Terlahir Sebagai Rahmat

130 21 7
                                        

Di sela-sela waktu kosong, saya menyempatkan diri bercengkerama dengan beberapa keluarga, tidak terkecuali keluarga muda, keluarga Pak Horas. Dalam suatu kali pertemuan yang tidak disengaja, saya mendapati seorang ibu sedang memapah anaknya yang lumpuh. Belum ada tegur sapa, hanya senyum simpul dengan sengaja kulemparkan pertanda bahwa ada penerimaan. Langkahku semakin mendekati sang ibu. Rumahnya, tidak terlalu jauh dari tempat mereka berlatih berjalan.

Sang ayah datang dengan membawa sebuah botol minuman, berisi air hangat. Anaknya diajak meneguk air minum guna memulihkan tenaganya yang sudah habis. Aku terkesima dengan kehangatan cinta mereka dalam keluarga. Saya ingin berbicara dengan kedua orang tua sang anak. Kami masuk ke rumah dan mulai bercengkerama. Awalnya, tidak ada cerita yang menyinggung keadaan sang anak. Ketika saya melihat sebuah foto di dinding, sang ayah mendekatiku dan berkata, "Frater, dia itu semata wayang dan cacat pula. Namun aku tetap gembira menerimanya".

"Maaf, saya tidak sengaja melihatnya, Pak" ungkapku tanpa harus menyinggung perasannya.

"Banyak orang merasa bahwa keluarga kami tidak akan bahagia karena anak ini cacat, namun kami tetap bergembira", sang ibu mulai memelas mata yang sudah berkaca-kaca.

"Sudah berapa tahun Bapak dan Ibu berkeluarga?" saya mulai mengorek informasi seputar keluarga mereka.

"Dua puluh tahun yang lalu, Frater. Kami bertemu dalam sebuah perusahaan. Setiap malam minggu, kami berusaha bertemu barang satu jam. Dalam setiap pertemuan, kami selalu berkisah tentang indahnya sebuah keluarga; punya anak yang sehat, punya harta dan rumah yang layak huni, artinya keluarga yang bahagia menurut kami" sang ayah mulai bertutur.

"Lima tahun pertama, atas desakan keluarga, kami pernah berencana bercerai karena belum mempunyai keturunan. Namun kami tidak sanggup membuat keputusan, kami masih saling mencintai. Tiga tahun kemudian, masa-masa penantian, seorang anak belum ada dalam keluarga kami. Timbul sebuah mufakat bahwa kami harus mengadopsi anak. Walau kami sudah membuat kesimpulan, istri saya tetap bersikukuh menunggu kehadiran anak dari Tuhan, Tuhan pasti memberikan kado terindah bagi keluarga kita"

"Itu hal yang muskil, bahkan mustahil bagi kita"

"Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kalau kita menyatakan mustahil, berarti kita tidak beriman" istri sangat teguh dalam prinsip.

Sang ayah melanjutkan ceritanya, "akhirnya, dia lahir setelah sepuluh tahun penantian. Saat ini, anak kami ini sudah berumur sepuluh tahun, namun dia mengalami kesulitan berjalan. Dokter berkata bahwa dia cacat pada bagian tulang kaki."

Karena sang ayah tidak sanggup lagi melanjutkan ceritanya, ibu melanjutkan penuturan suaminya, "hari-hari pertama, sebagai ibu, saya tidak mampu melihat anakku ini, namun ayahnya tetap berkata bahwa inilah hadiah terindah dari Tuhan. Dulu, saya menanti dengan begitu lama, namun saya bersungut-sungut ketika Tuhan telah memberikan apa yang saya minta. Tidak adil bila saya harus bersungut-sungut".

"Iya, dia lahir sebagai rahmat bagi kami. Kegembiraan bukan datang dari setiap hal yang menyenangkan. Saya yakin, setiap pengalaman hidup adalah hal yang menggembirakan hati bila mata saya sudah berselaputkan kegembiraan. Melihat anakku ini, saya bertambah semangat bekerja dan memberikan apa yang dia sukai selama Tuhan menitipkannya pada kami. Kado terindah bukan tampak dari bentuknya yang sempurna, namun kesediaan hati untuk menerimanya", sang ayah menutup.

Pesan Secangkir Kopi

Segala sesuatu yang datang pada diri kita adalah hadiah. Keindahan hadiah yang datang tidak terletak pada hadiah tersebut, namun bagaimana kita memandangnya. Keindahan terletak pada seni kita memandang sesuatu. Sama halnya dengan kebahagiaan. Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah kita sanggup bahagia bila yang datang adalah hal buruk? Atau, mampukah kita melihat keindahan dalam sesuatu yang buruk? Perjumpaan dengan keluarga Pak Horas memberikan sejuta makna dalam hidup. Bila mampu menerima keuntungan mengapa harus takut menerima kemalangan. Sebuah titik keadilan dalam hidup akan hadir bila hati bersih dan menerima segala pengalaman hidup yang datang. Mungkin pengalaman Pak Horas adalah bagian dari pengalaman kita, mari kita belajar untuk menjadikan sesuatu yang lahir dalam keluarga kita adalah rahmat. Maka, kita harus mengasah mata batin kita untuk mampu melihat keindahan dalam sesuatu yang buruk. Itulah yang disebut dengan seni memandang hidup.

Kemanisan di balik KepahitanStories to obsess over. Discover now