Aku melangkahkan kakiku gusar ke arah kamar. Sudah pukul 10 malam tapi kakek tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Aku mondar mandir di depan meja belajar, memikirkan hal hal buruk dibayanganku apa yang terjadi pada kakek.
Apakah pria tua berumur 70 tahun itu lupa jalan pulang lalu tersesat. Atau jangan jangan kakek tiba tiba jatuh sakit lalu pingsan saat pulang perjalanan dari toko barang antik milik karib nya itu?
aku menggeleng kuat, mencoba untuk berpikir positif meskipun hatiku deg deg an menanti cemas, sampai suara ketukan pintu dari arah ruang tamu membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum sumringah, itu pasti kakek.
“Iya kakek sebentar”
aku berseru sambil menuruni anak tangga menuju pintu.
cklek
Kakek tersenyum lebar ke arah ku, sambil menenteng cermin yang tidak terlalu besar, mungkin berukuran 50 x 30. Cermin itu nampaknya terlihat usang, dengan ornamen dan ukiran yang terbuat dari kayu berwarna keemasan di setiap sisinya.
“Lihat apa yang kakek bawakan untukmu Nina! Whoaa cermin ini sungguh menarik perhatianku saat pertama kali melihatnya.” Kakek berceloteh sembari masuk ke dalam rumah, tampak nya ia sedang senang terlihat dari senyum nya yang terus merekah.
Aku merebahkan tubuhku di sofa disamping kakek, ia sibuk membersihkan cermin antik itu dengan lap basah dan tidak lupa dengan senyum nya yang mengembang. Apa istimewa nya cermin itu? Huh, selera lansia memang sangat kuno.
Baiklah, aku tidak ingin berlama lama disini. Aku bergegas bangkit dari sofa menuju dapur, menyeduh susu coklat untukku dan teh panas untuk kakek. 10 menit berkutat di dapur, aku menuju ruang tengah tempat sebelumnya kami duduk, meletakkan secangkir teh panas didepan kakek yang sedang serius menyaksikan siaran di tv.
“Kakek meletakkan cermin itu dikamarmu Nina, itu akan membuat kamarmu menjadi lebih mengesankan, bukan?”
Kakek berujar sambil terkekeh, tanpa melepas pandangannya dari tv yang sedang menampilkan siaran sepak bola.
“Terimakasih kakek, Nina ke kamar dulu ya,” Aku menaiki anak tangga menuju kamarku di lantai atas, jam sudah menunjukan pukul sepuluh lewat dua puluh menit, waktunya untuk tidur.
Aku berjalan menuju arah tempat tidurku, melirik sekilas cermin antik itu yang berdiri diatas meja belajar. Entah mengapa aku seperti merasakan ada dorongan yang membuatku ingin melihat cermin itu dari dekat, kaki ku berbelok menuju meja belajar yang terletak di sudut kamar.
Aku menatap diriku yang ada di cermin itu,
10 detik
20 detik
Aku masih memandangi cermin itu dengan tatapan datar, tapi tunggu...seperti ada yang aneh. Wajahku di cermin antik itu perlahan lahan berubah menjadi wanita asing, dengan rambut pirang bergelombang, kulit putih dan ber bolamata hijau.
“AAAA!!” Aku berteriak kaget, sambil memundurkan kursi ku agar menjauh dari cermin dan menutup mukaku dengan kedua telapak tangan.
GILA! Apa yang baru saja aku lihat barusan? apa aku sedang berhalusinasi?
Aku memberanikan diri untuk membuka tanganku perlahan lahan, terlihat muka ku yang cemas dan pucat ada di dalam cermin itu.
Kemana wanita cantik yang kulihat tadi? Aah sepertinya memang aku sedang berhalusinasi. Baiklah mari kita lupakan kejadian menakutkan barusan. Aku segera meneguk habis susu coklat yang kubuat dan bergegas tidur, karena besok aku harus bangun pagi untuk membantu kakek berkebun.
Tbc, 11 Januari 2023
YOU ARE READING
PRINCE IN THE MIRROR [ON GOING]
FantasyNamaku Nina, seorang gadis berusia 16 tahun yang gemar sekali membaca buku dongeng dan novel remaja. Aku tinggal berdua dengan kakekku di sebuah desa dengan mata pencaharian nya yang suka sekali berkebun dan menjual hasil panen ke pasar di desa. Pa...
![PRINCE IN THE MIRROR [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/182086299-64-k400635.jpg)