Day 1

1K 90 10
                                        


Hypnosis Mic © KING RECORD, IDEA FACTORY and Otomate

Enjoy!

.

.

Sneakers lusuhnya merayapi jejak aspal pedestrian Yokohama seperti orang linglung. Tiada henti netra beda warna itu menoleh pada layar ponsel yang digenggam, sesekali pula celingukan pada sekitar sekedar memastikan ia tidak benar-benar hilang arah. Tangannya mengusap lagi wajah yang disimbah keringat lantaran langit bening minus gumpalan awan hari ini telak menghajar raganya yang dibungkus baju berlapis.

Ichiro nyaris menyerah seandainya saja punya determinasi kendur. Tentu ia berada di sini bukanlah perkara main-main.

Bahkan Ichiro belum genap tujuh belas tahun waktu pertama menginjak tanah tandus Ibu Kota. Sendirian. Tanpa koneksi. Jauh dari rumah. Jauh dari keluarga. Pun Tokyo sangatlah berbeda dengan kampung tercinta di Aogashima yang selalu ramah kepada siapa saja.

Tersebutlah dua adik kesayangan yang menjadi alasan tunggal untuknya menggantung nasib di Ibu Kota. Yang ia ingin tidak lebih dari memberikan segala yang terbaik untuk Jiro dan Saburo sebelum memboyong serta mereka untuk hidup bersama di pusat negara. Tentu saja langkah awal yang perlu dilakukannya adalah menjadi mapan. Kedengaran sangat berat untuk ditanggung oleh bahunya yang kurang berpengalaman. Berbekal modal nekad saja cukup membuat Ichiro mantap pendirian menerobos lautan ratusan kilo untuk kehidupan dua adiknya yang lebih bercahaya.

Begitulah rencana di awal.

Setengah tahun lamanya mengaisi kawasan Ikebukuro tidak lantas membuat redup resolusi utama sang remaja lelaki walau yang ia lakukan sejauh ini adalah mengayomi pekerjaan abu-abu. Berstatus sebagai kurir ilegal pada gembong tertentu buatnya adalah batu loncatan kokoh untuk meraup koneksi.

Ichiro yang hijau nan lugu bukannya tidak mafhum hukum dan resiko. Sadarnya penuh dengan apa yang ia lakukan. Banyak hal yang ia alami dan pelajari di atas tanah baru. Karenanya Ichiro tidak bisa menyerahkan nasibnya terlindas oleh lingkungan yang keras. Baginya selama tidak mencuri, apa pun itu ia bersedia kerjakan.

Ketika satu waktu seorang pelanggan premiumnya menyelipkan imbalan informasi pada Ichiro. Klan Yakuza kenamaan Yokohama butuh seorang asisten tahan banting yang siap dipekerjakan dengan iming-iming gaji selangit. Kabar tersebut hanya berputar dikalangan tertentu sehingga tidak sembarang orang bisa mengetahuinya.

Kesempatan yang tentu bakal jadi penyesalan seumur hidup jika disia-sia itulah yang menyeret nasib Ichiro pada keadaan saat ini. Pemuda itu berdiri sangsi di muka gerbang raksasa sebuah kediaman yang alamatnya sesuai dengan yang menjiplak nyata di layar ponsel. Wajahnya tercengang pada replika patung naga emas yang gamblang menjulang di puncak dinding. Tidak diragukan lagi sebagai identitas Klan yang dicari-cari.

Sudah sampai sejauh ini Ichiro malah tersapu dilema. Entah bagaimana nyalinya ciut mendadak, antara langsung saja memijat tombol intercomatau memutar tumit pulang ke Ikebukuro.

"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"

Sekonyong-konyong Ichiro nyaris melompat dari pijakan begitu lubang speaker sisi tembok menyapanya. Secara basa-basi sang remaja mendehem setelah sadar cuma dia satu-satunya makhluk di sana yang sedang diajak berkomunikasi.

"Saya Yamada dari Ikebukuro. Takeda-sama merekomendasikan saya untuk menemui Iruma Jyuto-san. Apa benar beliau ada di sini?"

"..."

Odd JobWhere stories live. Discover now