Minhyuk terbangun dari tidurnya. Dia sama sekali tidak merasa lebih segar dari sebelumnya. Keadaannya semakin memburuk. Terpuruk menyalahkan dirinya sendiri. Duduk di samping ranjangnya dan mengambil handphone untuk kemudian mengetikkan sesuatu di dalamnya. “Selamat pagi, Kihyunie.”
Hari ini masih sama. Tidak ada yang berbeda. Masih mencintai laki-laki itu seperti sebelumnya. Perasaannya sama sekali tidak berubah, malah yang ada dia semakin terjatuh ke dalamnya. Sialnya sesuatu yang dia lakukan sebelumnya membuat semuanya menjadi hancur.
Menunggu balasan dari Kihyun dan dengan kebodohannya, Minhyuk terus-terusan mengiriminya pesan, seperti;
Hari ini bagaimana kabarmu?
Makan yang banyak
Jangan lupa baca pesanku, terus balas ya!
Tapi nyatanya sampai saat ini, Kihyun tidak membalasnya. Bahkan pesan yang sebelumnya sama sekali tidak ada balasan dari laki-laki yang sedang dirindukan sosoknya sekarang. Bodohnya, Minhyuk terus menunggu dan mengirimkan pesan untuknya.
Dia sangat merindukan senyuman lebar Kihyun. Minhyuk ingat sekali ketika pertama kalinya mengajak berkencan pada suatu tempat, dan mereka benar-benar menikmatinya. Keduanya merasa senang dapat menghabiskan waktu bersama di sela-sela kesibukan mereka masing-masing.
Dan lagi, laki-laki itu masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya menggenggam tangan Kihyun, saling menyalurkan kehangatan. Mengucap doa pada ulang tahunnya di bulan yang sama. Saling mendoakan hal terbaik untuk kehidupan keduannya.
Dia selalu mengingat dengan jelas bagaimana waktunya ketika bersama dengan Kihyun. Laki-laki yang sekarang dirindukan kehadirannya—meskipun dia adalah sosok yang terkadang menyebalkan dan rasanya ingin terus-terusan bertengkar dengannya.
Kihyun juga tidak pernah dengan jelas menyatakan perasaannya pada Minhyuk. Jika orang lain dengan mudahnya mengatakan, aku menyayangimu atau aku mencintaimu. Lain halnya dengan Kihyun, dia tidak pernah mengatakan hal tersebut pada laki-laki scorpio itu.
“Kihyunie, bagaimana cara menyatakan perasaan pada seseorang agar tidak terdengar menjijikan?”
“Katakan saja apa yang ingin kau katakan.”
“Kihyunie, aku sayang padamu.”
“Aku tidak mendengarnya.”
Pada dasarnya, tanpa harus dikatakan Kihyun sebenarnya tulus menyayangi Minhyuk. Meskipun kata-katanya seperti itu, dia memiliki hati yang lembut.
Dimulai dari, “Sebenarnya aku terpaksa menginap di sini karena sebelum berangkat bekerja kau tidak pernah sarapan bahkan makan pun jarang. Membeli makanan cepat saji juga tidak baik. Kita tidak akan pernah tahu itu sehat atau tidak.”
“Kihyunie terbaik dan aku jadi semakin sayang. Kau tinggal saja di sini secara terus menerus bagaimana? Aku juga ‘kan tidak mengganggumu bekerja.”
“Baiklah …”
Dan setelah mereka berdua tinggal, mereka jadi lebih banyak bertengkar seperti,
“Lee Minhyuk, hentikan kau bahkan tidak patut menerimanya.”
Meskipun seperti itu jawabannya, akan terasa sangat manis jika dilontarkan oleh mulut seorang Yoo Kihyun. Minhyuk malah semakin menyukainya.
“Kihyunie, aku suka rasa bibirmu.”
Satu kalimat tersebut dapat memukul jantung Kihyun. Tidak bisa berbohong, saat ini jantungnya berdetak lebih cepat. Sialan memang Lee Minhyuk.
“Aku tidak mau melakukan sex hanya karena kau suntuk dengan pekerjaanmu. Jangan jadikan aku sebagai pelampiasan—“
“Aku melakukannya karena rasa cinta kok.”
“Berisik.”
“Kihyunie seharusnya percaya.”
Banyak hal yang Minhyuk lakukan namun Kihyun berpura-pura tidak suka—seperti berciuman atau melakukan hubungan intim. Secara rinci sebenarnya kedua insan tersebut saling menyayangi.
Sekarang matahari sudah agak naik namun Minhyuk masih pada posisi yang sama. Menggenggam ponsel dan menunggu hal yang tidak akan pernah datang.
Dia jadi teringat akan mimpinya semalam. Dirinya masih mengingat dengan jelas wajah Kihyun begitu pucat dan genggaman tangannya yang dingin.
“Kedinginan?”
“Aku bahkan tidak merasa seperti itu.”
Minhyuk memberikan sebuah hot pack pun sepertinya tidak akan berpengaruh. Dia menundukan wajahnya menyandarkan tubuhnya pada bahu Kihyun dan tanpa sadar menangis. Melepas apa yang selama ini ditahan dan terasa sangat sesak. Laki-laki itu tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Sampai kapan pun dia akan merasa sangat menyesal.
“Seandainya saat itu kita tidak pergi—“
“Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi.”
“Ini sangat menyesakkan.”
“Tidak ada yang salah. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri.”
“Aku tidak bisa …”
“Lee Minhyuk.”
“Aku bahkan membenci diriku sendiri.”
“Minhyuk ... dengar … aku bahkan tidak pernah membencimu. Jangan membuat dirimu sendiri menjadi terpuruk.”
Mimpi itu terasa sangat nyata. Sosok Kihyun terlihat nyata adanya. Bahkan Minhyuk memang benar-benar menangis. Setelah itu, semuanya berubah. Kembali kepada kenyataan di mana dirinya memang tidak akan pernah bertemu lagi secara nyata dengan sosok yang baru saja dia mimpikan. Rasanya sesak tapi Minhyuk harus bisa menerimanya.
Meskipun pada hatinya akan terus merasa bersalah dan jika saja saat itu dia tidak mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, semuanya tidak akan begini. Jika saja dia dengan cepat menyadari bahwa lampu lalu lintas berganti merah dan dia bisa mengendalikannya, semuanya juga tidak akan separah ini.
Semua terasa semakin sesak ketika dirinya harus kehilangan seseorang. Dia bahkan ditakdirkan hanya cedera di beberapa tempat dan patah tulang pada bagian tangan. Meskipun terbilang parah tapi semuanya bisa diperbaiki ... namun dia tidak bisa mengembalikan Kihyun. Dia hanya manusia yang mampu menerima takdir saja. Tidak mampu mengubah keadaan.
Jika saja semua itu tidak terjadi, Minhyuk masih bisa merasakan Kihyun bersamanya sekarang.
YOU ARE READING
Regret.
FanfictionMinhyuk menyesal. Ia frustasi dan terus menerus menyalahkan dirinya/KiHyuk
