We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PART I: Prologue

25 2 16
                                        

"Dingin"
Mengapa hawa nya sangat dingin ditengah semua gejolak masalah?.

"Sunyi"
Mengapa terasa begitu sepi ditengah keramaian ini?.

"Hampa"
Mengapa semua begitu kosong ditengah semua kepadatan ini?.

Segera aku bangun dan menyadarkan diri sebelum suara-suara di kepala itu mengambil alih akal sehatku.

Kuperhatikan semua hal masih sama seperti sebelum aku terlelap dan terlena dunia mimpi.

Langit yang gelap sudah menampakan kebiruannya.
Pohon tempat ku bersandar dan berlindung masih kokoh menghujam tanah.
Rumput ilalang yang hijau masih menjaga disekeliling tubuhku.

"Betapa indah alam Sollheim ini, penyihir manapun tak ada yang boleh memilikinya"
Gumamku sambil menorehkan senyuman besar dibibir.

Langkah kaki membawa diriku ketepian sungai yang jernih bagai permata itu, segeraku masukan diri kedalam air dan seketika semua beban dan masalah dalam hidup ini mengalir terbawa arus sungai yang tenang.

Tak lama kemudian segerombolan anak-anak berlari dan meloncat masuk kedalam sungai dengan canda gurau mereka.

"Selamat pagi Edward!"
Sapa mereka dengan senyuman termanis yang aku pernah lihat.

"Pagi juga kawan-kawan.."
Kubalas dengan diikuti lambaian tangan kanan ku

Memang semua orang di Sollheim memanggilku dengan 'Edward' tanpa nama belakang karena aku tidak tahu siapa orang tuaku dan dimana mereka.

Lamunanku dibuyarkan oleh anak-anak yang kembali lari kepada ibu mereka bagaikan domba yang bergantung pada induknya. Aku hanya bisa tersenyum perih dan berharap suatu hari nanti aku akan bertemu ataupun hanya sekedar tau siapa orang tuaku.

Kubersiap untuk kembali melangkah, kupakai jubah kulit panjang yang aku buat sendiri, jubah yang begitu indah yang membuat penyihir manapun iri melihatnya,
Dan aku gantungkan kapak panjang dipunggungku yang mata kapak nya aku asah setajam mungkin dan tak dapat dihancurkan.

Kupergi berburu untuk bersiap menghadapi makan malam, puji dewa alam Sollheim dipenuhi dengan berbagai hewan dan tumbuhan yang sangat subur.

Dari kejauhan aku melihat domba gunung dengan ukuran yang besar, kugapai kapak dipunggungku dan.. Kapakku melayang dan tepat mengenai leher domba gunung itu, dan memotongnya bagai pisau panas memotong mentega, itulah hal yang terbaik yang bisa aku lakukan agar domba itu tak terlalu merasakan sakit.

"Nazad!"
Kapakku yang tergeletak di tanah melayang kembali kegenggaman tanganku setelah aku menyebut mantra tersebut.

Segeraku kuliti domba gunung itu dan kusimpan semua daging, kulit, tulang dan tanduknya, karena kelak material ini akan berguna untuk dijadikan alat sihir.

Bintang Aqlion yang menadi penerang utama di alam Sollheim mulai kehilangan cahayanya dan gelap pun mulai menyelimuti alam Sollheim.
Segeraku menuju rumahku yang sangat amat sederhana.

Saat berada dirumah kulihat semua barang tak ada barang yang berubah tempat, dan dia masih tertidur disana.

"Hoy pemalas,bangun!
Aku punya makan malam" ujarku

Sorcerer's and The Six RealmStories to obsess over. Discover now