Prolog

3 3 1
                                        

Kuhirup aroma tanah yang basah karena air hujan pagi ini. Kurasakan kemalasan yang luarbiasa saat ku menginjakkan kaki ke tempat kerjaku. Ahh, iya.. aku harus bekerja. Demi mengais rupiah untukku membeli sesuap nasi plus ayam geprak "Bang Topan" dan seteguk es teh setiap harinya. Dan demi selembar tiket nonton setiap bulannya, aku rela berkuat dengan pekerjaan yang sama sekali bukan keahlianku.

Aku adalah seorang wanita kelahiran 90an dari jurusan bahasa dan sastra yang sekarang sedang terjebak dalam gedung sekolah yang penuh dengan anak-anak usia 6-12 tahun yang membuatku merasakan sensasi luarbiasa setiap harinya. Tidak hanya itu, gelarku sebagai anak bahasa dan sastra hilang seketika karena aku bekerja sebagai seorang guru Arts.

Aku akui sih aku sangat suka dengan hal yang berbau seni. Bukan air seni lho! Hahahahahaha .... Oke garing!!! Seni lukis, seni musik, ataupun seni tari, aku sangat menyukainya. Selain itu aku sedikit bisa menggambar dan melukis. Tapi, hal yang paling tidak bisa aku lakukan dalam keahlianku adalah aku tidak bisa mengajar kesenian kepada anak-anak seusia itu. Bayangkan saja, seharusnya yang mereka gambar adalah pemandangan desa, hasil gambaran mereka adalah pemandangan garis ruwet melingkar seperti mie rebus yang aku buat pagi ini untuk sarapanku.

Aahh, hampir saja lupa! Kenalkan, namaku Vivi. Nama panjangku adalah Jovina Lesmana. Anak-anak di sekolah tempatku mengajar lebih suka memanggilku Ms. Vivi. Tinggi badanku sekitar 165cm, berat badanku ......... ah sudahlah, ini selalu membuatku merasa tertekan. Anggap saja aku chubby. Sudah sekitar 6 tahun aku bekerja sebagai guru seni. Walapun sebenarnya aku bosan, aku belum saja beranjak untuk mencari pekerjaan lain dan keluar dari zona amanku ini.

***

Hari ini merupakan awal ajaran baru setelah sebulan kami menikmati libur panjang. Kami para manusia yang bekerja sebagai tenaga pendidik, hari ini akan mengadakan raker (rapat kerja) untuk program tahunan kami. Dan yaaaa, aku juga termasuk dalam kategori tenaga pendidik walaupun kadang aku juga butuh untuk dididik lagi.

"katanya hari ini ada guru baru ya, semoga laki-laki. Kami para wanita butuh kesegaran mata" ucapku dalam hati sambil memasuki ruang rapat.

***

Seorang lelaki paruh baya, berkulit hitam kusam memakai kemeja warna biru tosca, dasi berwarna pink menyala masuk ke ruang rapat. Dengan tampang sok ganteng dan sok keren, lelaki paruh baya itu tersenyum kearah para guru dan staff.

Bak sedang menikmati film horror, saat melihat lelaki paruh baya itu masuk ke ruangan, suasanya berubah menjadi tenang dan hening. Semua mata ternganga melihatnya. Bukan karena terpesona, melainkan terkejut melihat perpaduan warna pink dan biru tosca yang menutupi kulitnya yang gelap. Okeeee! Aku tidak mau terlalu rasis!!!! Tapi sungguh, kami ingin tertawa.

Tenang!!! Dia bukan guru baru kami, dia adalah kepala genk di tempat kami bekerja. Lebih tepatnya dia adalah kepala sekolah kami. Namanya Pak Puguh. Kami menjulukinya Pak Sarmento, karena dia sangat mahir dalam memainkan gitar seperti orang-orang di Meksiko sambil mengenakan topi lebarnya.

"selamat pagi, bapak ibu guru." sapa si Sarmento dengan logat medoknya.

"pagi, Pak!" sahut semua guru.

"Baik, bapak ibu, langsung saja ya, saya akan jelaskan program sekolah kita untuk tahun ini", jelasnya.

Seperti biasa panjang dan lebar Pak Puguh menjelaskan program tahunan kami. Dari jarum pendek berada pada angka 8 sampai jarum pendek mengarah ke angka 11. Beliau menjelaskan dengan semangat yang membara dan menggunakan bahasa yang bagiku sangat sulit aku mengerti. Mungkin karena IQku dibawah rata-rata jadi aku sangat susah mengerti bahasa dan maksud seseorang yang bisa dibilang cerdas.

Aku sangat bosan mendengar penjelasan dari kepala sekolah tercintaku. Perutku sudah mulai berbunyi nyaring. Posisi dudukku juga sudah sering berganti. Saat aku melihat ke arah teman-temanku, sepertinya mereka juga merasakan perasaan yang sama sepertiku. Ada yang menguap lebar seperti kuda nil. Ada yang bermain game di HP mereka. Ada juga yang mencoba melotokan mata supaya tidak ketahuan ngantukknya. Aaahhhh, beliau sangat membosankan! Kemeja biru toscanya membuat mata kami terus memandang ke arahnya. kami lelah paak!! mengertilaah!! 

"sudahi penderitaan ini, Pak! Kami lapar!! Kami lelaaaaahh!!" ucapku dalam hati.

Mungkin ikatan batin antara aku dan kepala sekolahku ini kuat sekali, jadi dia sangat mendengar jeritan hati yang dirasakan olehku.

"Nah, bapak ibu, karena sudah siang, kita sudahi dulu raker hari ini. Silahkan setiap guru membuat program tahunan sendiri dan besok pagi kita akan saling sharing." ucapnya yang membawa kebahagiaan bagi setiap kami yang sudah sangat tidak tahan menahan derita lapar dan dahaga ini.

***

"Mau makan apa kita hari ini?" tanya Ridho yang merupakan salah satu teman tebaikku dalam memilih makanan untuk kita makan siang setiap harinya.

"Kamu mau beli apa, Dho?" sahutku dengan mata berbinar mendengar suara Ridho sang penyelamat perut kami.

"Nasi goreng? Ayam geprak? Cap cay? Apa ayoh pilih. Aku saja yang keluar" balasnya.

"Cap cay kuah pedas enak nih!" sahutku.

"Aku juga mau, Dho. Cap cay kuah sedang ajah." timpal Lestari menyetujui ideku.

Setelah membuat daftar pesanan kami. Ridho pun berangkat untuk membeli makan siang kami sesuai pesanan.

Mohon maaf apabila masih ada kesalahan dalam penulisan. Apabila ada saran dan kritik yang membangun, silakan langsung komentar sajaaaaa... thank you! :)

Adore You!!!Donde viven las historias. Descúbrelo ahora