PROLOG

13 0 0
                                        

Vianca Alaire Sagiv, gadis manis dengan lesung pipit, berambut panjang, tinggi 165cm, berat badan 52kg, berkulit putih, manik matanya berwarna chocolate hazel membuatnya nampak cantik bak bidadari. Putri bungsu keluarga Sagiv yang sudah 10 tahun tinggal di Finlandia menemani neneknya, Danish Aurin Sagiv. Vianca adalah pemilik VA Company yang terkenal di seluruh penjuru dunia dan merupakan perusahaan terbesar kedua setelah Sagiv Group.  Dia juga pendiri sebuah gangster bernama NIGHTMARE yang sangat ditakuti diseluruh dunia. Tidak ada yang tahu akan kedua rahasia besar itu, kecuali Asisten pribadi kepercayaannya David  Afrizal Reynar.

Vian diminta sang ayah, Edgar Helemano Sagiv untuk kembali melanjutkan sekolah di Indonesia sekaligus membantu bisnis Sagiv Group. Edgar tidak mau putri bungsunya tersebut tumbuh dewasa tanpa pengawasannya. Meskipun di Finlandia Vian tinggal bersama neneknya (Mama Edgar), akan tetapi Edgar ingin membesarkan putri kesayangannya itu.

Edgar Helemano Sagiv adalah putra satu-satunya Danish Aurin Sagiv dan Alm. Daniel Omar Sagiv. Edgar menikah dengan Aneila Haifa Sagiv yang merupakan seorang designer cantik dan cerdas yang karyanya sudah terkenal diseluruh dunia. Mereka dikarunia 3 orang putra yang sangat-sangat tampan seperti Edgar, dan seorang putri yang tak kalah cantiknya dengan Ane.

Tristan Azaleel Sagiv, merupakan putra tertua Edgar yang kini sudah mulai mempersiapkan diri untuk menggantikan posisi ayahnya memimpin Sagiv Group. Pria tampan dengan tinggi 183cm, manik mata berwarna hazel, dan tatapan matanya sangat meneduhkan. Tristan merupakan salah satu pria idaman wanita. Sudah tampan, cerdas pula. Tristan sedang menempuh gelar sarjananya di salah satu Universitas terbaik di Singapore.

Yudistira Adyatma Sagiv, putra kedua Edgar yang tengah duduk dibangku kelas 12 di Sagiv International High School. Yudis sangat berbeda dengan kakak dan adiknya, ia adalah seseorang yang mendapati cap sebagai Playboy kelas Kakap. Karena ia yang paing tampan dikeluarga sagiv, dengan tinggi 182cm, kulit putih, hidung mancung, bermata indah dan bulu mata lentik membuat siapapun wanita dapat tertarik melihatnya. "Aku hanya belum menemukan yang tepat," kata Yudis ketika mendapat nasihat dari siapapun.

Maska Athalio Sagiv, Putra ketiga keluarga Sagiv, sang supernova dikalangan kaum hawa, ia tampan, manis, tinggi 180cm, berat 68kg, berkulit putih, manik matanya sama seperti milik Vian, postur tubuhnya sangat ideal. Tetapi sifat Maska sangat dingin dan cuek kecuali dengan keluarganya.Maska masih kelas 11 di Sagiv International High School.

Sagiv Group sendiri sudah berdiri bahkan sebelum Edgar lahir, bahkan kini sudah menjadi perusahaan nomor 1 di dunia. Kini usia Edgar sudah menginjak kepala 5, sudah saatnya putra-putrinya yang melanjutkan bisnis keluarga ini. Untuk itu Edgar mulai mendidik putra-putrinya sejak dini agar siap memimpin Sagiv Grou dan mampu mempertahankan posisi di puncak dunia.

*******

Adisutjipto International Airport

Vian mengedarkan pandangan ke sekeliling jalur kedatangan, kemarin Bunda bilang kak Maska yang akan menjemputnya. "VIAN..." teriak seorang pria berjaket kulit warna coklat dan kacamata gelap sambil melambaikan tangan kearah Vian.

"Welcome back, Princess...." sambutnya sembari memeluk Vian didepan umum.

Hal ini tentu membuat orang-orang disekitarnya merasa iri. Seorang supernova memeluk perempuan yang cantik bak bidadari.

Mereka berjalan kearah parkiran, dimana mobil Maska berada.
"Princess kakak udah gede ya sekarang" goda Maska
"Ya masa Vian kecil terus sih kak?"
"Bagaimana kabar nenek?" tanya Maska
"Nenek sehat, nenek bilang akan menyusul secepatnya ke Jogja kok"

pernyataan tersebut hanya dibalas anggukan oleh Maska. Begitu selesai memasukkan barang-barang Vian di bagasi mobil, mereka segera meninggalkan bandara dan menuju ke Mansion keluarga Sagiv, "Let's go, princess..." pekik Maska.

"Aku ngantuk, kak aku tidur ya..." cicit Vian.

