#1 prolog

25.6K 687 10
                                        

         Aku terduduk di tepi halaman belakang ndalem untuk sekedar melepas penat. Aku begitu menyukai pemandangan yang disajikan Allah disini,inilah salah satu alasan mengapa aku begitu nyaman berlama-lama di tempat ini.

"Mboten mah..mboten,wawa dirumah aja,ndak mondok" kataku sambil terisak dengan menarik narik gamis umaa.

"Udah,wawa yang nurut ya sama umaa,mondok itu enak nduk,banyak teman,do'anya di kabulkan Allah.."

"Tapi,wawa mau nemenin umaah,kalo wawa mondok,nanti wawa ndak bisa tidur bareng umaah,ndak bisa dengerin tilawah merdunya umaah.." ku tatap wajah ayunya yang sama sekali tak bisa ku artikan.

"Wawa..percaya kan sama umaah?" ummah berjongkok menyamakan tinggiku dan menyentuh pipiku lalu menghadapkan pada wajahnya.

"di pondok itu banyak orang ngaji,nderes,bahkan lebih merdu dari tilawah uma nduk..katanya wawa pengen kayak umaa,bisa hafal Qur'an,makanya mondok ya nduk,nanti kalau kangen umaa,zahwa boleh minta uma kesana jengukin wawa,insya Allah pasti uma langsung kesana hari itu juga.." bujuk ummah kala itu.

"Tapi..surga kan ada di bawah telapak kaki umaah,nanti kalau wawa mondok,apa wawa akan masuk surga? " tanyaku polos.

"Wawa..anak umaah,kamu kan tau Ridho Allah ada pada kedua orang tua,umaa dan abah sungguh ridho kalau wawa mau mondok,itu berarti Allah juga pasti meridhoi wawa untuk masuk surgaNya.." uma membelai pucuk kerudungku

"Ya udah deh mah..wawa mau mondok.."

        Perbincangan sepuluh tahun silam masih lekat di memori otakku. Saat itu usiaku masih delapan tahun,dan kala itu wanita yang melahirkanku masilah terlihat begitu cantik dengan badan idealnya. Tapi kini,ku rasa penyakit yang di derita umaa tlah menggerogoti tubuhnya.

Umaa..bagaimana keadaanmu saat ini,dua hari yang lalu,aku mendapatkan kabar dari mas Zein, kakakku. Katanya umaa kambuh lagi.

         Karena sering kambuh,lagi-lagi umaa melarangku menjenguknya. Beliau selalu bilang.Anteng o disisi bunyai,jangan pikirkan Ummah.

"Zaa..Zahwa.."suara bunyai membuyarkan lamunanku,entah berapa kali sudah beliau memanggilku. Akupun segera menghampirinya.

"Piye to kamu ini,tak panggilin dari tadi..ayo,waktunya udah mepet ini..kamu kenapa to,kok mukanya masam gitu,kepikiran umaamu ta..nanti selesai pengajian kita jenguk umamu yaa.."

mataku langsung berbinar mendengar itu.Bunyai memang selalu mengerti akan kegundahan yang dirasakan para santri-santrinya,beliau juga begitu sabar dan telaten pada semua santri tak memandang bagaimana keadaan santri itu.

"Njiih mii..terima kasih" jawabku ta'dzim.

          Seperti biasa,aku yang seorang tangan kanan bunyai,selalu di ajak kemanapun beliau tindak,karna tak akan tenang bagi Abahyai,jika harus membiarkan umik hanya dengan kang Adam. Sopir ndalem,takutnya abah,umii butuh sesuatu yang privat bagi perempuan..

                          🌹🌹🌹

Sertakan comment kalian yaa..maaf jika kurang menarik..karna ini cerita pertamaku..semoga menghibur yaa..

Keep Spirit Murroja'ah Yeah!


Jazakumulloh khoiir...

Syahadah Cinta ✔️Stories to obsess over. Discover now