Angin malam bertiup sangat kencang, menghembuskan dedaunan malam yang renta akan sinar bulan. Semilir angin terus berhembus menggetarkan tubuh seolah telah mengusik.
Malam itu adalah malam kepedihan untuk lea. Dia tak pernah berpikir kenapa takdir seolah mempermainkan nya. Dia tak percaya takdir membawanya akan jurang yang sangat dalam.
Di malam kematian orang tuanya itu, lea terus menangis bagai tak ada lagi hari esok yang datang menjemputnya untuk bahagia. Batu nisan itu adalah bukti bahwa betapa hancurnya hatinya sekarang. Hati lea remuk bagaikan serpihan kaca yang pecah dan tak dapat lagi bersatu.
Matanya sembab, hidungnya merah, sehingga air matanya terkuras habis untuk menangisi hal yang menyedihkan ini.
Ia ingin berteriak namun dipendam. Sakit, itulah yang menggambarkan nya saat ini. Dia tak kuasa menahan tangis yang siap bersatu dengan kepedihan di ruang hatinya. Kegelapan pun segera merambati kesadaran nya mungkin inilah hal terakhir di hidupnya. Pikir gadis itu.
:*)
