We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

30 4 4
                                        

Dentuman halus jam dinding rumah sakit menutup senjaku hari ini. Seharusnya aku tak perlu menyaksikan hal ini sebelumnya,namun mengapa? Hatiku terus saja berharap akan hal ini.
Melihat jasadku sendiri terbaring hidup tanpa jiwa yang dikerebungi isak tangis mereka.
Namun, sepertinya ini hal terindah sekaligus hal yang sedikit mengejutkan di hidupku. Sebuket Tulip putih dibawa khusus untukku bahkan itu berasal dari tangan Azril.
8 Tahun aku menunggu hal ini,namun baru ketika aku terbujur lemah dalam kurungan bunga tidur dari Tuhan baru dia mengabulkannya. Aku harap ketika jiwaku kembali bermukim dijasadku bunga itu masih ada tanpa satu kelopakpun yang mengering.

"permisi,keluar sebentar ya saya mau cek,pasienya" kata pria muda berjas putih dengan beragam perlengkapan.

Perlahan dilangkahkannya kaki untuk mendekatiku. Aku melihat dia sedikit meraba tubuhku,muka cemasnya membuatku tertawa lepas. Aku tau mungkin tak lama lagi jiwaku akan kembali kepada jasadku yang sedang tidur panjang ini,hanya perlu menunggu pangeran saja sepertinya.

Heheheh

Setelah puas mendiagnosaku dengan ilmunya itu Beberapa langkah dia ambil mendekati ibuku,Azril,dan seseorang yang baru saja datang sembari menenteng kresek merah yang kurasa itu adalah keperluanku atau ibuku mungkin.

"gimana dok?" sergap ibuku ketika dia melihat muka cemas seorang dokter muda.

"hmm, dia masih koma tapi masa kritis udah lewat" ucap Dokter yang kini memasang muka lega.

"syukurlah" ucap Adit disamping Azril yang tampaknya tak menyukai kehadiran Adit.

Beragam dialog mereka lakukan sedangkan aku hanya melihat mereka mengukir senyum karna masa kritisku tlah lewat, berharap ada seseorang yang bisa melihatku.
Namun sepertinya aku harus sendiri menundukan wajah dalam dekapan sampai Tuhan mengijinkan jiwaku merasuki jasadku.
Aku tak biasa,melihat mereka tersenyum membuatku rindu pelukan ibu.
Aku merasakan kerinduan secara tiba-tiba,aku merasakan tetesan air dimataku secara tiba-tiba,dan untuk pertama kalinya aku begitu merindukan pelukan seorang mama yang hanya kudapat ketika aku kecil dulu.

"Hai.." rintihan halus menyentuh gendang telingaku.

Kutolehkan arah wajah senduku mengadap sumber suara,yang aku sendiri tak tau sapaan itu untukku atau bukan.

Namun sepertinya Tuhan memberikanku teman, cantik. Dia begitu cantik dengan gauh putih berpadu dengan pita hijau muda penghias rambut ikalnya.

"Hai..Dilla" sapanya lagi padaku, aku begitu takjub melihat pancaran kecantikan yang begitu tampak diwajahnya.

"hai" kataku balik dengan gugup.

"kamu..,kamu siapa" sambungku lagi.

"Diana" katanya mengelus tanganku.

Dia..,dia bahkan bisa menyentuhku. Dia adalah ruh sama sepertiku yang tak berjasad.

"kamu koma juga,sama kek Aku?" tanyaku dengan mata penuh harap mendapat teman yang serupa disisa waktu ujian Tuhan.

"nggak" ucapnya tanpa beban sediktpun.

Lalu, manusia? Namun sepertinya itu tak akan mungkin.

"kamu apa?" tanyaku bingung mulai lelah beropini.

"Temanmu,kiriman dari Tuhan" ucapnya sembari menjulurkan tangannya.

Tangan yang begitu hangat, sepertinya untuk sementara aku bisa berbahagia dengannya mencari pelarian pengubur kerinduan. Untuk pertama kalinya aku memeluk ruh, dan untuk pertama kalinya juga aku berteman dan bercanda ria menikmati hari-hari sebagai ruh tanpa jasad.

HAI READERS, SEBAGAI PENDATANG BARU SEMOGA SUKA YAK SAMA CERITA YG GW BUAT:)

OH YA INI AKUN BARU GW MUNGKIN YG UDH BACA *RINDU JOGJA* DARI AKUN WP @NADILLA124 UDH KENAL AMA GW:)

SYGNY GW LUPA PASSWORD DN GW GANTI HP JDI GW CM BISA BIKIN AKUN BARU:) DAN MUNGKIN GENRE BARU JUGA:)

JANGAN LUPA KOMEN,VOTE,DAN FOLLOW KALO SUKA:)

HOPE YOU HAVE FUN😊

BROKENStories to obsess over. Discover now