Namaku Devi, Kenapa? Karna aku suka hujan. Apa hubungannya? Gak ada sih, cuma sebatas teman.
Aku tinggal di sebuah perkampungan yang Iiiiiindaaaaah. Biasa aja sih. Namanya Kampung Durian Runtuh. Upin & Ipin dong. Oke, bukan. Namanya Kampung Cicariu, Desa Ciroyom Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat.
Di sana aku hidup. Ya iyalah, di mana lagi? Kan itu tempat tinggal elu. #komen mulu.
Sesuai judul, di sini aku bakal nyeritain kenakalanku selama duduk di Sekolah Dasar. Yaitu, SDN I Cisauheun. Aku sekolah di sana selama enam tahun. Kalo tujuh tahun berarti gak naik kelas.
Teman dari Kampungku yang seangkatan cuma 3 orang. Namanya, Siti Mutiara, Siti Alisa, dan Siti Mila. Nama asliku juga Siti Devi. Jadi, kita namakan geng ini 4S (4 Siti). Jangan salah, ya. Kata guru ngaji, Siti itu dalam bahasa Arab artinya ratu. Jadi, sebenernya nama kita itu, Ratu Mutiara, Ratu Alisa, Ratu Mila, dan Ratu Devi. #Abaikan.
Untuk nama panggilan, biasanya pada disingkat, kayak Sitmut, Sital, Sitmil, dan Sitdev. Tapi kadang juga ada yang manggil nama belakangnya aja, soalnya kalo dipanggil nama depannya pasti nengok semua.
Saat duduk di bangku kelas satu, kita diantar Ibu-ibu kalo ke sekolah selama satu semester, di semester dua. Ibu-ibu itu mulai membiarkan kita mandiri dengan berangkat ke sekolah sendiri. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 2Km, dan itu kami tempuh dengan jalan kaki.
Ibunya Mila, mengatur posisi baris kita jika sedang berjalan, jangan bergandengan katanya takut ke serempet kendaraan kalo lewat jalan raya, kalo lewat pesawahan sih otomatis, ya, karna galengan/jalannya cuma cukup buat jalan satu orang. Nah, Mutiara di posisikan paling depan, Mila kedua, Alisa ketiga, dan aku ke empat. Katanya aku paling dewasa. #Tua dong. Enggak, ya. Yang paling tua diantara kita itu Alisa, aku kedua, Mila ketiga dan Mutiara ke empat.
Kita itu empat sekawan yang mainannya gambar, beklas, encrak, sondah, galah, sabintrong, petak umpet, boi-boiyan, kasti, dan masih banyak lagi permainan lainnya. #Gak tau? Cari di google.
Kadang kita suka masak-masakan di wajan kecil milik Mila. Kita berpetualang dengan roket yang indah. Enggak, petualangan kita cukup keliling kebun orang untuk mencari jamur saat musim hujan, metik buah rambutan punya orang, manjat pohon jambu biji, dan ke sawah untuk berburu ikan kecil atau belalang saat musim bersawah. Ke sungai, mencari kepiting dan anak udang untuk di masak.
Kadang kita masak tanah, daun-daunan hanya untuk mainan. Pernah waktu itu saat bulan Puasa, kami main masak-masakan setelah pulang sekolah. Dengan kayu bakar yang kami cari dari kebun dan tungku yang dibuat dari batu bata. Cuaca saat itu panas, dan tentu kami sangat kehausan dengan bermain api di depan tungku itu. Alhasil, aku pulang ke rumah dan meminta izin pada Ibu untuk batal puasa. Ibuku mengizinkan, toh waktu itu aku masih kelas tiga SD. Tapi aku menyesal setelahnya, karna hanya segelas air membuat puasaku yang seharusnya full sebulan malah bolong satu. Dari situlah, aku mengurangi main api saat bulan puasa, sampai alhamdulillah tahun selajutnya puasaku full 30 hari. Horeeeee.
