-meet different pain-
Jika kalian dihadapkan dengan pilihan menyakiti atau tersakiti kira-kira mana yang akan kalian pilih?
Menyakiti berarti kau akan ditempatkan dalam kondisi dimana kau adalah terdakwa yang bengis nan jahat tanpa welas asih. Atau pihak yang tersakiti dengan konsekuensi menjadi pihak yang akan terpuruk dengan pandangan iba oleh orang di sekitarmu.
Sayangnya, nona Hyuga yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini lebih memilih menjadi korban ketimbang terdakwa. Atau lebih tepatnya tak pernah diberi kesempatan untuk memilih akan berperan sebagai apa.
Kesan gadis lugu dan polos nampaknya menjadi “kegemaran” tersendiri bagi bajingan diluar sana untuk memanfaatkannya. Padahal apa salahnya?
“Hidup terus berjalan Hinata, entah itu kau bergerak atau pun tidak. Sudahlah lupakan si brengsek kuning itu!!!.” Ucap seorang gadis tajam.
Hyuga Hinata masih diam tak bergeming sama sekali. Ia masih terfokus pada hujan dibalik jendela kamarnya. Jangan tanyakan keadaannya. Hmmm,,, mengenaskan kiranya kalau digambarkan.
“Hime cukup kau mengacuhkan ku!!.” Suara cempreng dengan nada tinggi menggema dalam keheningan yang terjadi beberapa saat lalu.
“Aku tahu Ino, tapi percuma. Aku tak bisa.” Ucap Hinata putus asa.
Pandangannya masih lurus kedepan penuh kepayahan. Perempuan yang menjadi lawan bicaranya tak lain adalah Yamanaka Ino ia acuhkan. Sahabat pirangnya yang penuh energi dan berisik, namun sangat perhatian.
“Kau belum mencoba, ayolah hime!!! Jangan menjadi perempuan lemah. Kau bisa buktikan pada si brengsek itu kalau kau bisa tanpanya!!!.” Ucap ino penuh penekanan.
Ia geser posisi duduk Hinata hingga sekarang mereka saling berhadapan. Kini dua pasang mata saling bertatap, yang satu penuh kesenduan sedangkan yang lain penuh dengan keteguhan.
“Apa aku bisa Ino? Kau tahu rasanya sangat sakit. Disini..” Ucap hinata lemah, tangannya menunjuk sisi dadanya yang terasa amat sesak seolah tak ada pasokan udara sama sekali.
“Demi Tuhan!!! Kau sangat bisa HINATA.” Lelah juga Ino meyakinkan si sulung Hyuga ini. Namun apa daya, Ino tak menampik ia juga merasakan sesakit apa perasaan sahabatnya ini. Salahkan saja si kuning brengsek yang telah membuat himenya jatuh se jatuh jatuhnya.
Demi apapun, ia rela menukarkan gadis bak berlian seperti Hinata dengan orang ketiga atau lebih tepatnya jalang yang tak ada apa apanya. Mungkin kalau Ino bertemu dengan pria itu ia akan berteriak didepan mukanya betapa iya sangat tidak beruntung telah meninggalkan gadis seperti hinata. Tentunya dengan tambahan makian. Hellll ia juga kesal, jadi tak ada salahnya untuk mengumpatkan?.
“Ino boleh aku meminjam bahumu? Sekali ini saja untuk terakhir kalinya izinkan aku menangis. Rasanya sangat sesak Ino, sungguh.” Bahu mungil hinata bergetar menahan isakan, bibir yang dahulu merah bak ceri sekarang teramat pucat seperti tak ada kehidupan dan jangan lupakan pipi yang mulanya chubby dengan rona merah kini tinggal pipi tirus tak berisi.
Sungguh sahabat yang sangat ia sayangi ini sangat menderita demi cintanya.
“Menangislah hinata. Tapi berjanjilah ini yang terakhir.” Dengan perlahan ino memberikan pelukan pada Hinata, pelukan hangat yang ia berikan demi menguatkan sang sahabat.
Lama mereka bertahan dalam situasi kesenduan. Tak ada yang berbicara kecuali isakan lirih yang terdengar dari bibir pucat Hinata.
Tanpa mereka sadari dibalik pintu berdiri pria paruh baya yang melihat dengan tatapan sendu kearah sang putri. Yaa dia adalah Hyuga Hiashi ayah dari Hyuga Hinata. Pria itu merasa gagal untuk menjaga sang putri, diluaran sana ia sangat terkenal dengan kegarangannya di medan bisnis dan jangan lupakan overprotektifnya terhadap kedua putrinya.
YOU ARE READING
Promise
Fantasy"Aku lebih baik mengalah untuk cinta yang telah lama kalah." -Hyuga Hinata- "Kau yang membuat aku mengingkari janji itu Hyuga." -Uchiha Sasuke- "Kesalahan terbesar ku adalah melepaskan cinta yang sulit untuk dilupakan." -Uzumaki Naruto- Disclamer :...
