1

536 51 6
                                        

Ace menatap lamat-lamat pada selembar kertas jelek di papan pengumuman tentang penawaran tinggal bersama di sebuah apartemen dengan dua kamar. Tangannya satu mengusap pelan dagunya. Ia sibuk menimbang-nimbang tentang penawaran di lembar itu.

Sisa sewa kamar apartemennya kira-kira sepuluh hari lagi. Ia jelas mengerang bete ketika tau Jozu, teman sekamarnya, tidak lagi tinggal disana bersamanya karena ia akan ikut sebuah penelitian yang diadakan kampus selama setahun. Tinggal sendiri di apartemen menjadi dua beban baginya; mahal dan sepi.

Maka itulah mengapa ia berdiri di depan papan pengumuman dan membaca penawaran tersebut. Sejujurnya ia tidak mau, tapi secara menakjubkan hanya ada satu lembar itu yang membahas penawaran tinggal bersama. Sisanya perkara lain; pengumuman perkuliahan, tawaran jasa, tawaran kerja sampingan, pengumuman kompetisi hingga panggilan plus plus.

Ace tidak bisa untuk tidak berhenti mengusap dagunya hingga,

"Kamu tertarik dengan penawaran tinggal bersama itu?"

Ace menoleh ke sebelah kiri. Seorang lelaki jangkung yang ia kira ada sekitar 25 cm lebih tinggi darinya, berdiri di sebelahnya. Lelaki itu menatapnya intens dengan satu senyum kalem. Kemejanya terlihat rapi dengan kedua tangan yang bersidekap di dada.

Ace kembali memerhatikan lembar kertas itu. "Aku sedang mempertimbangkan."

"Begitu? Bagaimana sebagai bahan pertimbangan, kamu melihat isi apartemen itu?"

Ace menoleh. Dahinya mengernyit.

"Aku yang memasang lembaran itu," Ia menjulurkan tangan. "Perkenalkan. Namaku Marco. Phoenix Marco."

Sesaat Ace menatap lamat tangan lelaki itu hingga menyambutnya. "Ace. Portgas D. Ace."

Marco menyambut mantap lalu melepaskannya. Ia melirik arlojinya lalu berucap, "Kamu mau lihat sekarang? Kalau mau, kita bisa pergi sekarang."

Ace mengangguk. Mereka berjalan bersisian menuju halte bis. Sebuah bis berhenti dan mereka beranjak masuk. Lima belas menit kemudian Marco menekan sebuah tombol untuk menepi di halte selanjutnya lalu mereka melangkah turun.

Dahi Ace mengernyit. Marco mengusap tengkuk. "Kita akan mampir sebentar. Tidak apa-apa, kan?" ujar. marco. Ace mengangguk. Mereka berjalan hingga berhenti di satu titik.

"Yahh, ini berbeda dengan apartemen yang tadi kita bicarakan. Kita akan mampir sebentar. Nanti kita lanjut perjalanan setelah itu." Marco mengambil langkah. Ia menoleh kepada Ace yang mematung. Ia mengulas satu senyum kalem. "Ayo."

Mau tidak mau, Ace mengikuti ajakan Marco. Bukannya ia takut pada Marco. Sepanjang perjalanan lelaki itu memperlihatkan gelagat sopan yang membuat ia otomatis percaya. Tapi..., ia serasa segan masuk rumah yang dituju Marco.

Sebuah minka.

Marco menggeser pintu dan mengibaskan tangan untuk mengajak Ace masuk. Segera Ace mempercepat langkah menyusul lelaki jangkung itu. Ia dan Marco menyusuri koridor panjang dan berbelok hingga tiba di sebuah lorong lain. Marco mengetuk hingga terdengar sebuah sahutan. Marco menatapnya dan berucap, "Tunggu sebentar ya."

Ace mengangguk lalu Marco menggeser pintu dan beranjak masuk. Marco hanya membuka sedikit celah dan menutupnya kembali hingga Ace tidak bisa mengintip ke dalam. Dari luar, Ace dapat mendengar sebuah suara yang bersahutan dengan suara Marco.

Tidak lama Marco keluar. Lelaki itu mengulas satu senyum pada Ace lalu berucap, "Ayo," yang segera diangguki oleh Ace. Marco mengambil satu langkah sebagai tanda yang harus diikuti Ace. Ace segera menyusul dan berjalan bersisian dengan Marco. Ketika ia berjalan bersisian dengan Marco, ia dapat melihat secara gamblang senyum yang terpoles di bibir Marco.
.
.
.
Suara kunci pintu diputar terdengar. Perlahan pintu terbuka dan melihatkan isinya. Marco mempersiakan Ace masuk terlebih dahulu lalu ia menyusul setelah Ace masuk.

Ace menatap seluruh penjuru ruangan yang tidak bersekat. Sebuah ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang santai. Ada sebuah televisi layar datar berukuran 48 inci dan satu set sofa lengkap dengan meja.

"Ayo, aku perlihatkan kamarmu," Marco berucap seakan Ace telah pindah kesana dan akan menyusun barang-barangnya. Ngomong-ngomong unit apartemen Marco terletak di lantai tujuh, sehingga ketika masuk ke kamar yang ditunjukkan Marco, dari kaca jendela ia dapat melihat pemandangan kota di sore hari. Ia dapat melihat matahari yang perlahan menurun di antara gedung-gedung. Tidak jauh dari gedung apartemen Marco ada sebuah taman bermain yang saat ini ia lihat sangat ramai. Jiwa kanak-kanak Ace tersulut. Ia menatap Marco dengan semangat dan berkata, "Bisa kita ke taman itu?" tunjuknya.

Senyum Marco semakin lembut. "Boleh. Setelah aku mengenalkan setiap sudut apartemen ini padamu."

Ace menggeleng kuat. "Enggak usah. Kamu kasih lihat setiap sudut unit ini setelah aku pindah aja. Sekarang kita pergi ke taman!"

Itu bukan permintaan. Itu titah. Marco hanya mengangguk dengan senyum tetap terulas.
.
.
.
Iyesd. Satu janji lunas. Karena saya tidak jadi mengepos orific di akun ini, maka saya bisa mem-post fanfic satu ini lebih cepat. Sejujurnya saya ada pertimbangan untuk MihawkxShanks, tapi apalah daya alur cerita belum benar-benar rampung.

Begitulah. Fanfic kali ini adalah MarcoxAce. Ada yang meng-kapal-kan mereka? Hehe. Sebagai bocoran, tingkat keringanan dan keberatan (apasih) alur cerita ini ada di antara Unwanted Desire dan Softly as Love.

Sekian dulu deh bocorannya. Ehh, satu lagi deng. Cerita ini bakal cepat selesai perkaranya 😘😘😘

Bubay semua 😘😘😘

Between Me and You in Our ApartmentOpowiadania do pokochania. Odkryj je teraz