"Namanya siapa? Jo Yuri?"
Aku tersenyum saat mendengar namamu disebut orang lain dengan antusias. "Iya, solois baru grup akapela kampus. Baru masuk tahun ini,"
"Aah, pantes nggak kenal. Tapi hebat banget baru tahun pertama udah jadi solois? Kayak apa sih suaranya? Pierre Morrange?"
"Kamu masih suka berpandu sama film lama itu? Tapi yah, suaranya beneran bagus banget. Bikin jatuh cinta deh," ujarku dengan riang.
"Eit, nggak mungkin. Ada yang namanya batasan gender. Kalau seberbahaya itu, untung aja aku cewek, ahaha..."
Senyumku terangkat sedikit tidak nyaman. Batasan gender katanya? Yah, mungkin saja. Umumnya memang begitu, 'kan?
"Eonni!"
"Ah, kamu udah selesai latihannya?"
Teman karibku itu melirikku dengan tatapan meminta penjelasan begitu seorang gadis, yang sedari tadi kami bicarakan, tiba-tiba keluar dari ruangan yang kami intip dan menyapaku dengan riang.
"Ini Jo Yuri yang tadi kita bicarakan, dia satu kos denganku," dengan bangga aku memperkenalkan Yuri.
"Selamat siang, saya Yuri," gadis itu membungkuk dengan sopan.
"Oh, pantas kamu berhenti tiba-tiba, mengintip latihan klub akapela, lalu tiba-tiba membicarakan solois baru mereka," ia mengulurkan tangan dengan ramah, "selamat, ya,"
"Terima kasih," ia menyambut uluran tangan itu dengan bangga. "Eonni ini apa sih, kok tiba-tiba gencar mempromosikanku. Jaga-jaga biar waktu aku terkenal nanti ya?"
Aku menggigit bibirku gelisah, "enak aja. Udah pokoknya sekarang kita balik ke kosan aja yuk," lalu mengulurkan tangan ke arahnya.
Yuri tersenyum lalu memeluk lenganku erat-erat, "ayo. Lewat pusat pertokoan yuk,"
Kami berdua pun berjalan beriringan dengan akrab. Gadis ini baru saja pindah ke kos tempatku tinggal dan dalam waktu singkat sudah akrab denganku. Tentu saja, karena di antara teman-teman lain tidak ada yang memanjakan gadis ini seperti aku memanjakannya. Aku benar-benar berusaha memahami dan membuatnya senang, bagaimana mungkin ia tidak menempel padaku?
Sampai-sampai teman-teman kos yang lain pernah protes padaku, katanya aku seperti tersihir untuk mengikuti semua keinginan Yuri. Tentu saja aku tertawa mendengarnya.
Karena mungkin saja itu memang benar.
"Eonni, ayo beli makanan. Malam ini kita makan ayam yuk! Berdua aja!" ujarnya sambil menunjuk restoran ayam favorit kami.
Kata berdua aja itu benar-benar kelemahanku. "Boleh. Kebetulan aku kemarin baru dapat transferan dari klien," jawabku santai sambil menarik tangan Yuri ke arah restoran itu.
Namun tiba-tiba langkah gadis itu berhenti. "Ternyata benar apa kata Eunbi eonni," gumamnya lirih.
"Eh? Eonni bilang apa memangnya?"
"Eonni... jatuh cinta padaku ya?"
Senyumku terasa kaku begitu mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut manisnya. Aku mencoba mencari-cari tatapan jenaka yang biasa ditampilkannya saat bercanda. Tidak, tidak ada. Dia benar-benar serius saat mengatakannya.
Dan juga tidak suka.
YOU ARE READING
Siren
FanfictionBagiku, Jo Yuri bukan sekadar gadis manis bersuara indah yang manja. Ia adalah Siren yang membuatku jatuh pada pesonanya.
