(1) Marry Her

8.5K 395 47
                                        

Di kamar utama, Renata mematut dirinya lama di depan cermin besar. Kebaya putih bergaya off-shoulder bertabur ratusan kristal Swarovski yang diimpor langsung dari Austria, membuat penampilan sang pengantin wanita terlihat lebih menawan.

"Cantiknya anak mama," ucap Agatha takjub sambil memasang veil di kepala Renata yang disanggul sederhana.

"Terima kasih, Ma," kata Renata dengan senyum yang terus menghiasi wajah yang sudah dirias.

"Sebentar lagi Renata sudah menjadi seorang istri. Ayo mama antar kamu ke bawah. Sebentar lagi Gibran mengucap janji sucinya di hadapan papamu."

Agatha yang mengenakan kebaya payet berwarna soft purple, mengamit lengan Renata. Mengantar sang putri menuju ruang tamu utama tempat akad nikah yang akan berlangsung sebentar lagi. Saat pintu kamar terbuka, Samuel berdiri tegap dengan setelan jas biru navy, siap menyambut Renata.

"Kamu sudah siap? Hidup barumu segera dimulai. Aku dan Tante Agatha akan mengantarmu menemui pria pilihanmu." Samuel menawarkan tangannya untuk diraih Renata.

Sang pengantin wanita itu menyambut tangan teman masa kecilnya dan perlahan melepas tangan Agatha. Kemudian melingkarkan kedua lengan ke pinggang Samuel.

"Terima kasih sudah membangunkanku dari mimpi buruk. Aku harap mimpi buruk itu yang terakhir," bisik Renata yang masih berada di pelukan Samuel.

"Re, kamu menempatkan aku dalam bahaya. Kalo Gibran lihat, dia akan membunuhku," bisik Samuel dengan nada bercanda lalu melepas pelukan Renata perlahan.

"Bahkan aku lebih dulu yang melihat wajah cantikmu sebelum Gibran melihatnya." Samuel menatap kedua mata indah Renata penuh arti sambil tersenyum, melepasnya pergi sebentar lagi.

"Samuel, ayo kita antar Renata," kata Agatha mengingatkan. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan mengantar calon mempelai wanita berjalan mendekati ruang tamu.

Langkah mereka terhenti sementara, saat terdengar suara Candra mengucapkan sesuatu yang membuat jantung Renata berdegup kencang. Sang ayah sebentar lagi akan melepas tanggung jawabnya pada pria pilihannya.

"Saudara Gibran Rahardian Wirawan bin Iskandar Wirawan almarhum. Saya nikahkan dan saya kawinkan Engkau dengan anak kandung perempuan saya Renata Clarissa Gunawan binti Candra Gunawan. Dengan mas kawin berupa logam mulia 500 gram dibayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya Renata Clarissa Gunawan binti Candra Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"SAH."

Air mata di pelupuk tak lagi bisa tertahan, membasahi pipi sang mempelai wanita. Kini dirinya telah sah menjadi seorang istri dari sahabat yang selalu menjaganya sejak kelas sebelas, sembilan tahun yang lalu.

"Jangan nangis," ucap Samuel lalu menyeka air mata di pipi Renata dengan hati-hati. "Ayo, temui suamimu." Segaris senyum mengembang di wajah orientalnya.

Samuel menyerahkan Renata pada Agatha untuk diantar menemui Gibran yang sudah sah menjadi suami teman masa kecilnya. Tak terasa ada rasa haru di dadanya. Melihat Renata menjemput apa yang sudah ia perjuangkan selama ini. Bertemu dengan papanya setelah sekian tahun berpisah lalu menikah dengan pria pujaannya.

Semua tamu undangan menatap takjub sang mempelai wanita yang berjalan ditemani ibu tirinya. Genggaman pada jemari Agatha semakin erat, selaras dengan kencangnya degup jantung di dada.

Hanya beberapa langkah lagi, Gibran yang gagah mengenakan beskap putih gading, menyambut kedatangan wanita yang kini menjadi istrinya. Tersenyum dengan tatapan penuh arti melihat kecantikan Renata yang terpancar berkali-kali lipat pagi ini, sama seperti kebahagiaan yang pria itu rasakan.

Imperfect Marriage (REPOST)Stories to obsess over. Discover now