/Chan•seul/
"Seul, suatu saat Aku bakal masuk keasrama sana" Celetuk Irene, yang membuat Seulgi melotot tak percaya.
"Ih, ngehalu aja mulu. Itu boongan Kak, bosen tau ngomong itu mulu" Seulgi memijat keningnya.
"Ngapain ih?" Tanya Irene.
"Aku pen nanya kenapa bisa temenan sama orang penghalu kayak Situ" setelahnya Seulgi tak lagi bisa bernafas tenang, wajah mungilnya sudah tertutupi bantal dengan erat.
"Ha! Ka, Aku enga bitha naphas!" Seulgi sudah meronta-meronta dalam dekapan bantal Irene, lalu dengan berat hati Irene mulai melepasnya.
"Sukurin!"
"Hish! Pembalasan akan lebih kejam!" Dan Seulgi membalas perbuatan yang Irene lakukan kepadanya. Sadar, mereka tertawa bersama-sama menyadari ini sudah pukul 23:00 KST.
Bergadang jangan bergadang~
kalau tiada artinya~
begadang boleh saja~
Kalo ada perlunya~
"Berisik!" Teriak Seulgi dan Irene berbarengan saat menyadari seseorang sedari tadi menyanyikan lagu itu untuk mereka.
"Kamu yang berisik, udah tau ini tengah malem masih pada cipika-cipiki" Ujar seorang laki-laki dari seberang ranjang mereka. Yang ternyata baru saja masuk kekamar Irene.
"Tidur, besok acaranya pagi"
"Ngga papa, lagian besok aku udah lulus"
"So? Bukan berarti kalian bisa seenak-enaknya begadang ngga jaga kesehatan, kalian masih piyik"
selanjutnya laki-laki itu sudah melangkahkan kakinya ke kamarnya sendiri, yang membuat Irene dan Seulgi gemas untuk cepat-cepat menendang pantatnya sebelum dia benar-benar masuk.
Fug..
"Aduh, ini pantat! sakit! Ih dikira ini samsak hah?! Priben?" Sang korban pun jatuh dan menyeret badanya kekamar, sebelum membalas dua gadis dihadapannya.
Pret..
"Bang! Pantatnya terbuat dari apa sih? Bau!!" Teriak Irene dan menendang pantat Geomda dengan kencang hingga menimbulkan suara.
~(•c•)~
Paginya Seulgi dan Irene terbangun dengan wajah yang basah, siapa lagi kalau bukan Geomda si pelakunya yang masih meraba-raba pantatnya sedih.
"Bangun kau para kerbau, liat noh jam berapa?" Ucap Geomda santai, sudah biasa baginya membangunkan spesies ini.
"Yaela masih jam tujuh..." Ucap Seulgi dengan uapan diakhir.
"Kamu masuk jam berapa Tuyul?"
"................"
Saat menyadari bahwa mereka sama sekali belum siap, dengan cepat Irene berlari ke kamar mandi. Sedangkan Seulgi dia sibuk menyiapkan bajunya dikasur.
"Seul, kamu ngga mandi apa?"
Yang ditanya hanya menjawab gelengan, Seulgi mempercepat langkahnya kekamar Geomda.
"Kak! Aku minjem kamar mandinya!"
Brugh..
Setelah dua menit kemudian, Seulgi sudah keluar dari kamar mandi. Membuat Geomda dibuat bingung.
"Lah, cepet banget. Kamu mandi ato cebar-cebur sih?"
"Mandi engga, cebar-cebur engga, aku cuman cuci muka sama sikat gigi"
"Ih, kamu tuh perempuan, masih SD lagi. Kok jorok sih? Aku aja ngga pernah ngajarin" Ucap Geomda sambil bersedekap, menatap tajam Seulgi.
"Eh, aku udah lulus SMP. Yakin?"
Tanpa memperdulikannya menjawab, Seulgi sudah melesat kekamarnya. Dan meninggalkan Geomda yang tak yakin dengan jawabannya.
"Irene! Ah, syukur dah kamu udah keluar. Buruan pilihin bajunya!" Seulgi yang sedang berias, menatap Irene yang berdiri didepan kamar mandi dengan baju santai.
"Ngapain sih pake make up-make upan? Kulit kamu kan sensitif" Irene yang baru keluar, dibuat terkejut oleh wajah berantakan Seulgi.
"Ku apus ya?" Irene mengambil cleanaing water ditisu yang ia lipat sehingga tebal, lalu menempelkannya ke wajah Seulgi. Dan Seulgi hanya mengangguk lucu.
"Kasih ini aja ya?" Ucap Irene sambil menunjukann lipstick merah muda pada Seulgi.
"Ok kak" Saking senangnya Seulgi sampai memeluk pundak Irene erat.
"Makasih ya kak Irene"
Irene mengerjapkan matanya.
"Sama-sama, Culberku" Irene balas memeluk, lalu menyium rambut Seulgi.
~(•c•)~
Seulgi melangkah dengan cepat, seharusnya waktu ini diambil olehnya untuk berpidato kelulusan SMPnya. Namun dia tidak dapat mengejarnya, saat melihat Naesa—temannya menggantikan posisinya berpidato.
Tanpa merasa memiliki kesalahan, Seulgi langsung duduk disamping Seunna—sahabatnya. Membuat Seunna merasa jengkel.
"Ey, kamu ngambek?" Tanya Seulgi hati-hati.
"Apaansih"
"Bener?"
"Ash, Aku sendirian tau. Dari tadi cuman cengo doang nyariin kamu" Dia bersedekap menatap Seulgi yang terkikik geli saat Seunna bercerita.
"Kok ketawa sih?"
"Dih, lagian. Udah tau besar, masih aja manja. Trus tadi kayak anak ilang ngga?"
Plak..
Ditepuk kencang pundak Seulgi, sehingga empunya mengaduh sakit.
"Mamam kau"
"Eh, by the way Seun. Tadi pas Aku liat barisan kursinya kok aku ngga liat nama Taehyung ya?"
"Kalo ngga salah, dia langsung pindah ke negara orang"
~(•c•)~
Tbc..
YOU ARE READING
/chan•seul/
Fanfiction❝Biarin aja, ntar juga dia tau rasa.❞ 『𝚎𝚟𝚎𝚛𝚢 𝚜𝚝𝚘𝚛𝚢 𝚠𝚒𝚕𝚕 𝚊𝚕𝚠𝚊𝚢𝚜 𝚌𝚘𝚗𝚝𝚊𝚒𝚗 𝚎𝚖𝚘𝚝𝚒𝚘𝚗𝚜, 𝚙𝚕𝚎𝚊𝚜𝚎 𝚐𝚎𝚝 𝚢𝚘𝚞𝚛𝚜𝚎𝚕𝚏 𝚒𝚗 𝚝𝚘 𝚒𝚝 𝚠𝚒𝚝𝚑𝚘𝚞𝚝 𝚑𝚊𝚝𝚒𝚗𝚐 𝚘𝚗𝚎 𝚘𝚏 𝚝𝚑𝚎 𝚌𝚊𝚜𝚝.』 𝐞𝐧𝐣𝐨𝐲 𝐭𝐡𝐞 𝐜𝐡�...