"Silahkan, princess. Nanti kakak bangunkan kalau sudah sampai."

*******

Keadaan Mansion Keluarga Sagiv cukup ramai karena Edgar sengaja tidak berangkat ke kantor dan memilih membawa kerjaannya ke rumah. Bunda Ane juga tidak berangkat ke Boutique, Tristan masih belum masuk semester baru perkuliahan dan Yudis sengaja tidak berangkat ke sekolah hanya demi menanti kepulangan Vianca.

Bunda Ane sibuk menyiapkan makanan kesukaan Vianca dibantu oleh Bi Sari. Papa sibuk mengerjakan tugas kantor yang ia sengaja bawa pulang. Tristan dan Yudis sibuk menonton film di ruang keluarga dan sesekali mereka berteriak.

Tak berselang lama terdengar suara mobil memasuki halaman depan Mansion. Bunda bergegas menuju ruang tamu, "VIAN PULANGG!!!"

"Hush, jangan teriak-teriak, anak perempuan ngga boleh kaya toa gitu" omel Bunda Ane.
"BUNDAAA.... I miss you so much...." VIAN berlari seraya memeluk Bunda tercintanya.
"Bunda juga kangen sama Vi, Vi sekarang sudah dewasa belum? Atau masih manja?" ledek Bunda Ane.
"Princess Ayah sudah dewasa dong, ya" bela Edgar yang tiba-tiba muncul dibelakang Bunda Ane.
"Aaa...Ayah,Vi kangen ayah" Vian ganti memeluk Edgar dan disambut hangat olehnya.
Setelah puas berpelukan, Bunda Ane mengajak Vian untuk makan terlebih dahulu sebelum beristirahat di kamar.

"Kak Tristan sama kak Yudis dimana, Bun?" tanya Vian
"Nonton film di theater room sayang, Maska tolong panggil kakak-kakakmu!"
"Ga usah, Bun, biar Vi aja ya..." pinta Vian yang dismbut dengan anggukan Bunda Ane.
Vian pun segera menuju theater room, sebelum masuk ia mengintip apa yang sedang dilakukan oleh kakak-kakaknya. Vian berjalan mengendap-endap dan mengagetkan kedua kakaknya dengan berbisik lirih di kedua telinganya, "Halloooww", hal itu tentu membuat kedua kakaknya berteriak kencang karena terkejut, ditambah lagi film yang sedang mereka putar adalah film horror.
"AAAAAAAAA...."
"WOY... BERISIK TAU..." Teriak Vian tak kalah kencang, dan sukses membuat kakaknya menengok ke belakang. Dilihatnya Vian yang tersenyum jahil.
"PRINCESS... KAPAN SAMPAI?" tanya kak Tristan sambil melompat dari kursidan segera memeluk Vian.
"Jahil kamu ya..." kata kak Yudis sambil menyentil hidung Vian.
Vian gantian memeluk kak Yudis, "Vi baru aja sampai, tapi kakak ngga ada yang nyambut Vi..." ucap Vian lirih dan muka cemberut yang sukses membuat kedua kakaknya kelabakan. Mereka tidak ingin menyakiti hati adik kesayangannya,
"Maafin kakak, nanti Vi kakak traktir Ice cream deh..." rayu kak Yudis.
"Iya, nanti kakak beliin kamu chocolate..." tambah kak Tristan.

"Beneran ya kak... Awas aja kalau bohong!"

"BENERAN PRINCESS" jawab mereka serempak.

"Ya udah sih kak, jawabnya ngga usah barengan gitu. Yuk makan, udah ditungguin sama Bunda tuh... Vi juga udah laper."

"Ok dek, kakak matiin filmnya dulu. Kamu sama Yudis duluan aja." suruh kak Tristan.

Yudis dan Vian pun bergegas menuju meja makan. Tak berselang lama Kak Tristan muncul, "Waahh... Bunda masaknya banyak sama enak-enak nih..." cerocos Tristan.

"Kan Princess-nya pulang, jadi Bunda masak makanan kesukaan anak-anak Bunda." jawab Bunda Ane dengan lembut.

Mereka semua pun menikmati hidangan makan siang tersebut dengan sedikit obrolan kecil. Sudah lama sekali keluarga mereka tidak bisa berkumpul seperti ini.

"Vian, nanti malam Ayah mau bicara sama kamu, ya. Sekarang kamu habiskan makananmu dan istirahatlah." tutur Edgar.

"Siap, kapten."

"Makan yang banyak, dek. Biar kau berisi sedikit... hahaha" cicit Yudis.

"Apa sih kak, aku sudah gemukan ini."

"Sudah, segera habiskan makanan kalian. Dan biarkan adikmu beristirahat." titah Edgar.

Вы достигли последней опубликованной части.

⏰ Последнее обновление: Feb 28, 2019 ⏰

Добавьте историю в свою библиотеку, чтобы получать уведомления о новых частях!

VStories to obsess over. Discover now