Chasing After You - Sehun Tzuyu

227 15 1
                                        

Happy reading
--

Sejak kecil, Tzuyu dan Sehun adalah teman akrab

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Sejak kecil, Tzuyu dan Sehun adalah teman akrab. Mereka sering bermain di taman dekat rumah, berbagi tawa dan rahasia. Sehun, yang lebih tua beberapa tahun, selalu terlihat dingin dan cuek di depan orang lain, tetapi di balik itu semua, dia adalah pelindung setia bagi Tzuyu.

Kini, mereka sudah memasuki masa Kuliah. Tzuyu memilih jurusan bahasa, sedangkan Sehun mengambil jurusan politik. Meskipun berada di universitas yang sama, sikap dingin Sehun kadang membuat Tzuyu merasa tidak nyaman. Dia sering merasa diabaikan ketika Sehun berinteraksi dengan teman-teman barunya.

Saat mereka berjalan bersama setelah kelas, Tzuyu merasa ada yang aneh. Sehun tiba-tiba meliriknya dengan tatapan tajam. "Kamu baik-baik saja?" tanya Sehun, meskipun suaranya datar.

"Eh, iya. Kenapa?" jawab Tzuyu, sedikit terkejut. Dia merasa sedikit senang bahwa Sehun masih peduli, meskipun dia terlihat cuek.

"Jangan terlalu dekat dengan pria itu," kata Sehun sambil menunjuk ke arah salah satu temannya Tzuyu yang baru. "Dia kelihatannya nggak serius."

Tzuyu mengerutkan dahi. "Sehun, aku bisa mengurus diriku sendiri. lagipula dia hanya teman, bukan pacar."

"Ya, tapi tetap hati-hati. Aku nggak suka," Sehun menjawab tegas, membuat Tzuyu terdiam. Dia tahu bahwa meskipun Sehun terkesan cuek, ada rasa peduli yang mendalam di dalam hatinya.

Seiring berjalannya waktu, Tzuyu mulai merasakan perasaan yang lebih dalam untuk Sehun. Setiap kali Sehun melindunginya, hatinya berdebar. Namun, dia juga bingung. Mengapa Sehun selalu bersikap dingin padanya di depan orang lain, tetapi selalu melindunginya dalam diam?

Suatu malam, saat mereka berkumpul di kafe kampus, Sehun duduk di sudut, memperhatikan Tzuyu yang tertawa bersama teman-temannya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Suatu malam, saat mereka berkumpul di kafe kampus, Sehun duduk di sudut, memperhatikan Tzuyu yang tertawa bersama teman-temannya. Rasa cemburu melanda hatinya ketika melihat seorang pria lain mendekati Tzuyu. Dia merasa perlu melakukan sesuatu. Kebetulan teman pria nya itu terlihat minum soju dan beer, sedikit mabuk.

"Tzuyu, aku mau bicara," Sehun tiba-tiba berdiri dan menyusup ke antara Tzuyu dan pria itu.

Tzuyu terkejut. "Sehun, kenapa?"

"Aku perlu kamu sebentar. Kita ada urusan penting," jawab Sehun, menarik Tzuyu menjauh dari kerumunan. Dia bisa merasakan tatapan curiga dari teman-teman mereka, tetapi itu tidak masalah. Yang terpenting adalah melindungi Tzuyu.

Setelah menjauh dari keramaian, Tzuyu menatap Sehun dengan bingung. "Sehun, kenapa kamu bersikap kayak gini? Aku bisa mengurus diriku sendiri. kamu kan bukan kakakku"

"Gini, Tzu. Aku cuma nggak mau kamu didekati orang yang ngaak tepat. Kamu nggak tahu siapa mereka sebenarnya," Sehun menjelaskan, suaranya sedikit meninggi. Meskipun terkesan kasar, di dalam hatinya, dia merasa cemas.

"Tapi aku tahu apa yang baik dan apa yang nggak. Kenapa kamu selalu ngerasa harus ngelindungin aku? Aku bukan anak kecil lagi, Sehun," Tzuyu berusaha menjelaskan, tetapi hatinya berdebar.

Sehun menatapnya dalam-dalam. "Karena aku peduli, bodoh! Dan aku... aku takut kehilangan kamu," dia akhirnya mengakui, suaranya bergetar.

Tzuyu terdiam, merasakan jantungnya berdetak cepat. "Apa maksudmu?" tanyanya, suara bergetar.

Sehun mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan rasa malunya. "Aku udah lama suka sama kamu. Tapi aku takut bilang karena aku tahu betapa cueknya aku. Aku nggak mau kamu menjauh hanya karena perasaanku."

