Penolong eh?

21.2K 858 11
                                        

" Tugas PKWU kalian kali ini adalah memasarkan produk makanan buatan rumah, karena jumlah siswa di kelas kalian ada 36 maka akan saya bagi menjadi 12 kelompok yang masing masing diisi oleh 3 orang."

"Sekertaris," Jiho mendongak, menatap bu Hyorin dengan pandangan bertanya.

"Ya bu," jawabnya

" Berapa jumlah siswa laki-laki dikelas?" Jiho nampak berpikir. Menghitung dalam hati.

"Ada 13 siswa laki laki," Bu Hyorin mengangguk.

"Berarti ada 23 siswa perempuan, sebelas kelompok lainnya di isi satu laki-laki, dua perempuan dan satu kelompok yang tersisa di isi satu perempuan dua laki-laki."

Siswa-siswa kelas XI IPA 3 sudah grasak grusuk, berdoa agar disatukan dengan sang pujaaan atau dijauhkan dari orang yang tak diinginkan.

"Sistem pemilihan kelompok akan sedikit unik," mendengar kata unik, seketika kelas kembali berisik. "Sudah diam, anak perempuan akan saya tutup matanya dan anak lelaki yang sudah di bagi menjadi 12 kelompok akan berdiri di dekat meja. Anak perempuan akan menuju meja yang mereka mau dengan mata tertutup, jika kalian menuju meja kelompok yang sudah memenuhi kapasitas ibu akan memberi tahu dengan cara membelokkan langkah kalian, mengerti?!" Semua mengangguk. Siswa perempuan di haruskan keluar kelas,lalu kemudian akan dipersilahkan masuk satu persatu.

Rose nampak bersemangat, cewek itu sudah melompat lompat senang. Tak sabar memilih kelompoknya.

"Anjir kayak mau milih jodoh tau Sa," Ujarnya menguncang guncang bahu Lalisa, sementara si gadis berponi hanya memutar bola mata dengan malas.

Sudah sekitar 5 siswi yang memilih, Lalisa hanya menghela nafas. Dalam hati berdoa agar tak satu kelompok dengan si Jahil Bangchan ataupun si Pemarah Minghao.

"Lalisa!" Gadis itu tersentak, seorang temannya menyodorkan penutup mata. Mata gadis itu di tutup, dituntun bu Hyorin menuju dalam kelas. Hening, tak ada suara apapun yang terdengar. Lisa mengesah mulai risau.

"Pelan-pelan Lis, ntar kesandung." Lalisa menoleh linglung, mencari asal suara. Sementara yang menceletuk tadi di pelototi oleh bu Hyorin. Tentu saja Junhoe yang berani bersuara dari tadi, cowok itu pasti memiliki bahan celetukan tak bermutu untuk mengacau suasana hening yang katanya Junhoe benci.

Lalisa berjalan pelan, hampir tersandung kaki sendiri jika dia tidak dapat pijakan segera. Terdengar suara tawa tertahan. Lalisa mendelik, teman-temannya ini memang menyebalkan.

"Awas yah lo pada, gue bogem entar kalo masih ketawa!" Ujarnya mengepalkan tangan.

"Lis itu bu Hyorin, kita di belakang." Lisa mendelik, sebenarnya malu gara-gara salah sasaran.

"Udah Lisa cepat pilih aja," Lalisa mendesah, gadis itu mulai berjalan dengan meraba meja meja di depannya. Lalisa memulai dengan meja pertama, sampai meja ke dua belas dia sama sekali tak menghentikan langkahnya.

Lalu, gadis itu kembali berjalan lagi. Kembali menuju meja ke delapan dari hitungannya tadi.

"Saya milih disini aja bu," Bu Hyorin mengangguk. Guru cantik itu membuka penutup mata Lisa. Membuat si gadis mengerjap-ngerjap bingung, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata.

"BOO!"

"Kambing kaget gue!" Ujarnya datar, sementara yang mengejutkannya hanya terkikik.

"Jadi Lisa, Jaehyun, Jungkook. Kelompok delapan sudah lengkap!" Lalisa mendengus malas, walau akhirnya mengangguk.

"Cobaan macam apa ini," Ujarnya, merasa kesal.

Lisa DiaryDonde viven las historias. Descúbrelo ahora