RISIKO

162 12 9
                                        

Bagiku, berani untuk menaruh hati berarti berani juga untuk patah hati. Aku tahu, bahagia itu tak abadi. Aku juga tahu, bahagia tidak selamanya menjadi teman baikku. Bahagia juga tidak selamanya menjadi satu perasaan yang akan mewarnai hidupku. Kini, mari kuperkenalkan padamu, teman baruku – teman baikku. Namanya kesedihan. Akhir-akhir ini, ia selalu ada di sebelahku. Tidak apa jika kau tidak menemaniku. Setidaknya, kesedihan benar-benar setia disini dan mungkin tidak akan pergi.

Mungkin saja...

Aku mengabadikanmu dalam tulisanku. Kau yang mengajarkan aku untuk merasakan bahagia. Kau mendefinisikan kebahagiaan dengan kata aku dan kamu yang dipersatukan oleh kata kita. Lalu, kau memberiku kesempatan untuk merindukanmu dengan sangat, dengan kata pisah yang menjadikan aku dan kamu tersekat.

Aku tidak pernah membayangkan, jika kita memang benar-benar harus berakhir. Padahal, aku sudah tahu dari awal, bahwa pertemuan itu bersahabat dengan perpisahan. Tapi, aku tak peduli jika mereka bersahabat. Aku hanya ingin mencari kebahagiaan, dan aku menemukan itu saat bersamamu. Ya, walaupun pada akhirnya aku harus menerima kesedihan, yang aku temukan juga padamu saat kita dipisahkan.

Sakit sekali...

Oh, iya. Banyak yang bilang, jika perpisahan yang menyakitkan itu ketika salah satu dari kita ada yang berhenti menyayangi. Itu salah. Itu tidak terlalu menyakitkan, sebab itu menjadi penjelasan untuk kita, untuk berhenti berjalan dengan seseorang yang tidak ingin lagi diperjuangkan. Semua sudah jelas, bukan? Bagiku, perpisahan yang lebih menyakitkan adalah ketika salah satu dari kita, terpaksa berhenti berjalan, sebab merasa hati sudah dikecewakan. Dan, yang lebih buruk adalah ia pergi dengan rasa sayang yang masih tinggal dalam perasaan ; yang sulit untuk dihilangkan.

Buruk sekali rasanya...

Aku tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Kesempatan untuk berubah juga sudah mati. Tetapi, itu akan membuat aku belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama –jika ada keajaiban- kamu kembali. Atau mungkin, jika memang kita tidak ditakdirkan untuk kembali dipersatukan, aku berharap menjadi pribadi yang lebih baik, untuk hubungan baru yang nanti akan kutuliskan dalam lembar kertasku yang baru.

Sekarang, silakan cari kebahagiaan barumu. Aku belum terpikirkan hal itu. Aku masih ingin tinggal disini, dengan perasaan yang belum mau pergi. Jangan khawatirkan aku jika nanti aku melihatmu bahagia lebih dulu. Sebab, kebahagiaanmu masih menjadi sesuatu yang hidup dalam senyumku. Tetapi, jika kebahagiaan tak kunjung kau dapat, cepat-cepatlah kembali selagi rasa ini masih kurawat. Aku tidak ingin berbalik mengkhawatirkanmu, jika nanti bahagiaku bukan lagi tentangmu.

Jangan ragukan aku. Buang semua pikiran jahatmu bahwa aku tidak bisa berubah. Aku bisa menjamin jika aku telah berubah sudah. Perpisahan yang kau ciptakan ini telah mengajariku untuk berubah menjadi lebih baik. Kesedihan yang kau berikan, telah membunuh aku yang dulu ; aku yang pernah menyakitimu.

Sekarang, mari kuperkenalkan padamu, aku yang baru. 

Namun, masih dengan perasaan yang sama seperti dulu

Patah Hati itu Egois !Stories to obsess over. Discover now