Tzuyu merasa hangat di dalam hati, tetapi dia berusaha menahan diri. "aku juga merasa bingung. Setiap kali kamu bersikap cuek, aku merasa itu menyakitkan. Tapi, kenapa kamu selalu melindungiku? Kenapa aku yang kamu pilih untuk diperhatikan?"

Sehun terdiam sejenak, melihat keraguan di wajah Tzuyu. "Karena... karena aku peduli," jawabnya, suaranya bergetar. "Tapi aku juga tidak tahu kenapa aku menyukaimu. Mungkin karena kamu adalah satu-satunya yang bisa membuatku merasa seperti ini"

Tzuyu menatap Sehun, merasakan campur aduk dalam hatinya. "Tapi kenapa kamu tidak pernah bilang? Aku bingung. Aku tahu kita berteman lama, tapi kenapa aku yang kamu pilih?"

Sehun menggigit bibirnya, menahan emosi. "Karena aku takut. Takut kehilangan persahabatan kita," katanya, wajahnya tampak tegang. "Tapi aku nggak mau nunggu lebih lama lagi. Aku udah terlalu lama menyimpan perasaan ini."

"Menunggu?" Tzuyu bertanya, hatinya bergetar mendengar ketegasan dalam suara Sehun.

"Ya. Aku ngaak mau hanya berdiam diri dan membiarkan perasaanku ini menghantuiku. Aku mau kamu tahu kalau aku suka sama kamu, Tzu. Aku nggak ingin nunggu sampai kamu pergi atau sampai aku kehilangan kesempatan ini," Sehun menjelaskan, matanya menatap langsung ke mata Tzuyu.

Tzuyu terkejut mendengar kata-kata Sehun. Dia selalu mengira bahwa Sehun tidak peduli. "aku udah suka sama kamu sejak lama. Tapi aku bingung sama sikapmu yang dingin," ujarnya, berusaha mengungkapkan perasaannya tanpa ragu.

Mendengar pengakuan Tzuyu, Sehun merasa seolah beban di hatinya terangkat. "Jadi, kenapa kita harus terus berputar-putar? Kenapa kita tidak bisa bersama? Aku ingin lebih dari sekadar teman," katanya, dengan nada penuh harapan.

Tzuyu merasa semua keraguannya lenyap seketika. "Aku juga ingin itu, Sehun. Selama ini, aku menunggu kamu untuk mengungkapkan perasaanmu. Aku hanya takut untuk berharap terlalu banyak."

Sehun melangkah lebih dekat, menatap Tzuyu dengan serius. "Jadi, apa yang kita tunggu? ayo kita pacaran," katanya, mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Tzuyu.

Sehun tersenyum, mengangkat dagu Tzuyu dengan lembut. Dengan hati berdebar, mereka saling mendekat. Dalam sekejap, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman lembut, merasakan semua perasaan yang telah terpendam selama ini.

Ciuman itu seolah menghapus semua keraguan, menggantinya dengan rasa hangat yang menyelimuti mereka. Tzuyu merasakan jantungnya berdegup kencang, sementara Sehun menambah kekuatan pelukannya, seakan ingin memastikan bahwa ini nyata.

Ketika mereka terpisah, Sehun menatap Tzuyu dengan senyuman lebar. "Akhirnya," katanya pelan. Tzuyu tersenyum kembali, merasa seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Setelah momen yang penuh makna itu, mereka berdua berjalan kembali ke kampus, tangan mereka saling menggenggam. Suasana di sekitar terasa lebih cerah, dan mereka berdua tak bisa berhenti tersenyum.

Tzuyu menatap Sehun, hatinya penuh dengan kebahagiaan. "Aku nggak pernah membayangkan kita bakal sampai di sini," ujarnya, melangkah dengan ringan.

"aku juga," jawab Sehun, menatap ke depan dengan semangat baru. "Aku merasa semua ini baru dimulai."

Saat mereka melewati koridor kampus, teman-teman mereka menyapa, tetapi Tzuyu dan Sehun hanya saling berpandangan dengan senyum yang tak terpisahkan. Rasanya seperti dunia di sekitar mereka tidak ada artinya dibandingkan perasaan yang baru saja mereka bagi.

Di tengah keramaian, Sehun berhenti sejenak dan berbalik ke Tzuyu. "Jadi, kita resmi pacaran ya sekarang?" tanyanya dengan tatapan serius.

"Ya," jawab Tzuyu, merasa bangga dan bahagia. "Kita resmi."

Sehun tersenyum lebar, merangkul Tzuyu dan menariknya lebih dekat. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, saling berbagi cerita dan tawa, berkomitmen untuk saling mendukung dan menjaga cinta yang baru mereka temukan.

Fin.

Dear Crush;Where stories live. Discover now