"Me- memangnya kenapa Guanlin-ah?"
"Cepat beri tahu aku!"
"T- Terminal dekat cafe tempat aku bekerja"
Tut!
Sambungan telepon langsung diputuskan saat Jaehwan baru selesai menyebutkan keberadaannya.
"Jangan kesini, Guanlin-ah.. " lirih Jaehwan. Ia merasa sangat tidak enak, entah kenapa.
T
api, kalau boleh jujur ia juga berharap akan ada yang membantunya saat ini. Ia membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan sandaran ketika ia tidak mampu menghadapi masalahnya sendirian.
Lima belas menit kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Jaehwan. Sosok Guanlin keluar dari mobil dan mendekatinya dengan raut wajah serius.
"Hyung"
Jaehwan mendongak, menatap Guanlin sambil tersenyum kecil.
"Kenapa-"
Jaehwan tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat itu karena Guanlin langsung memeluknya erat.
Namun hanya sejenak. Tanpa banyak bicara, ia menarik koper hitam Jaehwan dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Ayo hyung" ucap Guanlin, lembut.
Jaehwan mendongak, menatap Guanlin bingung. Pria tinggi itu hanya tersenyum kecil lalu menarik perlahan tangan Jaehwan mendekati mobilnya.
Jaehwan membiarkan tubuhnya di dorong perlahan memasuki mobil, dan hanya diam saat Guanlin mulai mengendarai mobilnya.
Suasana hening di dalam mobil membuat Jaehwan jengah sendiri. Ia melirik Guanlin beberapa kali, tapi tidak berani berbicara. Hatinya sedang berkabut sampai ia tidak bisa memilih topik pembicaraan yang menyenangkan.
"Hm.. Guanlin-ah.."
"Ada apa hyung?"
"Uh.. Kenapa kau.. Menanyakan keberadaanku tadi?"
Sejenak Guanlin hanya diam, dan Jaehwan tidak menyadari perubahan ekspresi Guanlin serta cengkeramannya pada stir mobil sedikit mengerat.
"Karena aku tau, mungkin kau butuh seseorang saat ini. Sepertinya batin kita memang sudah terikat" jawabnya, bercanda.
Jaehwan yang awalnya tampak serius menjadi mencebikkan bibir jengkel mendengar jawaban main-main dari Guanlin. Setelah mencubit kecil bahu Guanlin, Jaehwan menyandarkan tubuhnya.
"Aku merajuk, jangan berbicara padaku" sahutnya ketus. "Tapi kalau aku bicara terlebih dahulu, kau harus menjawab" lanjutnya.
Mendengar ucapan Jaehwan, Guanlin terkekeh gemas. Jaehwan terdengar seperti bocah, astaga!
"Baiklah hyung. Aku mengerti"
"Sudah kubilang jangan berbicara!"
"Aku hanya menjawab ucapanmu, astaga.." Guanlin menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Tidak boleh!"
"Baiklah-baiklaah"
"Nah, kau masih menjawabnya!"
Akhirnya Guanlin diam dengan senyum tertahan di bibirnya, dan tangan mencengkeram erat stir mobil. Melampiaskan rasa gemasnya atas tingkah Jaehwan.
Suasana kembali hening setelah perdebatan kecil itu. Dengan ragu-ragu, Jaehwan menoleh kembali pada Guanlin yamg fokus menyetir.
"Kau benar-benar tidak mau bersuara lagi" cicitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
If You Can't, Let Me Go
Fanfictionjika kau tidak bisa, biarkan aku pergi -KJH bolehkah aku egois? -KDN WARN!! -⚠BxB -⚠Mpreg -⚠🔞 Homophobic STAY AWAY demi kedamaian bersama^^
•11
Mulai dari awal
