Namaku Noela Azzahra. Teman-teman bilang nama yang bagus walaupun aku sedikit merasa kurang pede karena banyak dari mereka yang memilih memanggilku Noel daripada Ela. Aku tidak pernah memaksa mereka memanggilku Ela ataupun Noel, tetapi jika boleh memilih aku lebih suka dipanggil Ela.
Aku akan menceritakan sebuah kisah saat aku berada di masa SMA. Orang bilang masa paling menyenangkan saat sekolah adalah ketika berada di bangku SMA. Dan aku sependapat dengan itu.
Yogyakarta, 2010
Hari itu tepat hari Rabu di mana kelasku 10 IPS 2 sedang pelajaran olahraga. Saat itu olahraga kami adalah lempar lembing, karena itu kami harus menggunakan lapangan yang lebih luas, sedangkan lapangan hijau sekolah luasnya tidak seberapa, hanya cukup untuk upacara bendera saja. Karena itu, kami semua harus pergi ke luar sekolah untuk menuju ke lapangan.
Ketika sampai di lapangan ternyata sudah ada anak kelas sebelah yang menempati lapangan. Mereka juga sedang olahraga lempar lembing. Karena barsamaan dengan kelas sebelah jadinya kami harus saling bergantian. Untuk setengah waktu kelas sebelah dulu yang memakai lapangan sedangkan kelasku menunggu sambil menonton mereka yang berolahraga. Aku duduk di rumput hijau bersama beberapa teman kelas yang sudah terduduk.
“Yang mana sih anak barunya?” tanya Abel, temanku yang menurutku paling cantik di kelas.
“Yang itu yang pake baju warna item, beda sendiri.” Shania menunjuk seorang laki-laki yang tengah duduk bersama teman-temannya di tengah lapangan.
Laki-laki itu adalah Niall Abadi.
Ya, aku tau namanya karena setelah kejadian itu entah siapa yang mengatur, kami jadi saling mengenal dan menjadi dekat.
“Ngapain nunjuk-nunjuk Niall? Gebetan gue, gak usah ambil start duluan.” Ega yang baru saja datang langsung nyerocos.
Aku yang mendengar percakapan mereka hanya acuh tak acuh hingga teman dekatku, Sofia mengajakku berbicara mengenai anak baru itu.
“Dia pindahan dari Bandung,” ucap Sofia. Aku tahu ia tengah memberitahuku tentang anak baru itu. aku hanya diam menatap Niall yang sekarang sudah pindah posisi menjadi berdiri dan siap untuk melempar lembing karena sudah gilirannya.
“Ganteng ya, Noel.” Sofia menyenggol bahuku membuatku tersadar lalu menatapnya. “Biasa aja, gantengan Justin Bieber.”
“Huh dia lagi dia lagi.” Sofia mendengus kesal. Aku memutar bola mataku. Sudah biasa seperti ini.
“Banyak yang naksir dia, saingannya Kak Jason tuh.” Aku menatap Sofia. “Gak cocoklah, si Jason mah ganteng.”
Sofia menatapku sumringah. “Eh sumpah, Noel, barusan bilang apa? Kak Jason ganteng? Tumben anjir, gak biasanya lo muji cowok. Jarang eh gak pernah malah.”
Aku memutar bola mataku untuk kedua kalinya. “Biasa aja deh. Jason emang ganteng tapi tetep gantengan Justin Bieber dan 5 pangeran gue One Direction.” Kali ini gantian Sofia yang memutar bola matanya.
“Jason kan ketua OSIS, anak basket plus futsal gak cocoklah disamain kaya dia. Dari tampangnya sih dia culun gak tau aslinya lebih culun kali.” Sofia menampar pipiku pelan, tidak terasa. “Mulutnya dijaga. Gitu-gitu dia imut.”
Jam olahraga sudah selesai, kami semua kembali ke sekolah untuk melanjutkan pelajaran seperti biasa. Sebelum melanjutkan pelajaran berikutnya tentu kami harus berganti mengenakan seragam sekolah. Aku dan Sofia berniat mengganti seragam di kamar mandi dekat kelas 12, kamar mandi yang jarang kami datangi.
Karena tempatnya terbatas, aku dan Sofia harus saling tunggu menunggu. Aku sudah masuk terlebih dahulu sedangkan Sofia menunggu di depan pintu, begitupun sebaliknya saat Sofia masuk aku menunggu di pintu.
“Noel,” teriak Japri, anak kelas sebelah. Aku menoleh dan mendapatkan Japri yang sedang meminum es teh di tangan kirinya sambil menyengir kuda ke arahku. Dan juga di sampingnya, ada Niall yang tengah berdiri memperhatikan Japri dan aku.
“Apaan?”
“Ada yang mau kenalan nih, anak baru, pindahan dari Bandung,” kata Japri sambil melirik Niall.
“Enggak, ngarang woy.” Niall menimpali sembari memukul kepala Japri lalu menariknya agar menjauh dari kamar mandi.
Saat itu aku tidak merasakan apapun, selain rasa kesal pada Japri dan malu pada Niall. Apa yang dikatakan Japri memang tidak seberapa dan tidak penting, memang begitu tapi kenyataannya apa yang dikatakan Japri membuatku terus memikirkan anak baru itu sampai jam terakhir berakhir.
“Noel duluan ya udah dijemput,” kata Sofia lalu berlalu keluar kelas.
Baru beberapa menit bel pulang berbunyi kelas sudah sepi penghuni. Hanya tinggal ada aku dan dua atau tiga tas dari temanku.
“Noell,” suara Japri membuatku sontak kaget. “Japriiiiii, ngagetin. Apaan?”
“Ini ada surat dari seseorang haha” ucapnya memberi selembar kertas lipat ke mejaku. “Dari siapa?”
“Buka sendiri dong. Gue duluan ya,” jawabnya langsung keluar dari kelasku dengan tawanya mengejek.
Aku membuka lipatan kertas itu, tebak dari siapa? Itu dari Niall.
Ini Niall. Anak ganteng dari Bandung
Jogja ternyata panas banget ya, beda
dari Bandung kirain sebelas duabelas
Mau jajan es kelapa muda bareng ga
pulang sekolah ini? Gue tunggu di
gerbang depan, gue traktir deh. Biar
rezeki. Inget ya rezeki gak boleh ditolak.
Segera aku meremas kertas dari Niall. Entah gimana rasanya waktu baca surat itu. Ilfil, mungkin itu yang aku rasain. Bayangin aja, ada cowok gak dikenal yang tiba-tiba ngajak jajan bareng dengan cara ngasih surat gitu, terlalu percaya diri.
YOU ARE READING
Niall & Noel
Teen FictionSebuah cerita klasik seorang anak baru yang merasa penasaran dengan kehidupan gadis yang katanya "fangirl" Niall & Noel 12 Maret 2019
