PROLOG

33 2 3
                                        


Zen, anak lelaki yang baru pindah ke Erela Highschool. Zen kelihatannya sangat menutup diri dari semua orang kecuali kedua sahabatnya, yaitu Finn dan Rey. Tak seorang pun tahu bagaimana kehidupan Zen sebelumnya tak terkecuali kedua sahabatnya.

Rey, anak paling populer di Erela Highschool. Ia bertemu seorang anak baru yang sangat menarik perhatiannya, dan langsung bersahabat denganya.

Finn, anak periang yang sangat menyenangkan. Semua orang yang bertemu dengannya pasti akan ikut senang. Dia sangat penasaran dengan karakteristik dari Zen yang akhirnya mereka pun bersahabat.


Zen:

Namaku Zen, dan aku kabur ke kota ini dari kota lamaku karena selalu mengingatkanku pada masa laluku yang sangat kelam. Aku telah disiksa ribuan kali oleh orang tua dan adik tiriku yang bahkan aku sendiri tidak tahu aku berbuat apa sampai mereka menyiksaku. Semua ini hanyalah pelarianku. 

Aku sangat kebingungan dan tidak tahu harus kemana sehingga aku berlari terus berlari sampai aku berada di kota ini. Aku kelaparan, tidak punya uang, tidak punya apa-apa selain diriku sendiri.

Merka menyiksaku sampai aku menjadi gila tanpa belas kasihan. Dan puncaknya aku membantai semua anggota keluargaku sampai mereka tak bernyawa dan tak berpijak di bumi ini lagi.

Polisi masih mencari siapa yang membunuh keluargaku, dan mereka tidak tahu bahwa aku yang membunuh keluargaku sendiri. Aku panik dan berlari. Sampailah aku disini, di tempat yang sama sekali asing karena tidak satu hari pun mereka membiarkanku keluar rumah walau hanya satu detik saja.

Leya:

Seperti biasa, kota ini masih sama seperti sebelumya.

 Tunggu sebentar, aku merasakan kehadiran seorang yang baru dan sangat ketakutan. Ahh... mangsa baru, sepertinya menyenangkan.


Zen, berkeliling kota dan berharap dapat pekerjaan yang dapat menghidupinya saat ini. Sudah semakin larut dan Zen tak kunjung menemukan pekerjaan yang tapat untuknya, sampai.....

"Hai Zen, namaku Leya. Aku bisa memberimu apa yang kau butuhkan saat ini!" ujar Leya.

"Mau apa kau dan darimana kau tau namaku?" tanya Zen.

"Itu tidak penting, aku akan memberi tahumu nanti setelah kau menerima apa yang akan kuberikan padamu." lanjut Leya, "selain itu aku juga tahu kalau kau baru saja membantai keluargamu dan kau kabur kesini, iya kan?"

"Darimana kau tau?" tanya Zen terkejut.

Kurang dari sedetik Zen langsung menuju ke belakang Leya dan menodongkan sebuah pisau dapur tepat ke lehernya.

"Satu kata lagi kau membahas itu, nadimu akan putus," ujar Zen sangat dingin.

"Aku sudah tau akan jadi seperti ini, aku hanya bercanda sudahlah," ujar Leya sangat santai bagaikan obrolan antar sahabat, "baiklah aku akan diam, tapi kau harus ........... dan .......... . Aku juga memberimu ini, gunakan dengan bijak oke?"

Akhirnya, Zen perlahan menurunkan pisaunya dan mulai mendengarkan Leya.

"Oh iya, kalau kau ingin mencariku pergilah ke tempat paling angker di kota, yaitu gudang terbengkalai. Tapi tenang saja di sana aman kok! Dan juga aku bisa tau kemanapun kau pergi. Kalau sudah ingin mulai pekerjaanmu boleh saja. Kau bebas memilih yang mana yang ingin kau lakukan, lengkap dengan imbalannya. Selamat melakukan tugas, aku akan terus menunggumu!" tutup Leya.

Mereka pun berpisah ke tujuan masing masing. Zen pun akhirnya berpikir, di mana dia akan tinggal


Lanjut ke chapter 1---> 

Til the EndWhere stories live. Discover now