Koridor SMA Pratiwi memang tak pernah sepi. Apalagi saat jam belajar belum dimulai, koridor adalah tempat favorit siswa setelah kantin untuk didatangi.
“Semalem gue ngacak-ngacak kamar nyari binder, emang kampret” perempuan dengan rambut diikat seperti ekor kuda itu menggerutu setelah membuka loker dengan tulisan Melodi S. di pintunya serta stiker-stiker berwarna biru disana.
“Emang lo aja yang jorok, nih binder lo ada di meja guru, masih baik gue yang simpen” timpal perempuan yang baru mengambil sesuatu juga dari lokernya lalu mengambil buku binder dari tas berwarna hitamnya. Melodi hanya menyengir seperti kuda, melihat itu Sabil hanya menggelengkan kepalanya.
“Kantin yuk” Melodi mengangguk menyetujui, memang perutnya belum diisi pagi ini, ia kelimpungan mencari bindernya. Bindernya itu bukan buku diary, buku binder polosnya itu ia gunakan sebagai buku berbagai macam pelajaran, intinya ia hanya membawa satu buku ke sekolah dan note kecil untuk mencatat tugas, simple kan?
Area kantin selalu penuh setiap pagi, mungkin murid-murid SMA Pratiwi sangat sibuk hingga tak sempat sarapan dirumah, termasuk Melodi dan Sabila.
“Gue pesen dan lo cari tempat duduk” ujar Sabil yang pergi meninggalkan Melodi di pintu masuk kantin.
Ia mulai berjalan sambil celingukan mencari tempat kosong untuk duduk. Ia mendesah lalu tersenyum karena meja disampingnya baru saja ditinggalkan oleh orang sebelumnya. Buru-buru ia menempati meja tersebut sebelum ditempati orang lain.
Sambil menunggu ia membuka ponselnya untuk melihat siapa pengajar pertama yang masuk dan mengambil bindernya untuk melihat materi apa yang terakhir dipelajari serta mengecek note-nya untuk melihat apakah ada tugas atau tidak.
“Pesanan dataaaang” ucap Sabil sedikit berteriak. Setelah dipelototi Sabil karena memanggilnya pembantu, mereka memulai sarapannya.
“Tiga menit lagi masuk bos” ucap Sabil. Melodi mengangguk dan menelan kunyahannya.
“Pelajaran Pak Rohmat kok, santai aja” ucap Melodi.
“Mel, ada anak kelas 12 tuh yang ngeliatin, kayaknya suka deh sama lo” refleks Melodi langsung celingukan lalu menemukan seorang cowok yang menunduk seperti tertangkap basah.
“Bodoh, jangan langsung nyariin dong kan jadinya ketauan lagi ngomongin.” Mendengar itu Melodi langsung menatap Sabil.
“Kok lo tau dia kelas 12?” tanya Melodi.
“Orang gabungnya sama Rehan gitu, lagian kemaren Rehan bilang hari ini bakal ada murid baru padahal Rehan udah berharap cewe murid barunya” jelas Sabil.
“Kak Rehan ngomong gitu depan lo yang memang pacarnya?” Sabil mengangguk mantap.
“Gila tuh orang” Sabil terkekeh mendengarnya.
-oOo-
“Bil, perpus yuk ngadem” suasana kelas yang gaduh karena Bu Sri tak hadir di kelas mendorong Melodi menuju perpustakaan. Perpustakaan yang difasilitasi AC sangat menggoda Melodi untuk berkunjung kesana. Melihat Sabil yang tak terusik sedikitpun dari tidurnya membuat Melodi pergi ke perpustakaan sendirian, percuma hanya buang-buang energi bila harus membangunkan Sabila Ayudya.
“Arfan?” ucap Melodi pelan saat melihat seorang cowok yang sedang memegang beberapa lembar kertas baru saja keluar dari ruang wakasek. Refleks ia berbalik badan dan bersembunyi dibalik dinding ruang OSIS.
Ia terdiam disana cukup lama. Perutnya melilit dan jantungnya berdetak tak normal, ia sering merasakan ini saat gugup, turunan kata Bundanya. Ia tak tahu, atau mungkin semua orang juga merasakan hal yang sama saat gugup?
“Melodi Sahira?”
Perutnya semakin melilit. Suara itu, ia kenal dengan baik. Ahh matilah ia.
-oOo-
So guys this for openning
thank u for reading
i'll be right back
i love u to the moon and back
see u bye bye
YOU ARE READING
Kompliziert
RandomDatangnya ia dari masa lalu. "Gue kembali bukan buat lukain lo lagi, gue disini bawa plester gambar kepala koala buat bantu sembuhin luka lo" "Lo masih sama kayak dulu, ceroboh"
