Sebelum aku mulai ceritanya, ada satu yang perlu kalian tau: aku tidak suka bercerita.
Karena untuk apa bercerita jika yang kusampaikan hanyalah kebenaran versiku? Relativitas makna akan jadikan semua semu. Lagipula, di antara semua cerita yang sedang bersaing untuk didengar, menambahkan ceritaku yang kelabu hanya akan jadikan dunia semakin gaduh. Kalaupun terpaksa bersaing, menang takkan pernah pantas bagi ceritaku yang malas. Percayalah: di balik permainan kata ini, hanya ada sosok yang tidak antusias.
Aku lebih suka terasing, sejujurnya. Karena bukankah keadilan absolut hanya mungkin didapat dalam keterasingan? Cerita, misalnya, hanya akan utuh jika tidak diceritakan. Tanpa pemaknaan yang pasti egois, juga penghakiman yang pasti narsis. Tanpa ada bagian yang tersisih; Tak lolos seleksi.
Meski mungkin juga kalau aku hanyalah seorang pengecut. Selalu takut membiarkan ceritaku terbuka pada pemaknaan yang salah, respon yang marah, atau-yang paling parah-pembuktian bahwa salah. Takluk pada rasa takut akan kemungkinan bahwa cerita yang dipercaya ternyata tak nyata.
Intinya, selama ini aku merasa butuh memendam semua cerita. Merekam semua derita sambil meredam semua berita. Setidaknya, sebelum waktu mengubahku. Entahlah, aku mendadak tergugah untuk menggubah. Menyimpan cerita tak lagi menyenangkan. Mungkin karena terlalu lama ditekan? Atau hanya butuh perubahan agar tak bosan?
Yang manapun kebenarannya, kalian akan tetap bisa menemukanku bercerita disini-melukiskan rasa bersama ragu yang takkan pergi. Aku sudah mulai lupa caranya, jadi mungkin kualitas takkan terjamin sepenuhnya. Yang bisa kujamin hanyalah bahwa semua akan kuceritakan dengan jujur, tanpa peduli kalian terhibur atau kabur. Karena kalian juga takkan sepenuhnya memedulikan, kurasa jujur takkan terlalu merugikan, bukan?
Akan ada masanya ceritaku dilupakan. Jadi, kini, biarlah kuluapkan.
