Part 1

22 3 1
                                        

          Suasana malam yang sunyi dengan alunan musik religi dari radio kecil yang entah berapa umurnya. Radio kecil ini adalah pemberian dari Abiku. Abiku adalah seorang laki-laki yang sangat bijak dan ia selalu sabar mendidikku. Abiku bekerja sebagi seorang penjahit kecil di rumah juragannya. Ibuku bekerja disebuah pabrik roti dengan upah seadanya hanya untuk membantu menghidupi keluarga kecilku. Aku sekarang telah berpisah dengannya beberapa bulan yang lalu. Sekitar 3 bulan. Meskipun hanya 3 bulan bagiku itu adalah waktu yang lama untuk hidup mandiri. Tak ada kasih orang tua yang menyambutku ketika pulang dari kampus. Tak ada cakap-cakap dengan mereka. Mungkin hanya lewat telepon genggam yang kubawa dari negara. Sebuah ponsel kecil pemberiaan pertama dari ibuku sebagai hadiah ultahku ke 17.
Ya umurku sekarang memang baru menginjak 19 tahun. Aku hidup mandiri disebuah Apartemen. Aku mendapat beasiswa sekolah di Inggris. Negara yang paling kudamba-damba.

           Pagi mulai menjelma. Alunan musik syahdu membangunkanku. Hujan mulai mengguyur sekitar apartemenku. Jalan terlihat indah dengan aspal yang basah dan runtuhan daun berwarni-warni menutupi jalan. Aku membasahi wajahku dengan basuhan air wudhu. Menjalankan salat subuh dan segera pergi ke dapur menanak nasi. Matahari mulai menampakan sinarnya. Membentuk siluet ke arah kamarku yang indah. Desahan angin mulai terdengar merdu disambut dengan kicauan burung yang bersahut sahutan. Entah ada kesepakatan apa waktu dengan takdir ,jam seolah bergerak begitu cepat. Pukul 07.00 dan aku masih mengenakan piyama polkadotku. Aku berlari terbirit-birit karena sekarang ada jadwal kuliah pagi. Kusiapkan semuanya untuk bahan belajarku nanti dan langsung tancap gas turun ke bawah. Dengan buku yang jumlahnya cukup banyak berada diatas dekapan tanganku.

"Selamat pagi, bibi. Aku berangkat dulu ada kuliah pagi hari ini! assalamualaikum" ucapku pada bibi pemilik apartemen yang kuanggap sebagai ibuku sendiri.

"Iya, hati-hati jaga kesehatanmu! walaikumsalam" jawabnya sambil melambaikan tangan kanannya ke arahku.

          Tanpa diduga sebelumnya tepat didepan apartemenku aku menabrak seorang pria yang menurutku sedang menikmati indahnya pagi hari. Buku dan lembar kerja yang telah kususun rapi berurutan, berserakan begitu saja. Bibi apartemenku keluar dan berkata"Sudah kubilang kau hati-hati dan sekarang kau menabrak orang?". Aku memandangnya dengan perhatian tanpa memedulikan lelaki yang sedang memunguti buku dan lembaran skripsiku.

"Ini bukumu. Maaf jika aku menabrakmu!" ucapnya sambil memberikan buku buku itu padaku. Aku segera pergi meninggalkannya. Namun ia menghentikanku dan berkata "Siapa namamu?"

"Tanyakan saja pada bibi Bahar. Aku sudah terlambat. Assalamualaikum!" ucapku sambil berlari dan menaiki sepeda butut milik Jorse.

        Tiba tepat di Kampus. Pelajaran Mrs. Evelyn sudah dimulai. Mrs. evelyn mengajar Matematika. Ia adalah dosen yang memilik sifat rendah hati dan pemaaf. Aku mengetuk pintu dan dipersilakan masuk begitu saja. Jam kuliah pagi berakhir pukul 11 siang. Aku dan temanku Victoria dan Oliva sengaja pergi keluar kampus hanya untuk pergi mencari kudapan siang diluar sana. Ngomong-ngomong sebenarnya namaku adalah Zahrani emma ludyawati. Aku menikmati kudapan siang kali ini disebuah Cafe dengan hiasan yang unik dan terlihat mewah. Sinar matahari mulai menerpa wajah kami. Keringat mulai terlihat bercucuran diatas kening mereka. Kuajak mereka duduk di sebuah taman yang sangat cantik. Tapi sebelumnya disebuah perjalanan ada seorang lelaki yang baru saja memanggilku "Zahra". Aku menengok ke asal suara. Ku lihat seorang lelaki bertubuh cukup tinggi, berparas asia. Lelaki itu melambaikan tangannya kearahku. Aku mulai berusaha memutar memori dalam otakku yang mungkin bersangkutan dengannya. Namun nihil aku tidak ingat. "Aneh umurku masih muda untuk bisa mengingat tapi sekarang kenapa aku cepat lupa? Apa mungkin aku terkena virus orang tua , PIKUN!" aku bicara dalam hati pada diriku sendiri.

       "Ayo... Zahra!" ucap victor sambil menggerettubuhku yang masih terpaku diam. Aku duduk terpisah sedikit jauh dari mereka.Aku duduk sendiri menikmati kudapan siang dan gemericik air pancuran kolamdihadapanku. Ikan terlihat begitu lincah menari-nari kesana kemari.

      "Siapa gerangan lelaki itu? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya," batinku dalam hati.

       Matahari mulai sayu-sayu menurun bersembunyi dibalik awan. Cuaca terlihat begitu cerah daripada pagi tadi. Kukayuh sepedajorse lebih cepat agar aku tidak terlambat pulang. Kubuka engsel pintuapartemen. Seperti biasa dentuman lonceng itu terdengar jelas di telingaku.Kulihat bi Bahar sedang duduk melihat televisi. Menghayati drama cinta yanganeh, menurutku. Bi Bahar kemudian menengokku yang sedang menaikki tangga danberkata "Temani bibi ke acara syukuran teman bibi ya, besok malam ". Bibi apartemenku ini memang sangat dekat denganku. "Mm, kurasa besok aku sedang tidak pergi kemana-mana. Baiklah bi, pukul berapa ?" tanyakupadanya. "Pukul 19.00. pakai baju putih!" jawabnya sambil serius melihat tv.Aku hanya mengangguk dan masuk kedalam.

***

Titik TemuBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin