Prolog

17 1 0
                                        

Seorang gadis kecil berumur lima tahun sedang berbaring manis di atas kasur. Kepalanya menyembul dari balik selimut yang membungkus tubuhnya dalam kehangatan. Dia sedang asyik mendengarkan cerita Sang Bunda.

Kamar gadis kecil itu dominan berwarna biru laut yang senada dengan warna matanya. Iris matanya mengkilat kena cahaya lampu, begitu indah seakan-akan matanya terbuat dari batu permata safir. Hidung mancung dan bibir tipis yang ia warisi dari ibunda terpatri cantik diwajah jelitanya. Rambutnya yang berwarna perak tergerai begitu indah.

Tidak jauh berbeda dengan gadis jelita itu, bunda juga memiliki rambut berwarna perak. Namun iris matanya tidak berwarna biru safir seperti anaknya, melainkan biru gelap seperti kedalaman laut yang teduh dan tenang. Meskipun usianya sudah mencapai kepala tiga, namun hal itu sama sekali tidak memudarkan kecantikan dan keanggunannya.

Di dalam kamar gadis kecil itu terdapat satu jendela besar yang dibiarkan terbuka menampakkan hujan salju di luar sana. Butiran-butiran putih turun dari gelapnya langit malam. Bahkan cahaya rembulan tak mampu menembus pekatnya kegelapan malam. Hanya remang-remang cahaya lampu yang menjadi penerangan kamar gadis kecil itu.

"Mungkin kamu belum tahu, di luar sana ada berbagai macam ras yang menghuni planet kita," ucap bunda mengingat gadis kecil itu belum pernah keluar dari negeri yang mereka tinggali sekarang. "Ada ras elf, nymph, malaikat, expert, mermaid, vampir, werewolf, iblis, dan masih banyak lagi. Namun bangsa yang paling mendominasi adalah expert dan iblis. Seorang expert dapat mengendalikan salah satu elemen yang ada di alam seperti air, api, tanah, udara, es, cahaya, listrik, tumbuhan, dan juga...." Bunda berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "kegelapan."

Gadis kecil itu mengingat-ingat rupa makhluk yang disebutkan bunda melalui buku cerita bergambar yang pernah ia baca.

"Nah, kalau iblis, kamu pasti sudah tahu," lanjut bunda yang diberi anggukan oleh gadis kecil itu. "Iblis adalah ras kedua dengan penduduk terbanyak."

"Kalau aku termasuk dalam ras apa, Bunda?" tanya gadis kecil itu dengan wajah polos.

"Menurut kamu sendiri, kamu termasuk golongan apa?" Bukannya menjawab, bunda malah balik bertanya. Senyum hangatnya tak pernah pudar dari semenjak ia menatap putri semata wayangnya itu.

"Mungkin ras malaikat yang baik, yang sopan, yang ramah, dan yang selalu menolong orang lain," jawab gadis kecil itu dengan mantap.

Di balik wajah anggunnya, sebenarnya bunda sedikit terkejut mendengar jawaban putrinya. Matanya membulat beberapa detik sebelum akhirnya ia tersenyum kembali.

"Untuk menjadi orang baik, kamu tidak perlu harus menjadi malaikat. Kamu adalah seorang expert berelemen es. Dengan kekuatan itu kamu dapat menolong orang lain tanpa harus menjadi malaikat." Dengan penuh pengertian, bunda menjelaskan perihal jenis ras gadis kecil itu.

"Oh, jadi aku seorang pengendali es." Sorot mata gadis kecil itu menunjukkan sedikit kekecewaan. Namun sedetik kemudian beralih dengan tatapan bertanya. "Jadi aku bisa mengendalikan es, Bunda?"

"Ya, tapi setelah umurmu tujuh tahun," jawab Bunda. "Seorang expert baru bisa mengendalikan elemennya saat ia berusia tujuh tahun."

Gadis kecil itu mengangguk-angguk mengerti. Kemudian ia teringat suatu hal yang sedari tadi membuatnya penasaran. "Oh ya, Bunda. Aku penasaran, kenapa iblis lebih banyak daripada malaikat?"

"Dulu tidak ada yang namanya iblis. Ras kedua dengan penduduk terbanyak adalah malaikat," jawab bunda.

Senyum lembut diwajahnya mulai pudar. Matanya beralih menatap ke luar jendela. Ia menerawang, mengingat kembali cerita yang pernah didengarnya. Sebuah cerita yang diceritakan secara turun temurun oleh ras terdahulu.

Ryn: The Girl From SnowlandStories to obsess over. Discover now