Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Haechan hanya ingin hidup tenang. Tapi dia tidak pernah bisa mendapatkannya. Salah satunya seperti sekarang, Haechan terbangun lagi dengan sialannya karena teriakan sepupu-sepupu perempuannya. Sumpah demi apapun telinga Haechan lama-lama bernanah karena teriakan tidak penting dari bocah-bocah berisik di luar.
"WOYYYY!" teriak Haechan kesal ke arah gerombolan sepupunya yang sibuk menggibah bersama. "Kalau membicarakan seseorang bisa tidak biasa saja? Telingaku bisa-bisa berdarah karena kalian!" Haechan membanting pintu kamarnya lalu menutup kedua telinganya menggunakan bantal.
❝Memangnya seorang The Ultimate sehebat apa, sih?"❞
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Mark membersihkan wajahnya menggunakan pencuci muka miliknya yang baru dikirimkan oleh ibunya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya saat ia sadar setampan apa dirinya.
Puk!
Jeno, sahabat dekat Mark melemparkan handuk ke bahu Mark. "Tahun ini sudah siap berbicara di depan para murid baru?" Mark tersenyum miring lalu menatap Jeno penuh misteri.
"Apa?" Jeno mundur saat melihat ekspresi aneh yang dikeluarkan Mark.
Mark tertawa kecil lalu menepuk pundak Jeno, "Kapan memangnya aku tidak siap?" Jeno terdiam sambil menatap Mark. "Aku duluan ya, Jen!" Jeno mengangguk kecil lalu membiarkan Mark pergi.
"Benar juga kata Mark. Memangnya kapan dia tidak siap? Dia 'kan dilahirkan dengan rasa percaya diri yang tinggi," monolog Jeno seraya menyalakan air keran.
Semua murid menyukai Mark. Tampan, ramah, baik hati, pandai, dan hal yang menarik tentangnya adalah karena dia seorang The Ultimate. Menjadi The Ultimate sejak ia masih di tahun pertama siapa yang bisa mengatakan kalau dia biasa saja? Itu adalah hal yang paling sulit untuk mengalahkan senior-seniormu.
Sebenarnya ada sebuah alasan Mark ikut dalam kompetisi The Ultimate. Hadiah pemenang kompetisi The Ultimate pun tidak main-main, bukan hanya dalam bentuk benda dan sejenisnya, melainkan keinginanmu akan dikabulkan oleh Sang Peri.
Jadi, apa alasan Mark ikut berkompetisi di setiap tahunnya? Apakah karena ia mengejar gelarnya? Atau karena ada maksud lain?
❝Bagaimana mungkin keinginanku belum dikabulkan juga?❞
ㅡ0:00
ㅡShould we start the game?
ㅡand, who is the winner?
eleuh, eleuh, ff anyar meneh :( bukannya ngelanjutin yang kemarin malah ff anyar, maapin karis ya ges hehe lafyu ges💚 maksudnya publish yang ini tuh biar adil gak cuma bot-h doang dipub hehe /halah banyak alasan/