SATU

9 0 0
                                        

Flashback

"Babam Türkiye'ye dönmeli"(ayah harus kembali ke Turki) ucapnya lelaki tua itu dengan tegas.

"şimdi ne var?" (apa sekarang) tanya gadis itu dengan terkejut. "Ya" jawab lelaki tua itu singkat. "hadi türkiyeye gidelim" (mari kita ke Turki ) ajak lelaki tua itu. "istemiyorum" (tidak mau) tolak gadis itu. "Annemi gerçekten çok seviyorum. Babaya katılmak istemiyorum" (aku sangat mencintai ibuku. Aku tidak mau ikut ayah) tambah gadis itu.

Mendengar perkataan anaknya, wajah lelaki itu berubah menjadi sedih. "sana kalmış" (terserah kamu). Setelahnya lelaki tua itu langsung pergi meninggalkan anak gadisnya sendirian di dalam ruang kerjanya.

Esok harinya. Sang anak berdiri tepat di depan kaca besar yang berada di lantai dua tempat dimana ibunya biasa berkaca. Ia terlihat menangis mengingat hari ini adalah hari dimana ayahnya akan kembali ke negerinya, Turki. Dia merasa bahwa ayahnya sangatlah kejam padanya, karena ayahnya tidak mau tinggal lebih lama setelah kepergian ibunya untuk selamanya.

Gadis berusia 16 tahun itu udah bertekad tidak akan mengantarkan ayahnya ke bandara.

Sedang ia menangis, tanpa sadar ayahnya berdiri di dekat rak buku sambil memandang anak gadis satu-satunya itu. "affet baba " (maafkan ayah) ucapnya sambil meneteskan air mata dari matanya yang mulai berkeriput. Setelah itu dia berangkat menuju bandara. Tanpa sepengetahuan ayahnya, anak gadis itu berdiri di depan jendela lantai dua melihat kepergian ayahnya.

" Babamdan nefret ediyorum" (aku benci kamu, ayah). Ucapnya dengan sorot mata yang penuh akan kebencian.

Flashback off

Seorang wanita menangis tepat di depan kuburan dari sang ibu. Ia teringat akan masa lalunya, dimana ayahnya memilih kembali ke negaranya tanpa memperdulikan anaknya di Indonesia.

"annemi özlüyorum" (aku merindukan ibu). Ucapnya dalam tangis. Air matanya senantiasa mengalir terus dari pelupuk matanya yang indah.

Di belakangnya berdiri seorang laki-laki dengan menggunakan baju serba hitam dan kacamata hitam yang menutupi mata elangnya. Rio. Rio Saksono. Sahabat yang selalu ada dimana saja saat Zoebaida membutuhkan dirinya. Sahabat yang selalu mau mendengarkan keluh kesah Zoebaida kapan saja. Sahabat yang siap menjadi sarang tinju saat Zoebaida sedang kesal.

"Udah. Gak usah nangis. Nyokap Lo nanti juga bakalan sedih di sana." Hibur Rio.

" Kapa çeneni!" (Diam kamu!) Ungkapnya dengan membentak. "Haduh... Bisa gak sih Lo ngomong kaga usah pakek bahasa Turki? Gue kaga tau artinya Ida..." Ucap Rio dengan frustasi. Tiba-tiba Zoebaida berdiri dan mengatakan " bana bağlı!" (Terserah aku!). Lalu pergi meninggalkan Rio yang masih berdiri di tempatnya.

"Huh! Kalau bukan karena Lo sahabat gue. Gue tinggal Lo di sini" ucapnya sendiri.

Setelahnya mereka berdua pergi meninggalkan pemakaman itu menggunakan mobil Rio. Mereka berdua bersahabat sejak memasuki bangku SMA. Rio yang selalu melihat Zoebaida seorang diri merasa kesepian dan mulai mendekatinya. Semakin lama keakraban mereka semakin terlihat. Dan status mereka naik tingkat menjadi sahabat. Sampai sekarang mereka juga masih menjadi seorang sahabat.

Kadang kala walaupun mereka sudah berumur 27 tahun dan 28 tahun sifat mereka masih sama seperti anak berusia 5 tahun yang tidak mau mengalah. Seperti sekarang.

"Nggak mau. Pokoknya gue mau makan di KvC. Udah lama gue nggak makan di sana." Rengek Zoebaida. "aduh Ida... Enak di McRonald. Percaya deh sama Rio yang tampan ini." Ucapnya meyakinkan.

"Nggak mau!"
"Mau!"
"Nggak!"
"Iya!"
"Tau ah!"

Dan jika sudah seperti ini, maka ini saatnya untuk Rio mengalah. "Hmm ya udah deh kita ke KVC". Seketika senyum Zoebaida langsung mengembang. "OK! LET'S GO!" Ucap Zoebaida antusias. Setelah itu mereka langsung pergi ke KVC.

ZOEBAIDAStories to obsess over. Discover now