Verse-Chorus

2.5K 189 33
                                        




Maukah lagi kau mengulang ragu, dan sendu yang lama

"Aku tidak bisa, Mike. Maafkan aku tapi aku benar-benar tidak bisa pulang kali ini" Krist menyenderkan punggungnya di jendela kantor, menghela nafas.

"Sampaikan salamku kepada Ibu dan Ayah, aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa hadir. Kau tau kan perjalanan kali ini benar-benar berpengaruh besar terhadap karirku?" Lelaki itu menegakkan punggungnya dan kembali berjalan ke arah meja bertuliskan namanya

"Tidak, bukan berarti aku tidak memprioritaskanmu tapi tolong mengertilah kali ini saja. Kau tau kan aku selalu mengusahakan yang terbaik bagi kita? Mike, kau sedang dalam keadaan tidak tenang, bisakah kita bicara lagi nanti? Hubungi aku kembali ketika kau sudah bisa membicarakan ini dengan kepala dingin. Aku mencintaimu" Sambungan itu terputus, dan untuk kesekian kalinya lelaki itu menghela nafas. Lusa adalah hari ulang tahun pernikahan orang tua Mike, kekasihnya. Untuk itu ia memintanya kembali, terbang ke Bangkok, menghadiri pesta dan menjadi pendamping Mike di hari bahagia itu. Dan Krist sungguh ingin datang. Menjalin kasih selama 3 tahun dengan Mike membuatnya kenal dekat dan menganggap kedua orang tua Mike seperti orang tuanya sendiri, namun pekerjaannya disini tidak bisa begitu saja ia tinggalkan. Menurutnya, meninggalkan pekerjaan demi kepentingan pribadi merupakan hal yang tidak profesional dan Krist benci orang yang tidak profesional.

Krist sedang meletakkan kepalanya di atas meja ketika ia mendengar suara pintu terbuka, disambut wangi parfum yang sudah sebulan ini selalu singgah di indra penciumannya, membuatnya hafal tanpa harus melihat sang empunya.

"Kau sakit?" mendengar bosnya berbicara padanya membuat Krist mengangkat kepalanya.

"Tidak, hanya ada sedikit masalah. Tapi semuanya sudah baik-baik saja" jawabnya sambil tersenyum, berusaha meyakinkan bosnya (juga dirinya sendiri) bahwa semua memang baik-baik saja.

"Aku tidak yakin. Apa yang terjadi? Apakah masalah yang kau maksud adalah masalah kantor?"

"Bukan pak, hanya sedikit masalah di rumah. Tapi sungguh, tidak ada apa-apa"

"Sudah berapa kali aku bilang untuk tidak memanggilku dengan sebutan 'bapak'? Apakah aku semakin terlihat tua dan terlalu mirip ayahku sehingga kau lupa bahwa aku hanya terpaut 2 tahun diatasmu?" Krist tersenyum geli, berjalan ke arah meja bosnya sambil membawa beberapa berkas yang harus ditanda tangani.

"Astaga maafkan aku P'. Aku hanya sedang berusaha profesional. Bayangkan bagaimana jika aku keceplosan memanggilmu dengan sebutan 'P'' ketika sedang meeting? Atau ketika sedang ada orang lain? Bukankah hal itu tidak baik?"

"Memang kenapa? Bukankah sudah sewajarnya jika sekertaris pribadi memang dekat dengan atasannya? Lagipula yang menyuruhmu meninggalkan sebutan 'pak' kan aku sendiri, siapa yang berani melawan kata-kataku?" Kali ini Krist tertawa lebar, terheran mendengar bosnya yang biasanya tidak pernah secerewet ini.

"Baiklah bosku yang muda dan tampan, aku tidak akan memanggil P' dengan sebutan 'bapak' jika sedang tidak ada orang lain? Apakah itu diterima? Dan jangan mengerutkan dahi seperti itu, nanti P' benar-benar akan semakin mirip dengan ayah P' " Krist mengambil berkas yang sudah ditanda tangani bosnya lalu beranjak pergi menuju pintu

"Aku akan menyerahkan ini kepada P'Guy dulu, ia sudah menunggunya dari sebelum P' selesai rapat"

"Apakah kau akan makan siang dengan divisi produksi lagi?"

"Sepertinya tidak, tadi P'Guy berkata bahwa mereka akan memesan takeaway saja. Pekerjaan mereka sedang menumpuk"

"Baiklah jika begitu kau bisa menemaniku makan, sekaligus ada beberapa berkas dan jadwal meeting yang harus aku bicarakan. Apakah kau bisa menelponkan restoran di ujung jalan untuk memesan tempat?"

Adu RayuWhere stories live. Discover now