Faranisa Pratibha

83 8 11
                                        

Hari ini sekitar pukul 07.23 WIB, aku pergi berangkat ke kampus bersama motor matic kesayanganku. Seperti biasa, aku memarkirkan motorku di tempat yang tidak terkena sinar matahari. Bukan apa-apa, aku hanya takut motorku sakit. Hehe.

Perkenalkan namaku Faranisa Pratibha, mahasiswi semester 6 jurusan Ekonomi di perguruan tinggi kota Jakarta. Hobiku membaca dan menulis. Aku pecinta susu strawberry dan eskrim strawberry. Aku juga suka hangout bareng teman-teman.

Singkat cerita, sekarang aku sedang berada di kantin bersama teman-temanku. Ada Dea, Gina, Putri dan Azkia. Aku berteman dengan mereka sejak awal ospek di kampus ini. Kami bertekad akan selalu bersama-sama meski dalam keadaan susah sekalipun. Terharu aku. Betapa beruntungnya mempunyai teman seperti mereka.

"Ra, gimana sama Dafa?" tanya Putri yang sedari menyedot minumannya.

Aku terdiam memikirkan lelaki yang bernama Dafa. Sudah beberapa hari ini lelaki itu tak menampakkan diri di hadapanku. Tidak juga memberi kabar. Dafa seperti hilang ditelan bumi dan sulit untuk aku gapai. Ah memang benar, Dafa terlalu sulit untuk aku sentuh hatinya. Seperti tidak ada ruang untukku.

"Ra, kok diem?" ucap Putri lagi.

"Mikirin Dafa ya Ra," tebak Gina.

"Nggak biasa aja," selaku.

"Ra, Dafa masih nggak kasih kabar? Kalau gitu mending lo lupain aja, cowok kayak Dafa nggak pantas dapatin cewek baik seperti lo," ujar Dea yang memang dari awal tidak suka aku dekat dengan Dafa. Katanya Dafa suka nyakitin banyak perasaan perempuan.

Bagi aku, Dafa itu rumah. Tempat ternyaman yang pernah aku singgahi. Kini, sudah tidak ada lagi tempat ternyaman yang aku singgahi. Hanya Dafa, dan tetap Dafa yang akan menjadi tempat pulangku.

"Dafa, lo dimana? Gue rindu," batinku teriak.

Diary Of FaraUnde poveștirile trăiesc. Descoperă acum