"Mau kemana mas?" Tanya Mhia kepada suaminya yang nampak merapikan bajunya dengan tergesa-gesa.
Sambil mengoleskan pomade di rambutnya, lelaki berkulit putih bersih berperawakan sedang itu menjawab polos "Ada WA dari mami, mas diminta pulang"
"Sekarang?" Mhia bertanya lagi
"Ya, baca aja itu WA nya" balas Ardi gak pengen panjang lebar berbalas jawab dengan istrinya.
Mhia melihat HP Huawei milik suaminya tergeletak diatas seprei kasur berwarna pink. Ia lalu mendekatkan kepalanya dan melihat sebuah chat "Ardi, segera pulang ya, ibu tunggu sekarang. Penting."
"Mas, saya ikut ya, mungkin Mami lagi sakit atau lagi butuh bantuan tenaga kita" pinta Mhia ke suaminya.
"Mmm.. Iya....tapi...Ntar Mas tanya Mami dulu ya" jawab Ardi.
"Gak usah ditanya mas, aku kan istrimu" balas Mhia sedikit ketus. Bibir bagian bawahnya terlihat mencibir gak suka dengan jawaban suaminya.
Tanpa menghiraukan istrinya, Ardi langsung menelpon Maminya. "Mi, ntar lagi Ardi pulang. Ardi sama Mhia ya.... soalnya..." Belum lagi Ardi sempat menjelaskan alasannya Maminya langsung memotong "Eeehh...Gak usah, kamu sendiri aja, ini masalah keluarga kita, gak usah ajak istrimu"
"Ya mi" jawab Ardi. Telepon langsung terputus. Ardi mengatakan pada istrinya kalo Maminya hanya mau ketemu dirinya saja. Rasa jengkel Mhia makin bertambah, namun ia gak bisa berbuat apa-apa. "Ya udah...kalo gitu hati-hati aja ya mas" ucap Mhia sambil merapikan bagian belakang baju suaminya.
Dengan mengendarai Toyota Calya warna abu-abu metalik, Ardi meninggalkan rumah mertuanya dimana ia dan istrinya tinggal. Mereka sudah menikah sekitar 2 tahun, namun mereka belum dikarunia buah hati.
Rumah putih berpagar hitam itu pun ditinggalkannya. Berbelok pelan menuju jalan Mangga di kawasan Lingkar Timur Kota Bengkulu. Dengan menyetel lagu kesayangannya "Sa Su Sayang" Ardi memacu santai kendaraannya. Tujuannya adalah rumah orang tuanya di kawasan Pariwisata di pinggir Pantai Panjang.
*
Belum lagi Calya abu abu yang dikemudikan Ardi menghentikan mesinnya, Dina ibunya sudah mencak-mencak. "Cepat ke kamar mami" kata ibunya setengah berteriak.
Mendengar nada kurang enak, Ardi langsung mematikan mesin mobilnya. Ia lalu buru buru menutup pintu pagar yang terbuat dari besi berwarna hitam. Dengan setengah berlari Ardi menuju pintu rumah orang tua nya itu.
Rumah berwarna putih suram termakan usia, nampak kurang terawat. Di rumah ini hanya dihuni oleh mami dan adik perempuan Ardi.
"Kakak....." teriak Anggi girang melihat kakaknya pulang. Gadis lincah ini segera memeluk kakaknya. Sepertinya ia sangat merindukan kakaknya. Gadis ini terus menggelayuti kakaknya yang hanya bisa berdiri mematung.
"Anggi, kayaknya mami lagi marah sama kakak" bisik Ardi ke telinga adiknya sambil melepaskan rangkulan adiknya.
Anggi lalu melepaskan rangkulan tangannya dari leher kakaknya. Dengan cemberut Anggi berpesan kepada kakaknya "Nanti kalo udah sama mami, Anggi tunggu di kamar ya kak". Anggi lalu berlari kecil menuju kamarnya.
Ardi lalu mengetuk pintu kamar maminya. Baru satu kali mengetuk sudah ada jawaban dari balik pintu "masuk aja kesini cepat" teriaknya ketus.
Ardi lalu membuka pintu kamar maminya dengan perlahan, seakan tidak mau menimbulkan suara yang bisa membuat bara api di dada maminya meledak. Ardi lalu berjalan perlahan menuju ke atas dipan empuk dilapisi seprei berwarna biru tua. Ia duduk menghadap wajah maminya yang sudah duduk bersandar di sandaran dipan.
"Kamu ceraikan istrimu" sebuah kalimat pendek dan tegas meluncur ringan dari bibir maminya.
***
Bersambung ke bagian 2
YOU ARE READING
Kisah Kelam Wanita Malang (On Going)
RomanceKisah nyata wanita wanita yang tersakiti
