Hujan turun seperti seseorang yang sedang menangis diam-diam. Bukan hujan deras yang mengamuk dan mengguncang atap rumah. Melainkan hujan kecil yang jatuh perlahan, seolah langit sedang menyimpan kesedihan yang terlalu lama dipendam.
Di sebuah gang sempit bernama Gang Melati, seorang gadis berdiri di depan rumah kayu yang hampir roboh.
Namanya Alera.
Usianya sembilan belas tahun.
Tubuhnya kurus.
Kulitnya sawo matang.
Matanya indah.
Namun jika seseorang memperhatikan lebih lama, akan terlihat bahwa mata itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua daripada usianya.
Kesedihan.
Alera memandang langit yang kelabu. Di tangannya terdapat kantong plastik berisi nasi sisa dari warung tempatnya bekerja.
Malam sudah hampir pukul sembilan.
Tetapi ia baru pulang.
Lelah.
Sangat lelah.
Namun kelelahan fisik bukanlah hal yang paling menyakitkan. Yang lebih menyakitkan adalah mengetahui bahwa setelah membuka pintu rumah nanti, ia akan kembali menemukan kekacauan yang sama.
Dan benar saja.
Ketika pintu kayu itu dibuka.
BRAKKK!
Suara piring pecah langsung menyambutnya.
Alera memejamkan mata.
Bukan karena terkejut, melainkan karena sudah terlalu terbiasa.
"Ayah bilang kau menyembunyikan uang lagi!" teriak seorang pria dari dalam rumah.
Suara ayahnya.
Kasar.
Berat.
Dan dipenuhi amarah.
Tangisan perempuan terdengar menyusul.
Suara ibunya.
Alera menarik napas panjang. Langkahnya terasa berat. Setiap kali pulang ke rumah, rasanya seperti berjalan menuju medan perang.
Ruang tamu terlihat berantakan.
Pecahan kaca berserakan.
Kursi plastik terbalik.
Dan di sudut ruangan, ibunya duduk sambil menangis.
Sementara ayahnya berdiri dengan mata merah akibat alkohol.
"Ayah..." ucap Alera pelan.
Pria itu menoleh. "Apa?"
"Aku bawa makanan."
Ayahnya mendengus. "Lagi-lagi nasi sisa."
Alera diam.
Karena jika ia menjawab, pertengkaran akan semakin panjang. Padahal ia hanya ingin malam ini berlalu tanpa suara teriakan.
Tanpa tangisan.
Tanpa rasa takut.
Sayangnya hidup tidak pernah semurah itu. Sejak kecil Alera mengenal kemiskinan seperti mengenal bayangannya sendiri.
Selalu ada, selalu mengikuti. Dan tidak pernah benar-benar pergi. Saat anak-anak lain sibuk memilih warna tas sekolah yang mereka sukai. Alera sibuk memikirkan bagaimana cara membayar uang seragam.
BINABASA MO ANG
Ordinary Girl's Hope's
RomanceApa Impian Seorang Gadis Sederhana Itu? "Tidak semua orang bermimpi menjadi bintang. Sebagian hanya ingin berhenti merasa terluka."
