Say hello to 'gay'

1 0 0
                                        

Ini tidak adil bukan? Kenapa harus aku yang terkena semua ini? Diseluruh pelosok sekolah, disekian banyak nya murid, haruskah aku?

"Itu karena kau gay!!" teriak salah satu lelaki di kelas. Dia melempar bola kertas ke kepalaku. Murid lain tertawa kecil menanggapinya.

"Gay kan sampah! Makanya aku kasi isi dari tong sampah. Baik kan aku? Mau mempersatukan kau dengan teman temanmu?"

Aku melirik perempuan itu. Bibirnya yang berwarna merah marun membuat emosiku tak tertahankan. Seperti banteng yang melihat kain merah, aku langsung menerjangnya menggunakan buku paket di tanganku.

"SIAPA YANG SEBENARNYA COCOK DI PENUHI SAMPAH HAH? MEJAKU ATAU MULUT MU?!" Ucapku emosi. Buku ku hampir melayang ke arah perempuan itu sebelum tiba tiba Andrea datang dan menahan tanganku.

Bibirku gemetar menahan amarah. Air mataku yang tak terbendung, bersiap untuk jatuh. Tapi sebisa mungkin aku menahannya.

"Wah, udah gay, beraninya sama cewe pula" semua perempuan di kelas menggeleng. Pandangan remeh yang ditujukan mereka membuat aku tertunduk.

"Justice, jangan begini. Bisa bisa kamu yang dijatuhi hukuman" bisik Andrea pelan. Aku menggigit bibirku. Bingung ditambah dengan kesal bercampur aduk.

Tepat saat kelopak mataku tak bisa mebendung lagi, saat itu juga Andrea menarikku keluar. Membawaku ntah kemana.

.
.
.
.

"Hei"

Aku mendongak. Andrea datang dengan sebuah kaleng soda yang di sodorkan ke arahku.

"Apa soda cocok untuk orang habis menangis?" Ucapku sambil tersenyum kecil. Segera kubuka kaleng itu dan menelan isinya. Dia hanya melihatku tanpa ekspresi atau mengatakan kata apapun.

Kali ini dia yang membuka kaleng sodanya, menenggak isinya dengan terburu buru sampai habis.

Aku menggeleng heran.

"Kenapa jadi kamu yang berakting depresi? Harusnya aku tau, aku"

Andrea melirikku. Dia spontan tertawa kecil.

"Gila. Masih bisa bercanda?" Raut wajahnya tiba tiba berubah menjadi serius. Membuatku sedikit takut.

Kami terdiam untuk waktu yang lama. Angin yang berhembus di rooftop sekolah sangat kencang. Menimbulkan efek gemerisik mengganggu di telingaku.

"Hm.. apa aku ada salah?" Tanyaku walaupun takut. Tapi menurutku lebih baik bertanya daripada berdiam seperti beberapa detik lalu.

Andrea menyisir rambutnya yang lumayan panjang menggunakan jari jemarinya. Dia menghela nafas.

"Sejak kapan kau diperlakukan tidak adil seperti tadi?" Manik matanya tanpa ragu ragu tertuju padaku. Tanpa sadar aku langsung menunduk.

Apa aku harus cerita dari awal? Aku takut dia nanti akan bergabung dengan pembully itu jika mendengarnya.

Apa aku akan berbohong? Tapi Andrea sangat pintar menebakku sedang berbohong atau tidak.

"Justice, bilang saja. Aku temanmu dari kecil. Katakan saja"

Karena kau temanku dari kecil, mana berani aku menceritakannya. Lebih tepatnya, aku tidak ingin dijauhi olehmu.

"Kau pernah memberitahu guru tentang ini?" Tanya nya. Aku langsung menggeleng. Jika aku melapor ke guru, toh aku juga yang akan kena. Orang orang menganggapku tabu. Lebih baik aku diam daripada guru satu sekolah malah ikut ikutan memandangku dengan tatapan merendahkan seperti teman sekelas.

"Ah, jadi itu sebabnya mereka sampai seperti tadi. Itu karena kamu tidak melaporkannya. Apa aku harus melaporkannya?" Andrea memberikan tatapan menyelidik. Tiba tiba dia berdiri dari duduknya, tapi tangannya berhasil ku tahan.

"Tidak tidak. Murid yang baru masuk 2 hari sudah ke ruang bk untuk melaporkan masalah? Ide buruk Re"

Andrea menautkan alisnya heran. Dia kembali duduk di sebelahku.

"Itu bagus kan? Seorang murid baru bisa membuat pembully-an yang terjadi di sekolah ini berhenti? Itu penghargaan tersendiri"

Aku belum menceritakan masalahnya dan dia sudah bersiap untuk membelaku?

Apa dia masih bisa membelaku saat tahu yang sebenarnya? Apa dia masih ada di pihakku jika aku menceritakannya?

Aku menggeleng.

"Biar saja dulu. Aku juga belum menceritakan apapun kan. Kenapa bisa kau ingin membelaku?" Kataku heran.

"Aku tau kau tidak mungkin salah. Aku temanmu dari kecil. Aku tau kau seperti apa" Entah kenapa,tiba tiba saja sedikit ada rasa sakit saat membayangkan Andrea tidak berpihak padaku lagi suatu saat nanti.

Aku mengangguk ragu.

"Kau benar. Kau yang tau segalanya tentangku"

Tapi apa kau yakin?

AddictedWhere stories live. Discover now