(1) After Wedding

5.5K 110 25
                                        

"Pernikahan selalu identik dengan nuansa romansa penuh dengan cinta dan kebahagiaan. Karena memang sejatinya menikah selain untuk ibadah, juga untuk bahagia. Tapi jangan bangun ekspektasi berlebihan soal definisi bahagia. Ujian pasti tetap ada.”

(After Wedding Journey)

_______


Drrrt.

Gawaiku terus bergetar. Aku sangat panik saat ini. Tapi satu nama yang terpampang pada layar ponsel membuatku bimbang antara mengangkat telpon atau mengabaikannya. Sepertinya firasatnya sangat tajam merasakan apa yang sedang terjadi padaku. Kuputuskan untuk mengangkat telepon dari ibuku yang semoga bisa memberi sedikit ketenangan dalam situasi yang mencekam seperti ini.

“Ha... halo... assalamualaikum."

"Imelda sayang, bagaimana kabarmu, Nduk? Ibu kok mendadak kangen sama kamu." Suara lembut bak desir angin di pantai itu membuatku semakin rindu pada wanita yang pernah bertaruh nyawa demi keluarnya aku dari dalam rahimnya.

"Ba— ik Ibu, Ibu sendiri bagaimana?" Basa basi aku bertanya balik padanya. Kuatur napasku yang memburu tak karuan.

"Alhamdulillah baik,Nduk. Bagaimana, apa kamu sudah isi Nduk? Maaf Nduk, Ibu nggak ada maksud untuk menekanmu. Ibu cuma ingin tahu saja, apa kamu sudah isi?"

Lagi, pertanyaan seorang ibu yang ingin segera mendapatkan cucu.

"Uhm, belum, Bu... mohon doanya, nggih!" Tiba-tiba pandanganku tertuju pada rumah yang tak asing bagiku, rumah mertuaku.

"Stop... stop, Pak!" perintahku pada sopir Taksi di depanku.

"I—ibu... sudah dulu ya. Imelda sedang ada urusan penting sekali. Besok Imelda telpon. Maaf, Bu. Assalamualaikum."

Tanpa menunggu ibu menjawab salamku, sudah kumatikan ponselku. Di suasana gawat darurat seperti ini aku harus tetap fokus untuk menyelamatkan diri. Jika tidak, aku bahkan tak bisa membayangkannya bagaimana nanti keadaanku.

Pandangan mata buas nan menyeringai lelaki yang siap menerkamku membuatku kalut. Allah masih menyelamatkanku dari dosa perzinahan kali ini. Ehm, mungkin tadi. Entah nanti. Karena mungkin mereka tak mungkin begitu saja melepasku dan bisa saja masih mengejarku.

Dua lelaki Gay yang gila itu pasti masih mengincarku. Aku tak rela jika kehormatan yang telah kujaga demi menaati syariat agama direnggut begitu saja.

Ya Allah... selamatkan hamba-Mu ini.

Setelah kubayar argo taksi segera kupercepat langkahku menuju rumah megah berpagar tinggi yang sekarang ada di hadapanku. Jantungku masih berdegup kencang karena ketakutan. Keringat dingin mulai menjamahi kulit ariku.

"Imelda!" pekik dua suara lelaki memanggilku berbarengan.

Gawat! Mereka nekat membuntutiku!

Segera mereka turun dari mobil dan berlari kearahku yang sedang susah payah berkali-kali memencet bel rumah. Sialnya tak ada jawaban. Mungkin penghuninya sudah tertidur, mengingat malam yang semakin larut.

"Kena kau! Hahaha!" Kedua tangan ringkih ini sudah ko dalam cengkraman dua lelaki tampan yang tak waras.

Tamat riwayatku!

********



Menikah...

Satu kata yang penuh makna, perjuangan, tangis, dan bahagia. Semua menjadi satu. Ketika dua insan lelaki dan perempuan dipertemukan dalam sebuah ikatan janji suci yang sakral. Kata orang, menikah itu untuk bahagia. Bahagia yang dapat saling menjaga dan melindungi diri dari kejahatan syahwat yang diembuskan syaiton dalam ikatan yang tak halal.

Aku, baru saja melangsungkan pernikahanku. Melepas status lajang adalah hal yang diimpikan hampir setiap wanita. Ya, termasuk aku yang kini tepat berusia 23 tahun.

Pria baik-baik dari keluarga baik-baik yang mempersuntingku melalui perkenalan singkat adalah anugerah terindah untukku. Tak tahu lagi bagaimana aku mengucap syukur pada Allah atas anugerah ini.

