pada lambungku ini. Tak lupa ku bawa naskah tersebut yang tentunya telah selesai ku baca.
Sesampainya di sana, ku pesan Soupe à l'oignon sebagai appetizer, lalu Roasted Potato dengan Bouillabaisse agar tenagaku pulih kembali, tak lupa dengan crème brulée untuk penutupnya. Sembari makan, ku baca lagi secara acak halaman demi halaman naskah tersebut, mencoba mencari alasan apa yang membuat penulisnya sangat emosional? Ku buka lagi halaman utama di bawah judul terletak sebuah nama, Ansel Garren.
Pikiran ini kembali memutarkan kenangan buruk yang menjadikanku seperti manusia dingin tak merasa. Kukira tak ada yang lebih menyedihkan dariku, namun tidak setelah membaca naskah ini. Api membara atas kemarahan dan ketidakmampuan sang penulis mempertahankan milik dan egonya seolah memberikanku cermin besar yang siap menamparku sewaktu-waktu.
Ku raih handphone dari saku mantelku dan segera menelpon Lisa."Halo" terdengar suara lembut dari seberang sana.
"Lisa, bisakah kau hubungi penulis naskah berjudul Le Script d'Enfant Gâté ?" tanyaku antusias.
"Penulisnya?" tanyanya bingung.
"Astaga, bodohnya aku! Sebentar... Ah! Ini! Ansel Garren!" kembali ku buka halaman awal naskah.
"Kau ingin bertemu dengannya besok di kantor?" tanya Lisa memastikan.
"Ya, aku ingin membicarakan mengenai karyanya ini" jawabku yakin.
"Baik, akan ku hubungi. Tapi, kau besok ada meeting dengan staff desain?" tanyanya lagi mengingatkan.
"Undur saja sampai jam 2. Aku ingin bertemu dengan Monsieur Garren jam 11 pagi" jawabku tegas.
"Baik"
Kemudian ku tutup telephone. Ku lanjutkan hariku dengan rutinitas yang sama, berharap sesuatu yang menarik akan terjadi esok.
YOU ARE READING
Fall
Short StorySebuah karya tulis cerita pendek oleh Sidra Salsabila guna memenuhi tugas akhir semester 6 Penulisan Kreatif Bahasa dan Sastra Prancis 2016.