Tidak ada istilah MKKB (Masa Kecil Kurang Bahagia) dalam hidupku. Karna alhamdulillah, bahagiaku itu sederhana. Hanya dengan berlomba perahu yang terbuat dari kertas disaluran air (susukan/selokan) saat kami pulang sekolah jalan sawah. Menjaili kerdaraan bermotor saat kami pulang jalan raya. Berkumpul di bawah torn air belakang perpustakaan saat istirahat, dan hujan-hujanan.
Pernah suatu hari hujan turun saat pulang sekolah dan kami memutuskan untuk pulang jalan sawah. Hujan saat itu sangat deras. Tak ada satu pun dari kami yang membawa payung. Untung tersedia kantung keresek hitam besar untuk melindungi tas agar buku-buku tidak basah. Saking derasnya hujan, air di saluran air pinggir sawah meluap, kami tergiur untuk turun ke dalam saluran air itu, tapi takut dimarahi saat sampai di rumah karna air itu berwarna coklat dan otomatis seragam kami akan kotor nantinya.
Setelah memikirkan berbagai alasan untuk disampaikan pada orangtua nanti, akhirnya kami pun turun ke dalam saluran air yang tingginya sampai di atas perut dan akhirnya pulang kerumah dengan keadaan basah kuyup.
Tak ada kemarahan yang aku lihat dari raut wajah kedua orangtuaku. Mereka malah khawatir aku sakit karna pulang dalam keadaan basah kuyup.
Dan memang benar, keesokan harinya aku benar-benar sakit. Ibu melarang untuk pergi ke sekolah. Namun tak kupedulikan, toh aku masih sanggup berjalan dan menulis, jadi aku pasksakan untuk sekolah.
Saat itu sedang musim panen, jadi orangtuaku sibuk di sawah saat aku pulang sekolah dalam keadaan lemah, letih, dan lesu. #Lebay. Di rumah tidak ada siapa-siapa. Jadi aku putuskan untuk menyusul ke sawah dengan masih mengenakan seragam merah putih sambil menangis karna kepalaku sakit.
Sampai di sawah tempat orangtuaku panen. Mereka panik melihat aku berjalan gontai sambil menangis dengan wajah yang cukup pucat, hingga akhirnya ayah menggendongku pulang untuk beristirahat di rumah.
Selama perjalanan pulang, aku bernyanyi.
Kasih Ibu
Kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya
Menyinari dunia.
Kali ini aku nangis bukan karna sakit kepala lagi, tapi terhura #terharu mengingat perjuangan orangtuaku yang rela panas-panasan untuk mencukupi kehidupan keluarga.
Sementara aku? Sekolah saja masih belum benar, belum serius, malah pernah bolos sekali karna kesiangan. Bukan aku yang kesiangan, soalnya di antara kita berempat aku yang paling gesit bangun pagi. Waktu itu, aku, Alisa, dan Mila menunggu Mutiara yang kesiangan bangun. Kami berangkat jalan sawah karna itu jalur terdekat untuk sampai di sekolah. Di perjalanan, kami terus berpikir, "pasti kesiangan" karna saat berangkat dari rumaj itu sudah jam delapan lebih, sedangkan masuk sekolah jam tujuh lewat lima belas, pulang jam sepuluh. Jadi, kami putuskan untuk tidak pergi ke sekolah, tidak juga kembali pulang, kami diam di sebuah gubuk/saung di tengah sawah milik Pak Yaya. Kami membuat karangan PR sendiri di sana untuk ditunjukkan pada orangtua. Setelah dikira sudah mulai siang, kami pun pulang. Tapi, setelah sampai di rumah, kami jujur bahwa membolos hari itu, kami juga bilang kalau PR itu buatan kami sendiri dan hasilnya, kami terkena marah berjamaah. #Daripada bohong 'kan?
Itulah sebagian cerita kenakalanku saat di Sekolah Dasar dulu, di bab selanjutnya ... akan kuceritakan tentang kisah cinta monyet kami berempat. Hihi.
YOU ARE READING
Biar Kuceritakan
AdventureDi dunia ini gak ada yang instan, semuanya butuh proses. Mie instan aja harus direbus dulu baru bisa dimakan. Kalaupun suka yang mentah, tetep harus dibuka dulu 'kan bungkusnya? Segala hal, gak ada yang statis, semuanya dinamis. Begitupun kehidupan...