Sayang, kebahagiaanku tak mulus. Mungkin biduk rumah tangga kami sedang diuji. Baru saja akan membangun fondasi dalam rumah tangga kecil ini, tapi Allah sudah ingin melihat seberapa kuat kerjasama jalinan kasih kami melalui ujian-Nya.

Aku dan suamiku mengalami kecelakaan mobil sewaktu kami hendak berencana pergi berbulan madu ke luar kota. Mungkin suamiku terlalu lelah hingga tak fokus saat mengendarai mobil yang akan membawa kami untuk mereguk madu asmara.

Alhamdulillah, suamiku baik-baik saja. Hanya sedikit luka ringan di bagian pelipis yang terbentur setir mobil. Hanya saja, aku yang sedang kurang beruntung karena mengalami patah tulang yang bagiku cukup serius.

Aku harus memulihkan diri pasca operasi uratku yang terjepit. Entah butuh waktu berapa lama. Pernikahan yang seharusnya diwarnai dengan indahnya pacaran setelah menikah, harus menerima takdir pahit ini.

"Mas, maafkan aku yang tak bisa ada disampingmu untuk malam-malam pertama pernikahan kita. Seharusnya kamu bahagia," ucapku penuh sesal. Saat aku ikut seminar pra-nikah dulu, katanya urusan ranjang adalah hal yang cukup penting bahkan bisa jadi amat penting bagi lelaki di dalam kehidupannya setelah menikah. Meski sebagian lagi bilang bahwa menikah itu bukan soal urusan syahwat saja. Entahlah. Tapi mengapa aku begitu tak enak hati saat ini.

"Yang terpenting kamu sembuh dulu. Aku sudah bahagia dengan keadaanmu yang baik-baik saja," ucapan lembut pria tampan berkulit cokelat itu meluluh lantakkan hatiku. Dia menggenggam jemariku, menemani aku yang tengah tergolek lemah di ranjang rumah sakit.

Namun, perasaan negatif terkadang menghampiri. Ada rasa kekhawatiran suamiku akan berpaling atau bermain di belakangku karena aku tidak bisa 'membahagiakannya' di malam-malam pertama pernikahan kami.

Ah, aku berlebihan!

"Imelda, bagaimana keadaanmu, Nduk?" Seorang wanita tua tiba-tiba masuk ke ruangan yang menguarkan aroma obat-obatan ini. Ya, beliau ibuku.

"Tanganku mati rasa, Bu. Doakan Imelda segera pulih," rengekku manja.

Ibu mengangguk sambil tersenyum padaku. Diraihnya tray makanan yang dari tadi belum kusentuh. Disuapkannya padaku. Mulutku kini aktif mengunyah suapan demi suapan yang diberikan ibu.

"Rindu masakan Ibu, ngomong-ngomong Bapak nggak ikut, Bu?"

"Bapak ada di luar, sedang membeli nasi. Nanti nggak lama pasti beliau kemari," ucap Ibu sembari memegangi gelas, membantuku meneguk air minum.

"Dek, mas keluar dulu ya, sebentar,” ujar suamiku yang bernama Gibran.

"Bu, saya pamit keluar sebentar. Nanti kalau pulang nggak usah naik bus. Saya antar saja Ibu sama Bapak. Saya nanti balik, kok," jelas Gibran yang diiringi anggukan ibuku. Begitu perhatiannya suamiku, tanpa diminta dia sudah menawarkan diri. Semakin merasa beruntung bisa memilikinya.

Aku memandangi pria yang kini resmi jadi suamiku hingga dia berlalu dari hadapanku. Tampan, tinggi, mapan, dan baik hati. Walau perkenalan kami cukup singkat. Aku yakin dia pria yang baik. Melihat profil keluarga dan pandangan orang-orang tentang dia saja sudah cukup untuk meyakinkanku.

Namun  perasaan tak enak akhir-akhir ini selalu mampir di pikiran penuh dosa ini. Semoga saja tak ada wanita lain di pernikahan kami. Ah, aku terlalu pencemburu. Semoga aku segera pulih. Agar bisa segera mengurus suamiku. Melayaninya, membahagiakannya, dan menjalani suka duka bersama. Indahnya....

Saat ini aku hanya berharap agar aku segera diberikan kesembuhan dan bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan normal layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya. Dan aku berharap pernikahan kami akan menjadi pernikahan yang membahagiakan dan saling menyemangati dalam suka maupun duka.

“Nduk, kamu ngelamun apa?” tanya ibu yang memecahkan lamunanku.

“Tidak, Imelda hanya sedih karena tidak bisa mengurus mas Gibran,” jawabku akhirnya.

“Sabar, Nduk. Insyaa Allah semua ini ada hikmahnya,” hibur ibu menenangkanku.



After Wedding Journey (Sudah Terbit) ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang