pt 01

22 3 1
                                        

Kala itu langit mendung berhiaskan gumpalan awan abu. Sejauh mata memandang hanya terlihat banyaknya orang yang berlalu lalang. Gadis itu berjalan dalam sunyi menembus keramaian yang cukup menyesakkan. Sebuah sentuhan terasa di bahunya. Membuatnya sedikit menoleh mengamati si empunya tangan.

"Hai, mau bareng?"
Ia menyuguhkan senyum lebarnya yang di balas dengan tatapan datar gadis itu. Merasakan air hujan jatuh ke bumi membuat gadis itu memakai hoodienya dan berlalu meninggalkannya.

"Julian Ardan"
Teriaknya setelah gadis itu berada beberapa langkah didepannya.
"FYI aja si"
Tambahnya lagi.

Hari berjalan begitu cepat tak terasa sudah menuju sore namun nampaknya hujan tidak bosan menjatuhkan dirinya ke bumi. Berbeda dengan gadis itu, gadis yang sedari tadi merasa risih dan bosan dengan tatapan yang ia dapat dari arah belakngnya.

"Baik cukup sampai disini pelajaran hari ini, sekian dan terimakasih anak anak"
Penutupan bu Nia yang di ikuti dengan meninggalkan ruangan itu berhasil membuat kelas menjadi gaduh. Gadis itu mempersiapkan dirinya untuk beranjak dan lagi lagi seseorang mencegahnya. Ia menoleh menatap orang itu dengan tatapan seloah bertanya.

"Hai lagi"
Lagi lagi Julian menahan gadis itu, gadis yang tadi pagi mengacuhkannya. Padahal tak ada hal yang ingin ia katakan namun entah kenapa dirinya selalu saja berusaha membuat sebuah percakapan dengan gadis itu walaupun pada kenyataannya gadis itu tak meresponnya dan hanya menyuguhkan tatapannya yang datar.

Merasa tidak penting gadis itu pun berbalik dan meninggalkan Julian. Tak tinggal diam pun julian tetap mengikutinya, melewati koridor yang cukup ramai dengan siswa siswi yang menunggu hujan sedikit reda. Lagkah mereka berhenti setelah sampai di penghujung koridor. Dapat terlihat gerbang yang tak terlalu jauh didepan mereka itu diselimuti dengan hujan.

"Gw anterin ya"
Julian membuka pembicaraan setelah sebelumnya hanya diam dan mengikuti gadis itu. Dan lagi gadis itu tetap mengacuhkannya, membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel yang ada didalamnya.
Suasana hening kembali dengan gadis itu yang sibuk dengan ponselnya dan Julian yang sibuk mengamati gerak gerik gadis yang berada di depannya itu.

Mobil hitam terlihat memasuki gerbang dan berhenti tepat di ujung koridor. Nampak turun seorang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda yang membukakan pintu sambi tersenyum.
"Non Natashya silahkan"

Gadis itu menaruh kembali ponselnya lalu menuju mobil tersebut dan memasukinya. Mobil itu berlalu meninggalkan Julian yang masih terdiam.
Natashya menghembuskan nafasnya lega sambil menyandarkan tubuhnya. Rasanya ia terbebas dari hal yang mengganggunya sedari pagi.

Mobil itu berhenti di depan halaman yang cukup luas, bersamaan dengan itu seseorang menaiki sepeda motor berjalan dengan berlawanan arah menerobos hujan. Natashya menoleh mengarahkan pandangannya pada motor yang barusaja berpapasan dengannya, sepertinya ada sesuatu yang terjadi.

"Makasih mas"
Setelah mendapat jawaban dari Mas Bobi, Natashya melangkah masuk ke rumah. Rasanya suasananya berubah sedikit mencekam walaupun masih belum terdengar apa apa. Ia langkahkan kakinya menaiki satu persatu tangga yang ada didepannya dengan hati yang cemas.

"Bagaimana bisa kamu mendidik berandalan seperti itu"
Terdengar suara samar samar dari kamar kedua orangtuanya. Natashya bisa menebak setelah ini pasti ia akan mendengarkan pertengkaran mereka. Ah benar benar memuakkan tempat yang seharusnya membuatnya nyaman tiba tiba berubah menjadi menjemukan.

"Kau sendiri berbuat apa? Bahkan tak mendidik sama sekali"
Suara mereka semakin jelas ketika langkah Natashya berhenti di depan pintu kayu putih, Ia buka pintu itu melangkah memasuki ruangan dibaliknya lalu menguncinya rapat rapat. Merebahkan badannya di ranjang dan menenggelamkan wajahnya dibalik bantal. Berharap hari ini cepat berlalu.

***

Kicauan burung mengawali pagi yang cerah, kali ini langit ceria menampakkan matahari yang menghujani bumi dengan sinarnya. Pagi ini adalah jadwal untuk berolah raga, Siswa siswi 1B sudah memenuhi lapangan outdor dengan kegaduhannya karna pak Galih belum juga nampak. Julian dan kawan kawannya sibuk bergurau namun tak dipungkiri bahwa matanya selalu saja mencui curi padang pada gadis dalam balutan cardigan hitam di sisi lapangan itu.

"Fokus amat bang"
Celetuk Naira salah satu teman Julian yang berhasil memergokinya.

"Masih aja lo perhatiin dia? Ga capek dicuekin napa"
Tambah Kevin sambil merangkul sahabat karibnya yang selalu memperhatikan Natashya.

"Heran aja, ga bosen ya dia sendiri terus?"
Ucap Julian masih dengan mengamati gadis itu.

"Lo suka ya?"
Naira mulai menggoda Julian, mencolek pipinya sehingga ekspresi julian berubah.
Tanpa menjawabnya Julian malah berlalu berniat menghampiri gadis yang sedang sendiri itu.

Merasa ada yang memperhatikannya Natashya sedikit mendongakkan kepalanya dan mendapati Julian yang sedang berjalan ke arahnya. Tanpa pikir panjang dirinya beranjak berusaha meninggalkan posisinya agar tak diganggu oleh Julian.

"Yah udah ditolak duluan lo Jul"
Teriak Kevin yang diikuti dengan kekehan Naira dan yang lainnya. Sedangkan Julian hanya berbalik dan menunjukkan senyum kikuknya.

Natashya heran, entah mengapa Julian masih saja berusaha keras untuk membuat percakapan diantara mereka walaupun Natashya sudah benar benar tak meresponnya. Langkah random gadis itu berhenti di depan tangga menuju rooftop. Sebenarnya ia tak yakin apakah pintu penghubung rooftop itu di kunci atau tidak karna saat mos berlangsung aksesnya ditutup.
Sedikit berfikir akhirnya gadis itu mengambil keputusan untuk naik, ia menaiki satu persatu tangga hingga akhinya berhenti tepat di depan pintu. Tanganya bergerak memegang tuas pintu itu dan sedikit mendorongnya. Ternyata berhasil, pintu itu terbuka. Tanpa pikir panjang gadis itu melangkah serta memandangi pemandangan dari rooftop yang luas itu.
Langkahnya berhenti setelah matanya menangkap seseorang yang juga mengamatinya. Tak ada satupun kata yang terucap hanya saja tatapan datar yang mereka terima satu sama lain. Beberapa menit berjalan begitu saja hingga bel berdering menyadarkan mereka dan membuat mereka memandang arah lain.

__

Happy reading! Jangan lupa vote and comment thx luv

MonokromWhere stories live. Discover now